16. Bolos

68 57 74
                                    

"Gue pulang duluan ya, Di! Jumpa besok lagi!" pamitnya lalu beranjak pergi ke luar, ia naik ke motor yang sama di mana Deden tumpangi.


Airin berdecak kesal, papan skeatnya ia titipkan di sebuah warung dekat sekolahnya, lalu bagaimana sekarang? Naik angkot pun bagaimana mau membayar, jalan kaki? Lututnya perih, ingin mengabari Abangnya namun ia mengurungkan niatnya.

Matanya mengitari beberapa siswa yang jelas sekali bukan dari sekolahnya, ia membuang nafasnya kasar.

Ia memutarkan bola matanya malas, otak kecilnya terus berputar mencari jalan keluar.

Gesa yang melihat Airin hanya diam dengan pikirannya, mencoba untuk bertanya, "Lo gak mau pulang? Betah banget ya ada cogan kayak gue," celutuknya.

Airin memutar bola matanya malas.

Kakinya ia gerakan ke kanan kiri, dia menatap satu persatu yang menatapnya gemas, dia menatap mereka semua tajam.

"Lo beneran gak mau pulang? Atau ... lo mau pulang sama gue, tapi lo gengsi mau ngomong?"

"Dih, pede!" Airin mendengus.

"Sapa tau lo beneran mau gue anterin," Airin hanya melirik tanpa minat.

Jika disuruh memilih jalan kaki atau naik motor, jelas sekali ia akan memilih untuk jalan kaki, dia sangat takut dengan yang namanya naik motor, ia takut terjatuh, apalagi jika yang membawa motor itu dengan kecepatan tinggi, ia akan kalang kabut.

Dulu sewaktu masih ada Akhis, pernah sesekali ia membonceng, namun ia selalu mewanti-wanti untuk berlaju pelan dan hati-hati dengan sekitar.

"Mending gue jalan kaki!" sengitnya menatap tajam.

"Sadar diri, lutut kayak gitu mau jalan. Udah gitu badan kayak triplek. Gak kerasa? Angin gede banget, yang ada lo kebawa ntar," ledeknya.

Dia enggan untuk meladeni, dia masih senantiasa berpikir, jam sudah menunjukkan angka empat lebih, ia yakin salah satu Abangnya sudah standby di rumah.

"Lo mikirin apa sebenernya?" heran Gesa masih terus bertanya.

"Lo mending diem," ujarnya berseru.

"Mampus lo, Sa! Cintaku bertepuk sebelah tangan," cerca Anggit tertawa lebar.

"Asek-asek, kau buat remuk seluruh hatiku!" sahut laki-laki berjambul klimis.

"Semoga waktu akan mengilhami," sambung mereka bersamaan dengan tangannya yang tak tinggal diam.

Riuh piuh mereka yang saling bersahutan lagu zaman dulu, dimana terkenal saat mereka masih di masa SD.

Suara yang dihasilkan dari ketukan tangan mereka tak terlalu mengacau, nadanya sangat pas. "Sisi hatimu yang beku," saut mereka.

"Semoga akan datang keajaiban, hingga akhirnya kau pun mau, asek-asek jos!"

"Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, meski kau takkan pernah tahu," sambung Gesa ikut bernyanyi.

Tawa mereka pecah melihat tingkah laku satu sama lain.

Airin berdecak, ia bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja. Dia berjalan tertatih karena lututnya yang masih lumayan perih.

Sudut Rasa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang