Bagian 17

57.7K 2.7K 120
                                    

Part ini mungkin datar, tapi semoga kalian masih terhibur yaaa:)) Selamat tahun baru, haha telat gak papa yaaa:)) Happy Reading..

Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali. Tanpa membangunkan Bimo. Aku menyibukan diri di dapur membantu Mbak Asih memasak.

Moodku hari ini cukup baik. Bahkan sangat baik, entahlah meskipun aku masih memikirkan masalah yang sekarang sedang dialami perusahaan, tapi aku tidak mau ambil pusing semuanya. Dan keadaan seperti ini yang aku perlukan. Tidak banyak pikiran dan selalu berpikir positif pada hal apapun. Karena dengan begitu, semuanya akan terasa lebih mudah.

Sambil bersenandung aku membolak-balik masakanku. Tak memperdulikan mbak Asih yang sesekali melirikku penasaran.

"Sepertinya sedang bahagia pagi ini non?" gumam mbak Asih akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya.

"Tidak mbak, mood lagi baik aja," jawabku tersenyum. "Apalagi mbak yang dimasukin?"

"Itu langsung masukin dagingnya saja, Non." Akupun langsung memasukan daging yang sudah direbus terlebih dahulu.

Tepat jam tujuh pagi, semua masakan sudah siap dihidangkan. Aku mengelap piring-piring sebelum aku menyimpannya di meja. Sedang, mbak Asih menyimpan masakan yang sejak tadi kami buat.

Sayup-sayup aku mendengar suara Bimo dari dalam rumah. Aku menyimpan piring terakhir lalu bergegas melangkah ke dalam rumah. Aku kaget saat Bimo tampak sedang marah-marah pada Bagas yang tampak bingung.

Aku menepuk jidatku mengingat sesuatu. Ya ampun, aku belum bilang kalau Bagas menginap disini. Aku segera lari menghampiri Bimo yang hendak menyeret Bagas keluar rumah.

"Mas, hentikan!" Aku menarik lengan Bimo. Bimo menghentikan langkahnya dan mematapku bingung. Dan Bagas tampak mencoba melepaskan diri dari cengkraman Bimo.

"Ada apa? Rumah kita kemasukan maling, mana ngaku-ngaku lagi kalau dia sepupu kamu. Memangnya kamu kenal dia?"

"Hei, apa tampangku seperti seorang maling. Ve, ayo jelaskan. Aku benar-benar sepupunya. Venuce ayo jelaskan," sela Bagas protes di tuduh maling.

"Tampangmu memang seperti maling. Dan kalau memang kamu sepupu istriku, dia pasti meminta ijin terlebih dahulu."

"Ya mana kutahu, yang pasti aku sudah di ijinkan untuk menginap disini beberapa hari." Mataku mengikuti setiap orang yang berbicara. Lalu aku berdiri di antara mereka.

"Stop!" ujarku menginterupsi dua pria yang saling berdebat itu. "Mas, maaf sebelumnya aku lupa memberitahumu. Kenalkan ini Bagas." Aku menyingkir berdiri di samping Bagas. Lalu melingkarkan lengannku pada lengan Bagas. "Dia anak dari tanteku. Semalam sebenarnya aku mau memberitahu tapi aku lupa, Bagas akan menginap disini beberapa hari. Paspor nya hilang, jadi mungkin dia akan menginap disini beberapa hari," jelasku panjang. Bimo tampak mengernyit mendengar penjelasanku. Dan Bagas memasang senyum kemenangan. "Tidak pa-pa kan kalau Bagas tinggal beberapa hari?" tanyaku Ragu.

Bimo menatapku lalu mengalihkan pandangannya pada Bagas di sampingku. Lalu dia menarik lenganku yang melingkar di lengan Bagas dengan kasar. Membuatku kaget dan menatapnya bingung. "Hm... boleh, tapi tidak lebih dari tiga hari saja," gumam Bimo dingin lalu menatap Bagas dengan tatapan tidak suka. "Dan jangan dekat-dekat dengan isteri-ku!!" tukasnya lalu menarik tanganku ke ruang makan.

Bibirku mengulum senyum. Terkikik geli melihat tingkah Bimo barusan. Sepertinya Bimo tidak suka aku berdekatan dengan Bagas, "kenapa ketawa-ketawa?" Bimo menoleh menatapku yang berjalan di belakangnya.

"Tidak, kakak cemburu ya?" tanyaku menatapnya menggoda.

"Cemburu? Sama siapa? Pria tadi? Tentu saja tidak. Untuk apa cemburu, dia 'kan sepupumu." Bimo mengelak. Aku melangkah mengejar langkahnya. Lalu berdiri di hadapan Bimo yang menatapku heran.

My Last Happiness (TELAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang