-2-

3.1K 171 11
                                    

°Ann°

15 menit perjalanan kami tempuh dengan mobil yang dikendarai papa menuju SMA Trinity Abadi.

Pemandangan pertama yang kami lihat adalah pagar hitam mengkilat yang menjulang tinggi, dan dibelakangnya terdapat jalan setapak berkelok tanpa ujung yang dikelilingi beberapa tumbuhan hijau lebat.

Ketika mobil kami hampir mendekati pagar hitam tersebut, pagar itu bergerak membuka.

Ada radarnya yak? Otomatis nih ceritanya? Wow...

Mobil kami pun melaju menyusuri jalan setapak tersebut.

Sekitar 60 meter melaju, mulailah nampak gedung sekolah baruku--sepertinya--, yang terlihat ehm...besar.

5 tingkat yang dilapisi cat berwarna putih bersih tanpa noda yang menempel, serta beberapa jendela besar yang sedikit menampilkan ruangan yang bersembunyi dibaliknya.

Oke... Kesan pertama gue buat sekolah ini "keren".

"Here we are... Kalian boleh turun, kita sudah sampai", ucap papa mengganggu acara kaget ku dan Gantha.

"Pa... Ini.. Sekolah baru kita?", tanya Gantha.

"Yes..."

"Pa, aku mau tanya... Berapa uang masuk yang papa bayar? Berapa uang sekolah yang harus papa keluarin setiap bulan untuk bayar uang sekolah aku dan Gantha?? ", tanya ku pada papa dengan nada yang sedikit tegas.

"Ann... Gantha... Buat papa uang bisa dicari, nak. Tapi, masa depan kalian harus dirancang mulai dari sekarang. Mungkin pelajaran disekolah lain sama, tapi pergaulan belum tentu sama, nak... Papa harap, dengan papa menyekolahkan kalian disini, kalian dapat memilah pergaulan mana yang baik, mana yang buruk", tutur papa.

"Pa... Thank You... I love you, pa", ucapku pada papa sambil memeluk papa.

"Sama-sama, sweetheart... ", balas papa.

"Eh... Gue ikutan dong", seru Gantha.

"Hahaha... Come here, my son", ucap papa sembari merangkul Gantha. Yap merangkul, karena papa susah meluknya, 'kan papa pake seatbelt.

"Well... Sekarang kalian turun, dan pasang senyum terbaik. Ingat, didalam sana banyak orang, jaga sopan santun dan etika.", kata papa.

"Yes, sir!! ", ucapku dan Gantha bersamaan.

"Ohh... Setelah itu, kalian pergi ke Ruang Kepala Sekolah, ya...  ", kata papa.

***

Setelah mobil papa menghilang dari pandangan, aku dan Gantha segera merapikan seragam kami.
Kemudian, kami pergi menuju Ruang Kepala Sekolah.

Satu hal yang sangat disayangkan, dan mencerminkan sikap 'bodoh' kami berdua, kami tidak berani menanyakan dimana letak Ruang Kepala Sekolah yang tidak kami ketahui letaknya. Bahkan, kepada petugas kebersihan sekalipun.

Sudah kubilang 'kan sebelumnya, sekolah baruku ini besar. Tidak. Sangat besar.

'Petualangan' kami berakhir ketika ada seseorang berseru kepada kami dan kemudian berlari menepuk pundak Gantha.
"Astaga... Kenapa kalian bisa ada disini? Seharusnya kalian berada di Ruang Kepala Sekolah! ", kata laki-laki tersebut. Yap, laki-laki. Orang--tepatnya siswa-- yang sedang berbicara kepada kami adalah seorang anak cowok.

"Maaf sebelumnya, tapi kami tidak mengetahui dimana letak Ruang Kepala Sekolah. ", kata ku pada cowok tersebut.

"Ohh begitu... Wajar saja, kalian anak baru 'kan? Saya juga mengalami hal yang serupa ketika pertama kali MOS disini. ", tuturnya.

Remember? Where stories live. Discover now