52. Tinggal Tiga Hari Saja!

2.2K 52 0
                                    

Melihat Pek-bi-siu turun tangan, terpaksa Thian-hi harus mengadu jiwa, namun pertarungan ini menang atau kalah untuk selanjutnya terang dirinya tidak akan bisa menetap lama lagi diwilajah ini. Kecuali ia bunuh kedua orang ini supaya tutup mulut dan rahasia tidak diketahui umum! 

Seiring dengan jalan pikirannya ini, ia membalik sebuah tangannya menyambut pukulan orang, menggunakan daya pental kekuatan benturan pukulan itu tubuhnya mencelat terbang ke samping terus berkelebat menyingkir, maksudnya mau tinggal merat saja.

Dilain pihak Giok-hou-sian sudah bersiaga di luar gelanggang sudah tentu ia tidak mandah membiarkan Thian-hi melarikan diri begitu saja, segera tubuhnya mencelat terbang, sebelah tangannya menindih ke atas kepala Thian-hi dengan pukulan berat.

Cepat-cepat Thian-hi menyedot hawa, sekonyong-konyong badannya terbang jumpalitan di tengah udara, badannya mumbul lebih tinggi, lolos dari serangan lawan.

Pek-bi-siu menjadi murka serunya, "Jangan harap hari ini kau dapat lolos?" ~ Sembari mengancam tubuhnya ikut melesat tinggi mengejar, kedua telapak tangannya didorong keluar memukul dari jarak jauh dengan setaker tenaganya.

Begitu mendengar kesiur angin pukulan musuh yang dahsyat ini terkejut Thian-hi. Kepandaian Pek-bi-siu memang tidak rendah, kecuali Si-gwa-sam-mo, mungkin tokoh-tokoh macam Si Tua Pelita pun tidak akan lebih ungkulan dibanding mereka berdua ini.

Untung Thian-hi membekal latihan Pan-yok-hian-kang, Lwekangnya maju pesat berlipat ganda. Untuk menang dari keroyokan kedua orang ini memang tidak mudah, kalau untuk meloloskan diri saja cukup berkelebihan segampang membalikkan telapak tangan.

Begitu melihat serangan dahsyat yang menerpa tiba ini, Thian-hi memutar balik kedua telapak tangannya terjulur maju, kekuatan Pan-yok-hian-kang terkerahkan penuh, memukul balik ke arah serangan musuh.

Pek-bi-siu menjadi geram, pikirnya, "Bukankah kau cari mati ini?" Kontan ia kerahkan seluruh kekuatannya terus memapak maju secara kekerasan. "Blang!" kekuatan pukulan sama bentur di tengah udara, menimbulkan gelombang angin yang menderu laksana angin topan, batu pasir beterbangan. Tampak tubuh Thian-hi terpental terbang ke belakang, sementara Pek-bi-siu melorot jatuh mentah-mentah terus sempoyongan beberapa langkah, setelah berdiri tegak mulut terpentang terus menyemprotkan darah segar.

Masih untung baginya karena Thian-hi rada memberi kelonggaran padanya, kalau tidak mungkin luka-luka yang dideritanya bakal lebih berat. Melihat Pek-bi-siu kalah dan terluka, sungguh kejut dan heran pula Giok-hou-sian, cukup sekali pukul pemuda yang masih bau pupuk bawang ini berhasil melukai Pek-bi-siu, lwekang sendiri setingkat lebih rendah dari saudaranya jelas diri sendiri jauh bukan lawannya.

Namun betapapun ia tidak rela membiarkan Thian-hi tinggal pergi begitu saja. Dengan menghardik keras ia terbang mengejar, namun jaraknya sudah setengah lie ketinggalan oleh Thian-hi, tampak tubuh Thian-hi melesat turun seperti meteor jatuh secepat kilat. Sungguh murka bukan kepalang hatinya, namun apa yang dapat dilakukan?

Sungguh Thian-hi merasa girang bukan kepalang, siapa nyana sekali pukul ia berhasil membuat Pek-bi-siu terluka parah, kini dapat membebaskan diri lagi dari kecokan mereka, namun demikian hatinya rada was-was pula, mungkin musuh terlalu pandang ringan dirinya, selanjutnya bagaimana untuk menghadapi kericuhan ini?

Thian-bi-siang-kiam jelas sudah mengetahui bahwa dirinya datang dari Tionggoan, soal ini bakal menimbulkan keonaran di seluruh negeri kecil ini, mungkin tiada tempat berpijak lagi dalam wilajah Thian-bi-kok bagi dirinya.

Tengah pikirannya melayang, sementara kakinya masih berlari kencang secepat anak panah. sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar petikan irama kecapi. Kontan berubah air muka Thian-hi, itulah irama kekal abadi, tempo hari ia pernah dengar lagu ini, namun orang yang memetik harpa kali ini jauh lebih pandai iramanya juga lebih mantap, jelas bukan petikan Ma Gwat-sian, jika bukan Ma Gwat-sian tentu gurunyalah yang sudah kembali. Dan yang lebih menguatirkan justru Wi-thian-chit-ciat-sek belum lagi sempurna dilatih olehnya

Badik Buntung - Chin TungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang