My Teacher is My Husband

By marsitasindi

654K 17.6K 327

Bagai mana Rafailah Inayah Ulfah yang masih berstatus sebagai pelajar, bisa menikah dengan laki-laki bernam... More

part 1
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
part 7
part 8
part 9
part 10
part 11
part 12.
part 13
part 14
part 15
part 16
part 17
part 18
part 19
part 21 (ican day🎂)
part 22
part 23
part 24
part 25▫😱
part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
part 32
part 33
part 34
Part-35
Part 36
🙌
Part 37
Announcement
announcement
part 38
Part 39
Part 40
PART 41
Next Project
PART 42
PART 43
Part 44
PART 45
46
Part 47

part 20😘

13.2K 315 3
By marsitasindi

"Ara, Pak David mencarimu."

Ara menoleh dari alat tulis yang sedang dia bersihkan. Kepalanya melongok dan pria itu melambai dari luar dengan satu tangan sibuk memegangi ponsel yang menempel di telinga.

"Ayo." ajak David tanpa basa-basi setelah Ara berada di hadapannya.

"Aku sedang ada tugas kelompok, jika ingin bicara disini saja." gadis itu mencoba menjawab dengan nada biasa saja, meski yang terjadi sebaliknya. Dia hanya bersyukur, setidaknya pria ini masih tersenyum padanya setelah meninggalkan dirinya sendiri kemarin pagi dan tidak memberi kabar apa pun.

Pria tersebut mengabaikan penolakan gadis itu. Dia meraih jemari Ara.
"Dimana ketua kelompok mu?"

Pertanyaan itu sukses membuat Ara mematung dan spontan saling menatap dengan Putri.

"Ada apa bapak mencari saya?" Nova, ketua kelompok yang sedang mereka bicarakan muncul.

"Aku ada urusan yang harus aku selesaikan dengannya. Kau tidak akan melarangku untuk membawanya 'kan?"

Nova masih diam, menatap Ara yang gusar dan David yang tampak tenang secara bergantian sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

----o0o----

David lantas mengajak Ara memasuki taman. Mereka berdua melangkah bersama menuju sebuah bangku panjang yang terbuat dari besi dan berwarna hitam. Saat itu memang taman sedang dalam keadaan yang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang tua yang mengawasi anak-anaknya bermain di wahana-wahana sederhana yang terdapat di taman tersebut. Jadi, David merasa cukup aman untuk meninggalkan Ara sendirian selama beberapa saat.

"Tunggu di sini. Aku akan segera kembali," ujar David lalu segera berlari menuju keluar taman.

Ara hanya bergeming. Dengan raut wajah tak mengerti, ia memandangi pemuda itu yang sudah melangkah menjauh. Karena tak bisa menerka alasan David sebenarnya, Ara pun memilih untuk menunggu. Dialihkannya pandangan ke arah para anak kecil yang sedang bermain ditemani orang tua mereka. Kedua ujung bibir Ara kemudian melengkung ke atas. Membentuk sebuah senyuman lembut. Menambah pesona ayu yang memang Ara warisi dari ibunya.

Beberapa saat kemudian, David akhirnya datang dengan membawa es krim yang bertempatkan sebuah cone dari waffle. Menampung es krim rasa coklate yang menjadi kesukaan Ara. Gadis itu tentu saja menerimanya dengan senang hati. David pun duduk di samping Ara dan memandanginya dengan penuh minat. Senyum tipis kini ia sunggingkan ketika mendapati ekspresi kekanakan muncul di wajah Ara. Ekspresi yang selalu gadis itu tunjukkan ketika sedang menikmati es krim kesukaannya.

"Aku tidak menyangka jika kau bisa melakukan hal semacam ini setelah kemarin kau meninggalkanku begitu saja." cibir Ara.

David hanya melirik sekilas tanpa benar-benar mengabaikan.

Melihat sikap pria ini kembali seperti sedia kala membuatnya lega. Dia tidak menyukai sikap dingin pria ini. Alih-alih dia marah dan mencemooh suami nya yang luar biasa pandai mempermainkan perasaanya, dia justru duduk bersandar dengan santai menikmati ice crem sambil memandangi wajah pria itu dari satu sisi. Katakanlah dia sedang.. rindu.

David tahu gadis itu sedang menatapnya. Secara terang-terangan, hal yang tidak pernah gadis itu lakukan sebelumnya.
Dan.. sampai detik ini dia masih bingung dengan susunan kata yang akan dia ucapkan.

David kini beralih mengusap-usap puncak kepala Ara. Lantas ia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku. Menatap tidak fokus pada apa yang sekarang ada di hadapannya.
Ara yang menyadari kegelisahan yang diam-diam David pendam itu kini hanya bisa menunggu dengan sabar. Menunggu pemuda yang sudah menjadi suaminya tersebut untuk membuka suara.

"Mungkin mulai besok, aku tidak bisa menemui mu, karena aku harus mewakili acara workshop diluar kota. Dan... itu mungkin akan berlangsung selama beberapa hari," tutur David akhirnya.
"Aku juga sebenarnya ingin tidak ikut, tapi..."

"Aku tahu," lanjut Ara sambil tersenyum simpul. Berusaha memaklumi kesibukan suaminya itu. "Tidak apa-apa, Dav. Aku mengerti."

David sontak menggeleng. "Bukan. Bukan hanya itu alasannya." Dengan nada serius, ia kembali berucap, "Kau akan segera ujian nasional, dan kemungkinan saat itu aku sudah pindah" David kemudian menolehkan kepalanya ke samping. Memandangi Ara dengan tatapan sedu. "Dan mungkin aku tidak bisa mendampingi mu."

"Tidak apa-apa," lirih Ara dengan perasaan sedih, "Aku juga sudah tahu dari awal..."

"Tidak, aku janji walapun Aku nantinya sudah tidak mengajar di sekolah, Aku akan tetap mengunjungi mu, setidaknya tiga kali dalam seminggu, bagai mana hmm?"

Belum sempat Ara menyahuti pertanyaan David itu, gerimis justru terlebih dahulu datang. Membasahi bumi sekaligus menginterupsi percakapan mereka berdua. Sepertinya karena terlalu larut dengan kebersamaan mereka, David dan Ara sampai tak menyadari bahwa sedari tadi mendung tipis sudah menyelimuti langit. Membuat senja tampak lebih gelap dari biasanya.

David pun segera mengajak Ara untuk berteduh di salah satu restoran di dekat taman itu. Sehingga membuat mereka cukup aman dari jangkaun gerimis, yang memang dikenal lebih ampuh membuat orang sakit daripada hujan.

Ara sendiri kini kembali melanjutkan ritualnya menikmati es krim kesukaannya itu. Tanpa memperdulikan hawa dingin yang menyelusup akibat gerimis yang tiba-tiba singgah. Dan... sepertinya ia tanpa sadar telah melupakan percakapan antara dirinya dan David tadi. Sembari melahap es krim, Ara justru merentangkan tangan kirinya ke depan dan menadahkannya ke atas. Mencoba menerima buliran-buliran gerimis yang menyentuh kulitnya dengan riang.

"Berhenti melakukan itu," tegur David dengan nada datar namun sarat kecemasan. Ia menarik tangan Ara yang telah basah dan beralih untuk menggenggamnya di sisi tubuhnya sendiri, "dan lebih baik kau buang saja es krimmu. Aku tidak mau kau sakit."

Ara menoleh sesaat ke arah David, kemudian tersenyum kecil sambil kembali menikmati es krimnya yang sedikit lagi akan habis. "Tenanglah, Kalaupun aku sakit karena makan es krim di saat seperti ini, pasti sembuhnya akan cepat."

"Tapi aku tetap tak suka kau sakit," tegas David lagi. Ia terdiam sejenak. Menunduk menatap Ara yang berdiri di sampingnya. Sinar kedua mata kini tampak meredup. "Saat aku pergi nanti, jagalah dirimu baik-baik," ucapnya lagi dengan suara serak, "untukku."

Ara yang sudah menghabiskan es krimnya seketika menoleh. Memandang David dengan wajah terpukau. Dapat ia tangkap sorot kekhawatiran dalam mata pemuda di hadapannya itu. Ara tahu bahwa mulai besok hingga beberapa hari ke depan ia harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran David. Suatu fakta yang menurutnya terdengar mengerikan. Ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya nanti saat tidak bisa melihat sosok David. Sosok yang selama beberapa bulan ini sudah menjadi candu bagi Ara. Jadi... ia juga tidak akan bisa membayangkan akan bagaimana hidup tanpa David nanti.

"Hei, ... bolehkah aku meminta es krimmu, hmm?" tanya David tiba-tiba. Membuat Ara langsung menunjukkan ekspresi heran sekaligus bingung. Kebiasaan gugupnya kemudian kembali muncul saat menyadari ada kilatan geli dan jahil di sepasang mata David.

"Bu-bukankah es krimnya sudah habis? Ja-jadi bagaimana..."

Sebelum Ara menyelesaikan kalimatnya, David segera mengangkat dagu gadis itu dan menyatukan bibir mereka berdua dalam gerakan halus. Menikmati sisa-sisa es krim yang masih melekat di sepasang bibir lembut milik istrinya itu. Ara yang kini membelalakkan matanya akibat tindakan tiba-tiba David tersebut. Detakan jantungnya pun semakin menggila. Seakan ingin lepas dari dadanya.

Ciuman itu masih berlangsung. Pelan dan teratur. Intens tapi terkendali. Ara yang awalnya merasa kaget pun sudah mulai membalas ciuman David. Memilih untuk melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher pemuda itu. Wajahnya tentu kini sudah dijalari oleh warna merah padam. Warna yang sudah biasa menghiasi wajahnya ketika merasakan sentuhan bibir David di bibirnya.

Sesaat kemudian akhirnya perlahan David melepaskan ciumannya. Kedua matanya kini menatap senang pada rona merah yang mewarnai wajah Ara. Gadis itu pun lantas cepat-cepat menundukkan kepala. Berusaha untuk menormalkan kembali ekpresinya yang terlihat sangat jelas tengah diliputi kegugupan. Ia masih sangat malu dengan ciuman tadi. Meskipun sudah berulang kali gadis yang masih berusia 18 tahun itu mengalaminya, tapi tetap saja ia merasa kesulitan untuk membiasakan diri.

David pun kini mengusap-usap kepala Ara dengan lembut. Mencoba menenangkan Ara yang masih menunduk malu. Pemuda itu lantas membuka jaket hitamnya dan menyampirkan benda tersebut di lengan. Ara kemudian akhirnya mau mengangkat kepala ketika tangan David sekarang beralih menggenggam tangannya. Ringan, tapi terasa hangat.

"Kita pulang," kata David dengan senyum tipis yang terukir di kedua bibirnya.

Ara sontak ikut tersenyum lalu mengangguk pelan. Dibantunya pemuda itu yang ingin melindungi kepala mereka berdua dari rinai gerimis dengan jaket. David dan Ara kemudian melangkah bersama menjauhi kedai yang sedari tadi membantu mereka berteduh.

Saat berjalan, Ia pun diam-diam melirik pemuda di sampingnya itu. "Aku... mencintai mu."

Ara langsung terkekeh kecil mendapati reaksi David yang segera berhenti melangkah ketika mendengar gumamannya tadi. Padahal ia hanya mengucapkan kalimat itu dengan suara rendah. Namun, ternyata indra pendengar David yang tajam dapat menangkapnya dengan sangat jelas.

"Apa yang kau katakan?" tanya pemuda itu kemudian. Raut wajahnya masih tidak menampakkan ekspresi. Tapi Ara bisa tahu pemuda itu tahu apa yang ia katakan tadi.

"Aku mencintai mu," jawab Ara sembari mendekati wajah David dan langsung menyapukan sebuah kecupan singkat di bibir pemuda tersebut. Membuat kedua mata David melebar takjub, lalu kembali terpesona saat melihat Ara kini mengulas senyum lembut untuknya.











To be continue

Continue Reading

You'll Also Like

16.7M 521K 69
APA JADINYA SEORANG MURID NIKAH DENGAN KEPALA SEKOLAHNYA? SEKALIGUS YANG MEMPUNYAI YAYASAN Amel Putri Pratama -----> Wanita SMA yg bersekolah di SMA...
140K 3.9K 68
(Gue ga pernah NGEPLAGIAT cerita orang karena menurut gue itu tindakan yang jahat, jika ada KESAMAAN dalam nama tokoh atau alur cerita itu murni KETI...
2.8K 251 11
[COMPLETED] Virilla Azalea Zahda adalah seorang mahasiswi yang mengalami broken Home. Ia menganggap bahwa dirinya adalah alasan mengapa ayah kandung...
374K 10.4K 43
Terperangkap dalam trauma masa lalu membuatnya menjadi sosok yang sangat tertutup dan tak tersentuh. Tujuan hidupnya hanya belajar dan memperoleh nil...
Wattpad App - Unlock exclusive features