Hijrah itu bukan hanya untuk menata hati yang telah rapuh tapi juga untuk memperbaiki diri agar lebih baik dari sebelumnya.
_
___________________________________
Happy Reading..
.
.
.
Pov Abizar
Aku terbangun dari tidur lelap yang terasa begitu singkat. Nafasku masih sedikit berat ketika mataku perlahan menyesuaikan diri dengan gelapnya kamar. Tanganku meraba meja kecil di samping tempat tidur dan menyalakan lampu redup, lalu melirik jam.
Pukul dua pagi.
Aku menghela napas pelan.
Lagi-lagi… mimpi itu.
Mimpi tentang sosok yang sama.
Sosok yang pernah begitu aku kagumi di masa lalu. Entah kenapa, hampir setiap malam wajah itu selalu hadir di dalam tidurku, seolah ingin mengingatkanku pada sesuatu yang sudah lama berlalu.
Padahal… sudah lima tahun aku tidak pernah bertemu dengannya.
Lima tahun sejak Abi dan Umi memasukkanku ke pondok pesantren.
Aku mengusap wajahku pelan, mencoba menepis bayangan itu dari pikiranku. Tidak ada gunanya terus memikirkan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apakah masih mungkin untuk kutemui lagi.
Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Air wudhu yang menyentuh kulitku terasa begitu dingin, namun sekaligus menenangkan. Setelah itu aku berdiri menghadap kiblat.
Malam ini aku kembali menunaikan shalat tahajud.
Dalam sujud panjangku, aku memanjatkan doa dengan lirih.
“Ya Allah… jika memang dia baik untukku, dekatkanlah kami kembali. Dan jika tidak, maka jauhkanlah perasaan ini dari hatiku.”
Setelah selesai berdoa, aku mengambil mushaf Al-Qur’an di meja kecil dekat sajadahku. Aku mulai membaca ayat demi ayat sambil menunggu waktu subuh.
Setidaknya itulah yang selalu Abi ajarkan kepadaku sejak kecil, mengisi malam dengan ibadah, bukan dengan kegelisahan.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu memecah keheningan rumah.
“Abizar, ayo kita ke masjid, Nak!”
Itu suara Abi.
Aku segera menutup mushafku.
“Iya, Bi,” jawabku.
Aku berdiri, lalu keluar dari kamar dan berjalan bersama Abi menuju masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Udara subuh terasa sejuk. Jalanan masih sepi, hanya beberapa orang yang berjalan menuju arah yang sama dengan kami.
Sesampainya di masjid, beberapa orang tampak memperhatikanku dengan tatapan asing.
Mungkin mereka tidak mengenaliku lagi.
Maklum saja, sudah lima tahun aku berada di pondok pesantren. Selama itu pula aku jarang pulang ke kampung.
“Ini siapa, Ustad Zakariya?”
Seorang bapak-bapak yang baru datang ke masjid bertanya sambil menatapku penuh rasa penasaran.
Abi tersenyum ramah.
Beliau menepuk pundakku lalu berkata, “Oh ini, kenalkan. Anak saya. Namanya Abizar.”
Aku langsung menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk hormat, lalu menjabat tangan bapak itu.
YOU ARE READING
Biarlah Takdir Yang Menentukan (Tamat )
SpiritualRank #1 islami (Romance-spiritual) Bagaimana jadinya jika Setelah lama tidak bertemu dan dia meninggalkanmu pergi ke pesantren, kemudian kamu di pertemukan lagi dengan dia dengan cara perjodohan. "Jika memang dia bukan di takdirkan untukku ma...
