Summer's POV
"—dan setelah mengetahui aku yang mencuri biskuit itu, Ayahku langsung menghukumku." Ujar Calum mengakhiri ceritanya, kemudian kami berdua tertawa.
Dua jam terakhir, kami hanya menonton film dan memakan satu baskom es krim sambil cuddling di sofa apartmentku. Tidak ada hal yang lebih membuatku bahagia namun melakukan hal-hal simple bersama orang pilihanku adalah hal yang membuatku bahagia.
Aku tidak pernah menyangka, memacari Calum akan semenyenangkan ini.
"Apakah kau tidak punya cerita lucu untuk diceritakan?," tanya Calum menghadap ke arahku, mengambil satu sekop penuh es krim cokelatnya.
"Uh, kau ingin dengar cerita lucu?," tanyaku, memikirkan hal lucu yang pernah terjadi dalam hidupku. Pada dasarnya, aku tidak pernah memiliki pengalaman lucu karena sebagian besar hidupku, kuhabiskan dengan mencari uang, survive and repeat.
Ia menaikkan kedua alisnya, "Ya, ceritakan satu saja yang paling menarik." Calum memasukkan satu sekop penuh es krim ke dalam mulutnya. "Tapi kukira kau tidak memiliki cerita menarik,"
"Enak saja! Tentu, aku punya." Lanjutku, "Kau tahu? Sebenarnya aku bukan benar-benar fan dari bandmu.., apa namanya? 5SOS? hahahaha!" Tawaku meledak, sehingga aku terpingkal-pingkal.
Calum memutar bola matanya cepat, kemudian menoyor kepalaku dengan ujung sendoknya. "Pertama, itu sama sekali tidak lucu. Kedua, kau ini kurang ajar sekali."
Aku masih tertawa sambil mengusap-usap kepalaku, "Aku butuh uang, Cal, kau tahu hal itu."
"Tetap saja kau berbohong padaku." Ia memajukan bibir bawahnya dan pura-pura menangis. "Kau membuatku sakit hati." tangannya ia letakkan diantara dadanya, membuatku tertawa.
"Kau memang jalang sungguhan."
"Ya, apa kau baru tahu?" Jawabku sambil menyeringai, membuat ia memutar bola mata cepat.
Kami menghentikan percakapan sejenak, hanya terfokus pada film kali ini. Sementara Calum masih sibuk memasukkan sekop es krim ke mulutnya, sambil sesekali melirik ke arahku.
"What." tanyaku sambil menoleh ke arahnya. "Apakah ada kotoran di wajahku?"
"Tidak apa-apa, aku hanya suka pada hidungmu." ucapnya sambil menggosok ujung hidungnya dengan punggung tangan. "Seperti perosotan."
"Really, Cal? Kukira ada sesuatu yang lebih penting daripada memuji hidungku."
"Ya! Hidungmu sangat penting because its tiny and cute as fuck. Coba, bandingkan dengan hidungku yang besar ini." Ia mencodongkan tubuhnya ke arahku dan menggosok leherku dengan ujung hidungnya, sehingga nafas hangatnya menjalar ke leherku.
"Cal, no touching." Ucapku menahan geli dan berusaha menjauhkan tubuhnya dariku. Namun gagal, ia jauh lebih kuat tenaganya dariku.
"Callll." Lidahku memanjangkan huruf L sambil menahan desahan ketika ia mengecup leher dan rahangku secara bergantian.
"No, no, do you think I can resist you and your beautiful?" Ia menyeringai, dan dengan satu gerakan tangannya mengelus pahaku yang tidak terbalut apapun. Aku hanya mengenakan kaos hitam oversized tanpa bra.
"Calum, kupikir kau akan melanggar peraturan nomor dua, ugh." Secara tidak sengaja aku mengerang ketika ia mencubit pelan pahaku, and give me a goosebumps.
"Summy-babygirl.. Peraturan itu diadakan untuk dilanggar." Ia menjilat bibirnya perlahan dengan tatapan kelaparan.
Aku belum pernah melihatnya selapar ini sebelumnya, membuatku sedikit menjauhkan tubuhku darinya.
Namun diluar perkiraanku, ia justru melingkarkan lengannya diantara bahuku dan menarik tubuhku ke dekapannya, lalu menjatuhkan baskom es krim ke arahku.
"What the f—" aku belum sempat menyelesaikan kalimatku namun ia buru-buru memotongku,
"Duh, I'm sorry, I'm sorry!"
Aku menghela nafas panjang dan mengangguk, sementara aku berusaha membersihkan ceceran es krim yang mulai meleleh di paha, baju, dan lenganku.
Diluar perkiraanku, ia mengangkat tanganku dan menjilat es krim yang mulai leleh di area tangan dan lenganku, kemudian merunduk untuk menjilat lelehan es krim di pahaku, sementara aku menutup mata erat-erat menikmati sentuhannya.
"Is it clean?" ia bertanya sambil mendongakkan kepalanya, masih sibuk menjilat area pahaku.
Shit, this is hot and disgusting but I love it.
Aku menganggukan kepalaku, menyisir rambutku ke belakang dan menempelkan punggungku ke sofa, mempermudah aksesnya untuk membersihkanku.
"You like it babygirl?" tanyanya, kini beralih pada dadaku yang terkena lelehan es krim tersebut. Sebelum menjilatnya, ia terlebih dahulu meremas dari balik kaosku kemudian menjilat area leherku, dan menyerang bibirku dengan bibirnya.
Ia menaikkan tanganku ke atas untuk mempermudah melepas kaosku yang penuh noda es krim, namun bibirnya tak meninggalkan bibirku.
He tasted mint and chocolate, as always.
"Cal, Ahnnn-"
Aku segera mendorong tubuhnya menjauh dariku, membuatnya menaikkan kedua alisnya.
"Calum.. I'm dirty."
"Yeah, I know it,"
Aku memutar bola mata cepat, kemudian segera beranjak dari tempatku.
"Kau mau kemana?" tanya Calum, raut wajahnya terlihat kecewa.
"Aku harus mandi dan berganti baju, Cal," aku menghela nafas, "Kau menumpahkan es krim ke bajuku, ini terasa lengket."
"Okay, okay." Ia mengalah, kemudian mengganti-ganti channel tv secara acak. Nampaknya, mood nya langsung memburuk.
Melihat perlakuannya yang seperti anak kecil, aku hanya mendengus keras dan berkacak pinggang, "Kau menumpahkan es krim kita. Kenapa kau tidak memesan sesuatu untuk dimakan? Pizza, contohnya."
"Baiklah," Calum menjawab, kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Dan dengan itu, aku mengecup pipinya kemudian melenggang pergi.
*
Setelah aku selesai mandi, aku memakai kaos Green Dayku dan celana hotpans, membiarkan rambut panjangku terurai, kemudian melangkahkan kakiku menuju Calum yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang lewat telepon. Mereka seperti membicarakan sesuatu yang serius.
Ya, sangat serius. Tentu saja kita perlu serius dalam menentukan topping Pizza yang akan kita pesan.
Aku terus mengamatinya dari belakang, dan samar-samar aku mendengar kata Edmund yang terus disebutkan beberapa kali.
Mungkin, nama pegawai pengantar Pizza itu adalah Edmund.
Setelah Calum selesai dengan teleponnya, aku berjalan menuju ke arahnya yang membuat ia sedikit terkejut.
"Siapa yang kau telepon tadi?" Tanyaku penasaran, lalu duduk di hadapan Calum.
"Mali." Jawabnya singkat, dan tanpa memandang ke arahku.
"Ooh, apa yang kalian bicarakan?," tanyaku lagi, I mentally slapped my self for asking too much. He would be so angry with me.
Namun diluar perkiraanku, ia hanya terdiam dan tak mengucapkan sepatah katapun, membuatku menunggu jawabannya cukup lama.
"Tidak penting untukmu." Jawabnya datar, dan belum mau mengalihkan pandangan ke arahku.
"Okay... So. Who's this Edmund guy?" Lagi-lagi aku berusaha menahan diriku untuk bertanya., namun sekali lagi aku bertanya.
"Kubilang, tidak penting!" Ia meninggikan suaranya dan kini menatap ke arahku dengan tatapan marah.
"Oke! Baiklah," aku menghel nafas dan mengalah. "Apakah kau jadi memesan pizza untuk kita?"
"No. I gotta go." Ucapnya dingin, kemudian beranjak dari duduknya. Aku hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya, namun ia meraih jaketnya dan melenggang pergi.
"Kau mau kemana?" tanyaku, dengan sedikit nada kesedihan. Kini aku ikut berdiri dan mengekor di belakangnya.
Ia membuka pintu apartmentku, kemudian berhenti sejenak, mematung di tempatnya.
"She is back."
-#*$-3-3&
(a/n)
mati lo Sum mati lo Sum
thanks for 20k reads and 2k votes uuuuu♥♥
dan fyi gua bakal nyelesain story ini sekitar 6-7 chapter lagi AAA
love u stay pretty and dont cut