11. Hukuman

1.8K 193 12
                                    

Pagi ini waktu sudah menunjukkan pukul 06.55 yang berarti gerbang sekolah akan ditutup 5 menit lagi, namun Senja masih saja bergelung dalam selimut.

Perlahan Senja membuka matanya ketika sinar matahari mengenai wajahnya, ia mengerjapkan matanya sambil melirik ke arah jam yang ada didinding kamar, Senja melotot kaget melihat jam yang sekarang menunjukkan pukul 06.55, ia menyesali tidurnya yang terlalu lelap membuatnya jadi lupa waktu. Buru buru ia mandi lalu memakai seragam sekolahnya tanpa sarapan terlebih dahulu ia langsung berlari keluar rumah mengambil motornya dan mengendarainya agar cepat sampai kesekolah.

Hari ini nasib Senja benar benar buruk, sudah telat bangun dan sekarang ia malah terjebak macet dijalanan. Senja benar benar menyesali tidurnya kali ini.

"Aduh pake macet segala sih," ucapnya dengan gelisah.

Tin... Tin.. Tin..
Suara klakson pengendara lain membuat Senja menjadi kesal sendiri, terlalu berisik ia tak suka itu. Benar benar hari yang buruk, pikirnya.

Akhirnya setelah 15 menit terjebak macet, Senja sampai juga disekolah. Namun tetap saja ia gak bisa masuk, karena gerbang sudah ditutup.

"Pak bukain gerbang nya dong pak, saya mau masuk ke kelas mau belajar," ucapnya menatap satpam itu.

"Bapak bukain gerbang nya tapi nanti neng menghadap ke guru BK, biar kesalahan yang neng lakuin sekarang bisa dapet hukuman nya juga. Supaya adil dan gak bakal ngulangin lagi," ucap satpam itu dari dalam gerbang.

"Iya pak, nanti saya bakal menghadap ke guru BK buat minta hukuman kok," jawab Senja dengan serius.

Satpam itu membuka gerbang untuk Senja, membuat Senja yang melihat itu menjadi senang, ia pun masuk kedalam gerbang lalu salim kepada bapak satpam itu, setelah itu melangkahkan kaki nya ke ruang BK.

Tok.. Tok.. Tok..
Senja mengetuk pintu ruang BK terlebih dahulu sebelum masuk kedalam

"Permisi bu, saya mau minta hukuman soalnya saya dateng telat ke sekolah gara gara dijalan macet bu," ucap Senja pada Bu Kasih guru BK.

"Yaudah, kamu hormat bendera dilapangan sampai jam istirahat aja ya," ucap Bu Kasih.

Senja tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu ia permisi keluar dan berjalan ke arah lapangan untuk melaksanakan hukuman.

Senja mengelap keringat yang mengucur dari dahinya, hari sudah semakin siang membuat matahari menjadi sangat panas. Kepala Senja sedikit pusing karena terlalu lama berdiri di bawah teriknya matahari ditambah lagi ia belum makan apapun sejak pagi tadi.

Naresh yang ingin pergi ke kamar mandi mengehentikan langkah nya sejenak melihat Senja yang tengah berdiri dilapangan itu. Naresh berjalan menghampiri Senja yang terlihat pucat, ia menjadi khawatir dengan kondisi Senja sekarang.

"Lo duduk aja ditempat yang adem, biar gue gantiin hukuman lo," ucap Naresh sambil menutupi kepala Senja dengan telapak tangannya agar tidak terlalu panas.

Senja yang mendengar itu menoleh, lalu menggelengkan kepalanya.

"Gapapa, lagian yang dihukum gue. Berarti yang harus ngelaksanain hukuman nya itu gue bukan lo," ucapnya pada Naresh.

"Muka lo pucat, lo duduk aja. Jangan nolak jangan ngebantah," ucap Naresh dengan nada yang tak bisa dibantah.

Senja tetap pada pendiriannya, ia harus melaksanakan hukuman. Ia tetap berdiri dilapangan tanpa beranjak sedikitpun, membuat Naresh yang melihat nya menjadi geleng geleng kepala.

Naresh menggendong tubuh Senja dengan tiba tiba dan membawanya pergi ke kelas, membuat Senja yang berada digendongannya menjadi kaget dan memberontak minta diturunkan.

SENJALUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang