26. Jago Nomor Satu Dari Kalangan Sesat

2.6K 45 5
                                    

Hun Thian-hi berpeluk tangan menonton, tahu dia bahwa Su Giok-lan bakal kalah, namun dia tak kuasa maju membantu. Gwat Long dan Sing Poh selalu mengawasi gerak geriknya dari samping.

Serangan Cukat Tam semakin gencar dan cepat, terdengar ia menjengek dingin, "Dengan kepandaian bekalmu ini berani kau mengudal mulut. Betapa pun hari ini aku harus hajar kau. Supaya matamu melek betapa besar dunia ini, bukan gurumu melulu yang tinggi kepandaiannya."

Karena bicara gerak serangan Cukat Tam sedikit lamban, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Su Giok-lan, sambil mengertak gigi, pedangnya berputar setengah lingkaran terus menusuk ke lambung Cukat Tam. Tapi gerakan Cukat Tam cukup cepat, kecepatannya sungguh di luar perhitungannya, belum lagi ia berhasil menyelesaikan serangan pedangnya, tahu-tahu ulu hatinya sudah terancam oleh kepalan lawan, terpaksa ia selamatkan diri lebih dulu.

Hun Thian-hi insaf kalau Su Giok-lan kalah pasti dirinya ikut terhina, otaknya jadi berpikir dan menerawang, mendadak sebat sekali ia melejit jauh terus lari sekencangnya ke depan.

Mendadak melihat Thian-hi melarikan diri sungguh Gwat Long dan Sing Poh terkejut, "Lari kemana!" sambil membentak berbareng mereka mengejar.

Tanpa hiraukan teriakan orang Hun Thian-hi berlari semakin kencang.

Melihat Hun Thian-hi melarikan diri, Cukat Tam menjadi gugup. Tanpa hiraukan Su Giok-lan lagi dia pun menghardik keras, suaranya melengking tinggi seiring dengan tubuhnya yang melenting jauh mengejar ke arah Hun Thian-hi.

Bagi Su Giok-lan larinya Hun Thian-hi dianggap sebagai perbuatan pengecut yang membalas air susu dengan air tuba. Dia melarikan diri tanpa hiraukan dirinya lagi, saking murka air mata mengembeng dikelopak matanya, dengan gemas ia menyentak keras, tiba-tiba pedangnya bergulung balik, dengan jurus Sing-gwat-cin-hwi, bayangan pedang terpecah kedua jurusan langsung menusuk ke arah dua sasaran di tubuh Cukat Tam.

Mendengar samberan angin deras yang mengancam jiwa ini. Cukat Tam menjadi naik darah, sambil menggembor keras ia membalik tubuh, telapak tangannya bergoyang menghantam balik batang pedang Su Giok-lan. Sementara tubuhnya masih melayang ke depan terus meluncur ke arah Thian-hi.

Sun Giok-lan tahu dengan bekal Ginkangnya sekarang takkan mungkin dapat mengejar, terpaksa ia berdiri menjublek di tempatnya.

Sementara itu, Hun Thian-hi lari terus ke bawah, ia belok ke timur lalu balik lagi ke arah barat, darinya pontang panting, namun kira-kira setengah lie kemudian ia sudah terkejar oleh Cukat Tam. Ringan sekali tubuh Cukat Tam meluncur turun dihadapan Hun Thian-hi, dengan pandangan mendelik ia awasi Hun Thian-hi.

Melihat takkan berhasil lolos, Thian-hi berpaling ke belakang, dilihatnya Gwat Long dan Sing Poh juga sudah menyusul tiba. Su Giok-lan tak kelihatan bayangannya, tanpa merasa ia menghela napas lega.

"Berani kau lari!" maki Cukat Tam gusar.

Hun Thian-hi mandah tertawa ewa tanpa buka suara.

Cukat Tam berludah, katanya kepada Gwat Long berdua, "Kalian ringkus dia dan gusur kembali ke Bu-tong-san!"

Baru sadia suara Cukat Tam lenyap, dari hutan sebelah sana terdengar sebuah suara berkata, "Apakah begitu gampang? Kau belum minta izin padaku bukan?"

Kontan mereka berempat terperanjat, Cukat Tam menggerung gusar, teriaknya lantang, "Siapa itu di dalam hutan!"

Seorang tua berambut merah melayang keluar. Bercekat hati Thian-hi, bagaimana mungkin dia kemari? Demikian dalam hati ia bertanya-tanya.

Cukat Tam tertawa dingin, ujarnya, "Kiranya kau. Sejak berpisah tigapuluh tahun yang lalu, tak kira masih hidup?"

Badik Buntung - Chin TungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang