🌙ㅣ5. Jemputan

58.4K 9.1K 177
                                    

''Kehidupan tidak memaksa.
Hanya saja, terkadang kita yang terlalu memaksakan''

Hanya saja, terkadang kita yang terlalu memaksakan''

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lima hari bolos, kemana aja Lun?!"

Rembulan mencengkram erat rok seragamnya, Syaila dan teman-temannya datang lagi setelah selama lima hari ini Rembulan tidak bertemu dengan mereka.

Lima hari, Rembulan memang izin dari sekolah karena pernikahan mamanya dan Anggara, dan setelahnya Rembulan butuh istirahat karena tidak kuat sekolah. Sepertinya tubuh Rembulan tidak terbiasa jika harus berdiri di tempat yang sama dan menyambut para tamu undangan. Tulang belulang Rembulan pun rasanya sudah remuk.

Sekarang Rembulan sudah baikan, sudah saatnya juga Rembulan ke sekolah.

Tentang pernikahan mamanya, di sekolah ini tidak ada yang tahu. Rembulan melihat berita di televisi pun tidak ada yang membahas tentang pernikahan pebisnis besar itu, padahal biasanya keluarga itu yang selalu muncul di televisi pertama kali. Entahlah, mungkin memang pernikahannya tidak membuat mereka penasaran.

Tiba-tiba, kedua pipi Rembulan dicengkram erat. "Ditanya tuh jawab!!" bentak Ghea.

"M-maaf kak." Rembulan meringis, pipinya terasa panas.

"Maaf gak ada gunanya, mendingan lo kerja lagi! Enak banget libur lima hari!" Tiara menyimpan setumpuk buku pada meja Rembulan, menyingkirkan semua barang Rembulan membuat semuanya berjatuhan ke lantai.

"KERJAIN! PAHAM GAK?!"

Rembulan mengangguk cepat.

"JANGAN ADA YANG SALAAH!!"

Rembulan kembali mengangguk, tangannya yang bergetar langsung meraih buku-buku itu dan membukanya, memeriksa setiap soal yang akan di kerjakan. Sementara Syaila dan teman-temannya itu melenggang keluar, meninggalkan kesibukan Rembulan di dalam kelas.

"ISTIRAHAT BERES!!" teriak Syaila dari ambang pintu.

Rembulan mengangguk lagi dan lagi, seiringan dengan air matanya yang menetes perlahan ke pipinya. Rembulan langsung menghapusnya pelan, ia tidak mau menangis karena seharusnya ia masih bahagia atas pernikahan mamanya.

Namun, soal di depannya malah semakin membuat Rembulan ingin menangis. Ini soal kelas dua belas, Rembulan belum belajar sama sekali. Rembulan baru juga sampai matriks, lalu ini apa?

Kadang, Rembulan selalu memaksakan dirinya belajar materi kakak kelasnya karena hal ini. Walaupun ini sangat merepotkan, tapi Rembulan tidak mau tambah merepotkan dirinya sendiri jika akhirnya ia akan disiram oleh air bekas pel atau dikurung di gudang lagi. Lebih baik Rembulan mencari jalan aman saja dibanding jalan yang menyakitkan. 

Walaupun sebenarnya, kedua-duanya itu sangat menyakitkan.

- 4B -

Rembulan turun di halte biasanya. Hari ini ia pulang sore lagi karena berkumpul terlebih dahulu di gudang sekolah dengan Bela dan juga yang lain. Hari ini ia tidak mencari masalah, Rembulan pun mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, hanya saja rasanya tidak enak jika Rembulan tidak mampir ke sana padahal mereka sudah baik pada Rembulan.

Langkah kaki Rembulan terhenti di depan pagar rumahnya, ia melihat pintu rumah terbuka. Tidak biasa Rembulan saksikan, tapi sekarang ia harus membiasakan diri. Ibu—eh mamanya tidak bekerja lagi semenjak seminggu lalu, jadi beliau pasti akan selalu berada di rumah, termasuk sekarang.

Awalnya Rembulan biasa-biasa saja, sampai akhirnya ia dibuat heran melihat sepatu pantofel hitam mengkilat di teras rumah. Sepertinya ada tamu, apa mungkin papanya? Katanya sih, Papanya tinggal di luar negeri dan seminggu lalu beliau pindah ke Indonesia tepat saat pernikahannya dengan Laila.

"Bulan?"

Rembulan mendongak menatap siapa yang memanggil. Seketika jantungnya berdetak cepat. Terkejut sekali melihat lelaki tampan keluar dari rumahnya. Sungguh, Rembulan jadi merasa aneh sendiri.

Tidak cocok lelaki setampan itu keluar dari rumah burik ini.

"Kak Rion?" Rembulan menghampiri, ia mengulurkan tangannya hendak menyalami lelaki yang lebih tua darinya itu.

Tapi bukannya menerima uluran tangan Rembulan, Alderion malah merangkul Rembulan dan mendorongnya masuk ke dalam, memperlihatkan Laila dan juga Anggara yang sedang duduk di ruang tamu, lengkap dengan dua koper yang diletakan di samping kursi.

"Bulan? Kangen papa enggak?" Anggara tersenyum lebar melihat Rembulan, ia berdiri dari duduknya dan menghampiri gadis yang tengah gugup itu.

Rembulan menggaruk tengkuk, ia belum pernah merasakan apa itu rindu selain pada ayahnya yang sudah meninggalkannya sejak lama.

"Mau peluk papa gak?" Anggara mencolek hidung Rembulan, lalu tersenyum ramah. Sekarang Rembulan tahu dari mana asal senyuman hangat yang selalu Alderion tampilkan.

Rembulan hanya menunduk, tapi kemudian ia menabrakan dirinya dan memeluk Anggara dengan cepat membuat Anggara terkejut. Ah, apakah rasanya seperti ini jika Rembulan memeluk ayahnya?

Anggara terkekeh, ia mengelus kepala Rembulan dengan lembut lalu balas memeluknya.

"Bulan, mulai sekarang kita pindah ya?"

"Pindah?" Rembulan bergumam, ia sedikit melonggarkan pelukannya lalu menatap Anggara penuh tanya.

"Iya, kita ke sini buat jemput kalian. Mulai sekarang kita harus tinggal satu rumah, betul gak Rion?" Anggara menoleh pada putra sulungnya yang sedang mengobrol dengan Laila, lalu Alderion pun mengangguk menanggapi.

"Biar Bulan ketemu sama saudara Bulan yang lain," ucap Alderion semangat.

Rembulan tidak tahu jika ia harus meninggalkan rumahnya seperti ini. Jadinya ia menatap mamanya yang langsung dibalas senyuman dan anggukan pelan. Rembulan tidak bisa menolak walaupun ia masih ingin berada di sini, jadinya Rembulan mengangguk dan tersenyum tipis membuat Anggara kembali memeluknya.

Rumah baru. Rembulan hanya bisa menaruh harapan pada rumah barunya sekarang. Semoga, semoga, semoga, dan semoga. Ia harap banyak hal baik di banding hal buruk setelah Rembulan mengambil keputusan ini.

- to be continue -

4 Brother'z [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang