Kira menyusuri majalah di tangannya dengan sabar meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak tertarik dengan isinya. Pernikahan bukan hal yang begitu digemarinya. Cukup menakutkan membayangkan menjerumuskan diri ke dalam suatu ikatan yang tercatat di mata hukum dan agama. Namun bukan berarti Kira tidak bahagia dan menghargai pilihan Mirei untuk menikah. Kalau ia tak senang, ia tak akan ada disini, duduk manis sejak 2 jam lalu menemani Mirei memilih gaun pernikahannya. Lagipula ini menjadi tugasnya sebagai sahabat dan maid of honor yang dipercaya Mirei.
Rasanya sedikit sulit untuk dipercaya, melihat Mirei, si lugu yang dulu menjadi teman sebangkunya melewati tahun terakhir di SMA, kini akan menikah. Belum lagi dengan Ren, si penggila wanita yang anehnya tunduk tak berkutik jika berhadapan dengan Mirei. Mungkin karena itu mereka ditakdirkan bersama.
Kira menggeleng lagi melihat gaun yang melekat di tubuh Mirei, entah sudah gelengan yang keberapa. Mirei sudah bukan nekat lagi, memilih gaun pernikahannya kurang dari 2 minggu sebelum pernikahan akan dilaksanakan. Menurut Kira, seharusnya memilih saja tidak sulit, tapi entah mengapa dari tadi ia belum melihat gaun yang benar-benar meneriakkan pantas untuk dipakai satu kali seumur hidup sahabatnya itu.
Tentu hal itu sebelum Mirei keluar dengan mermaid dress berbahan satin dan sedikit brokat dari pinggang ke atas, tanpa lengan, putih bersih dan melekat sempurna dengan tinggi badan Mirei. Mirei akan membuat siapapun yang datang ke pernikahannya iri bukan main jika ia berdiri di altar dengan gaun itu. Kira mengangguk semangat seakan ia memilih gaun itu untuk dirinya sendiri. Perkara gaun pengantin saja sekarang ia ingin mencoba satu. Mirei menatap dirinya puas di cermin lalu ganti menatap Kira puas. Ia tahu membawa sahabatnya yang satu ini ke sini bukan pilihan yang salah. Ketidakpercayaan Kira akan dunia pernikahan tidak menghalanginya memberikan penilaian yang luar biasa.
Dalam balutan gaun sederhana namun indah ini, rasanya kalau ia disuruh menikah nanti malam, Mirei siap. Mirei menghela napas puas sembari mengacungkan jempolnya pada Kira dan masuk kembali ke dalam bilik untuk mengganti pakaiannya.
Sepuluh menit kemudian, setelah berbicara dengan pelayan toko yang dari tadi sibuk mendampingi Mirei dan memberitahu bahwa ia akan mengambil gaun yang terakhir dicobanya, sahabatnya itu menghampiri Kira dengan senyum yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Senyum yang seakan berkata Mirei memegang seluruh dunia di tangannya.
Kira tersenyum, dalam pedih hatinya. Sudah lama sekali ia tidak tersenyum seperti itu. Kira menggusur jauh pikirannya. Hari ini dan beberapa minggu ke depan bukan tentang dirinya, tapi tentang Mirei. Tidak ada gunanya mengeluarkan sisi melankolisnya yang suka keluar sendiri tanpa diminta. Seminggu belakangan ini ia dihadang rasa khawatir yang berlebihan. Meskipun ia tahu betul alasannya dan justru karena ia tahu betul alasannya ia berpikir terlalu banyak, tak semudah itu meyakinkan hatinya untuk bersikap biasa saja.
Kinira Quinta punya banyak alasan untuk mengharapkan kedatangan Jeshiro Melvino ke pernikahan Mirei. Punya beribu alasan untuk menunggu waktu itu tiba. Namun ia punya sejuta alasan untuk memutar otaknya sebelum berdiri di depan pria itu. Kira belum melihat Jesse sejak kepulangan terakhirnya 7 tahun lalu. Saat itu pun karena tatapan dingin Jesse dan auranya yang seakan tidak senang dengan kehadiran Kira, gadis itu memilih untuk pamit pulang terlebih dahulu dengan alasan yang dibuatnya dalam waktu 30 detik.
Sahabat-sahabatnya hari itu menyayangkan Kira yang tidak dapat berkumpul lebih lama, tapi Jesse bahkan tidak berkata apa-apa saat gadis itu melangkah keluar dari restoran. Jesse yang dikenalnya saat SMA, pasti akan mengejarnya, pasti bertanya ada apa. Pasti mengantarnya pulang. Jesse yang dikenalnya di SMA, mengerti Kira bahkan tanpa perlu kata-kata. Lalu Kira, dalam kebodohan dan godaan entah dari mana, memutuskan bahwa ia tidak menginginkan Jesse yang seperti itu.
Dalam 5 menit perbincangan singkat, Kinira Quinta berhasil membuat Jesse yang sudah berjuang selama hampir 3 tahun, menyerah di tempat. Beberapa bulan setelahnya, membawa dirinya pergi ke Amerika.
Kira menghela napas terberatnya minggu ini. Mirei mengerutkan dahinya dan menaruh kembali tas yang sudah dipegangnya, beranjak duduk di sebelah Kira.
"Kenapa lo?"
Kira menggeleng. Ia sudah cukup lama merepotkan dan membebani sahabat-sahabatnya dengan ungkapan sesalnya melepas Jesse. Meski tak terucap, Kira tahu, Mirei, Ara, Tisha dan Vey lama-lama menyerah, kehabisan kata-kata untuk membuat perasaan Kira membaik. Sudah 8 tahun dan keempat sahabatnya itu masih setia menemani Kira terjebak dalam masa lalunya. Bukan mereka tak membantunya keluar, tapi mereka tahu, sampai Jesse benar-benar berkata ia memaafkan Kira, gadis itu tak akan pernah bisa benar-benar bahagia, terlebih bersama orang lain.
Mirei memutar bola matanya. Ia tahu jelas alasan Kira uring-uringan belakangan ini. Sederhana, Kira masih takut berangan. Kira masih takut berharap Jesse akan pulang. Kira masih takut membayangkan dirinya bertukar sapa dengan Jesse. Nyatanya, sudah lama sekali mereka tak bertemu dengan anak rantau satu itu. Jika ditanya, jangankan Kira, Mirei saja rindu setengah mati pada tukang buat onar berotak brilian itu. Tapi sebagai sahabatnya, Mirei juga mengerti kenapa Kira sangat gugup. 7 tahun bukan waktu yang sebentar untuk tidak melihat seseorang.
Dalam 7 tahun ini, Jesse sudah melewatkan beberapa peristiwa penting. Jesse tidak pernah pulang, bahkan ketika diminta. Kira tidak mau terlalu percaya diri atau menyalahkan diri, tapi ia tahu, ia salah satu alasannya. 7 tahun. Kira bahkan tidak ingat betul seperti apa suara pria itu, atau bahkan tampangnya yang mungkin berubah.
"Jesse? Dia sampai sini minggu depan."
Kalimat singkat dari Mirei membuat dunia Kira berhenti berputar sejenak. Mencerna perkataan Mirei menjadi hal tersulit yang harus dilakukannya minggu ini. Di antara kesibukannya membantu produksi layar lebar yang akan tayang akhir bulan depan, menerima kenyataan bahwa minggu depan Jesse akan berada di Indonesia lebih membuatnya kelimpungan.
"Dia pulang?"
"Kalau dia nggak pulang, habis dia sama Ren sama Vio."
"Ini udah pasti atau masih di ambang-ambang?"
"Pasti, sayang. Dia ngehubungin gue juga kok kemarin, bilang dia bakal sampai sini Senin pagi."
Kira menyandarkan badannya lemas ke sandaran sofa. Matanya menatap Mirei penuh tanda tanya. Ia mengambil napas dalam dan membuangnya perlahan, menenangkan hatinya yang berdebar tanpa alasan.
"Gue harus ngomong apa, Rei?"
Mirei tersenyum. Ia sudah lama mempersiapkan jawaban atas pertanyaan Kira yang pernah diprediksi dirinya, Ara, Vey dan Tisha ketika membiacarakan rencana kedatangan Jesse.
"Yang selama ini mau lo bilang, tapi belum karena nggak ada waktu yang tepat."
"Should I say hi? Should I greet him?"
Kira tahu pertanyaannya bodoh. Di balik semua kesalahan dan penyesalannya, ada sedikit bagian egois dalam dirinya yang selalu berharap ketika akhirnya ia bertemu lagi dengan Jesse, pria itu dengan besar hati akan menghampirinya dan menyapanya lebih dulu. Ia terlalu takut untuk menyapa Jesse. Bagaimana jika sapaannya diabaikan? Bagaimana jika Jesse berharap Kira tidak menyapanya? Kira berkutat dengan 'bagaimana-bagaimana' yang lainnya.
"Sapa, Ki. Tanya kabarnya. Minta maaf."
"Kalau dia nggak mau maafin gue?"
"Kita ngomongin Jeshiro Melvino, Ki. He loves you more than anything. Gue nggak membenarkan perilaku lo yang akhirnya bikin dia pergi ke Amerika. Tapi gue tahu pasti dia bakal maafin lo. Dan gue juga tahu minta maaf sama dia adalah hal yang paling pengin lo lakuin sekarang."
"Itu Jeshiro yang lo kenal di SMA, Rei..."
"Terserah itu mau Jesse yang mana. Tapi kenyataan bahwa dia akhirnya berani buat balik sekarang, artinya dia mulai buka diri buat ketemu dan bahkan maafin lo kan?"
Kira tentu berharap perkataan Mirei benar. Tapi berharap tidak menutup kemungkinan bahwa hanya ada satu alasan Jesse kembali ke Indonesia. Dan bahkan jika alasan tersebut bukan pernikahan Ren dan Mirei, Kira tentu bukan alasannya.
//
"Gimana Mbak Kira? All done?"
Kira menurunkan kertas naskah yang dipegangnya kemudian menoleh pada asistennya yang menanti jawaban baik dari Kira. Jawaban yang menentukan apakah ia bisa pulang lebih cepat hari ini. Ia tahu ia bekerja pada Kira, sutradara perfeksionis kebanggaan Indonesia. Karyanya tak pernah diragukan, keahliannya tak pernah dipertanyakan. Setelah berulang kali mengulang adegan terakhir hari ini, asistennya itu benar- benar berharap Kira akan segera menyudahinya. Kalau harus ada pengulangan lagi, dipastikan ia akan pulang pagi lagi hari ini. Dan setelah 2 minggu selalu pulang pagi, rasanya ia ingin menyerah saja.
Kira tersenyum ramah. Hal yang selalu ia lakukan setiap menutup sesi syuting, yang kemudian membuat asistennya menghela napas lega, membalikkan badannya dan menyampaikan kabar gembira itu bagi kru lainya yang juga menanti jawaban.
Kira sendiri sebenarnya belum terlalu puas dengan hasil pengambilan yang terakhir, namun kepalanya serasa mau pecah. Ia tidak yakin bisa mengarahkan manusia-manusia lain dengan serius sekarang. 3 hari lagi mungkin ia akan bertemu dengan Jesse, dan ia bingung harus merasa apa tentang hal itu. Sejak mengetahui Jesse akan benar-benar kembali ke Jakarta, Kira tak bisa berhenti memikirkan semua hal yang mungkin Jesse rasakan. Benci, amarah, kecewa dan khawatir. Khawatir tidak akan dimaafkan, terlebih mendapat kesempatan mengulang. Rupanya 8 tahun tidak cukup baginya untuk berhenti merutuki dirinya sendiri mengenai hal ini. Kira lelah, tapi ia memang salah.
- - -
"Kira! Pagi! Jangan lupa bahagia hari ini! Udah sarapan? Sarapan sama aku mau?"
Kira memutar bola matanya malas mendengar suara yang selalu saja mengganggu harinya. Jengkel sudah ia kalau mahluk satu ini menampakkan diri saat pagi hari. Akan hancur moodnya seharian.
"Berisik," balas Kira tanpa memedulikan senyum yang berubah kecut di wajah Jesse. Meskipun tidak suka, Jesse rasa tidak ada salahnya menolak secara halus. Kira bisa bilang tidak. Namun pria itu mengabaikannya dan kembali tersenyum lebar.
"Kalau nggak sarapan nanti nggak bisa serius belajarnya..."
Kira memutar bola matanya. Jujur ia benci harus menjadi yang terlihat seperti orang jahat. Namun ia punya pacar, meskipun ya hubungan mereka juga tidak bisa dibilang sedang baik-baik saja, atau bahkan pernah baik-baik saja. Tapi Kira menghargai hubungannya, dan sudah seharusnya Jesse juga begitu. Bukan satu dua kali Kira meminta Jesse untuk menyerah, bukan satu dua kali Kira menolak Jesse. Sudah ratusan kali, mungkin. Jadi kalau sampai sekarang Jesse masih muncul dan mengajaknya sarapan bersama, Kira punya lebih dari satu alasan untuk menolaknya.
"Gue nggak mau sarapan sama lo."
"Kenapa?"
"Harus diperjelas lagi?" Kira diam sejenak. "Lo bikin nggak mood makan."
Kira berdiri meninggalkan Jesse yang menghela napasnya, seperti sudah biasa. Ini kali yang keempat minggu ini ditolak Kira sarapan bersama. Ia tidak terkejut Kira menolaknya.
Kadang ia berpikir bahwa mungkin lebih melelahkan menjadi Kira, yang harus mengucapkan alasan berbeda setiap Jesse menawarkan.
Hari ini Jesse bikin tidak mood makan, kemarin wajahnya bikin mau muntah, kemarinnya lagi sudah sarapan di rumah, kemarinnya lagi sudah sarapan dengan Aldo. Sudah tujuh bulan dan Kira masih belum menghargai keberadaan Jesse, apalagi menyenangi keberadaannya. Jesse juga bingung, kenapa bisa sangat gencar mengejar gadis berhati batu yang jelas-jelas tidak menyukainya itu. Bahkan ketika gadis itu sekarang punya pacar.
Ia pertama kali memutuskan untuk mengejar Kira karena satu kebaikan kecil yang mungkin tidak diingat gadis itu lagi dan karena tawanya di tengah teman-temanya yang tak sengaja ia dengar di kantin 7 bulan lalu. Namun selama 7 bulan mengejarnya, belum satu kali pun Jesse mendengar suara tawa itu, untuknya.
Jesse menatap nanar punggung Kira yang hampir hilang di lorong menuju kelasnya. 7 bulan tanpa sadar membuatnya jatuh semua yang ada pada Kira, bahkan hati batunya sekalipun. Sedangkan di ujung lorong Kira mengerang malas, memikirkan harus melakukan apa lagi agar Jesse berhenti. Ia juga tidak mengerti kenapa ia merasa kehadiran Jesse mengganggunya, padahal yang dilakukan pria itu juga masih dalam batas wajar dan tidak merugikannya sama sekali. Selain Aldo, yang memang posesif dan cemburuan bukan main.
Kira saat itu masih terlalu buta untuk sadar menjauhi Jesse merupakan caranya menutup diri, karena takut. Lebih menyeramkannya, Kira menolak Jesse habis-habisan karena tahu dapat jatuh untuknya kapan saja dan menghancurkannya dengan Aldo.
- - -
Kira terkekeh masam. Bodoh. Alasan macam apa 'takut ikut jatuh' untuk menolak seseorang yang benar-benar menyayanginya?
Kepingan masa remajanya yang suka muncul tiba-tiba bukan hal yang digemarinya. Semua itu hanya mengingatkannya akan kebodohan yang ia lakukan saat berumur 17 menginjak 18 itu. Kira membereskan tasnya kemudian berpamitan singkat dengan kru yang masih tinggal di lokasi dan melangkah menuju mobilnya. Berendam air hangat adalah satu-satunya hal yang ingin Kira lakukan sekarang. Malamnya tidak bisa bertambah buruk lagi lebih dari ini.
Sesaat sebelum menjalankan mobilnya, satu pesan masuk dari sepupunya yang sudah lama tak ia jumpai. Mungkin terakhir sekitar 3 atau 4 tahun lalu saat pria itu berlibur ke Jakarta. Ketika ditanya kapan pulang, katanya ia betah disana, sehingga tidak berniat untuk benar-benar kembali.
Kira mengangkat ponselnya untuk membaca pesan dari Dovan.
Dovano: Temen gue mau, Ta. Dia di jkt cuma bentar, baek-baek lo sama dia
Dovano: Baik tapi suka dingin asli orangnya
Kinira: Serius??? Makasihh Vann
Dovano: Iye, ntar gue kasih nomornya. Bilang aja lo sepupu gue
Dovano: Jangan kebanyakan mau, yang penting rmh lo jadi
Kinira: Iyaiyaa bawel bgt sih
Dovano: Udah gua bantuin juga, ngelunjak
Dovano: Lagian arsitek ada banyak, lo maunya sama temen gua
Kinira: Lulusan MIT bos. Mintain diskon juga boleh, Van
Dovano: Jangan macem-macem lu
Dovano: Inget, jangan macem-macem! Ga tentram ntar hidup gua disini
Kinira: Iyaaaa sepupu baweelll, say thanks to him for me yaaaa, hehe
Kira menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi syuting dengan wajah lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya Dovan membawa berita baik untuknya. Yang perlu ia lakukan hanya menunggu Dovan mengirimkan kontak temannya dan Kira bisa mulai merancang rumah impiannya.
Tidak ada alasan khusus mengapa ia meminta tolong Dovan untuk meminta bantuan temannya. Dari semua cerita yang Kira dengar, teman Dovan ini realistis, pekerja keras, berkomitmen dan yang jelas sangat mendedikasikan diri dalam pekerjaannya. Lulus dari kampus ternama di Amerika jelas juga berada dalam pertimbangan Kira. Kalau rumahnya punya kesempatan untuk menjadi lebih baik dari yang selama ini ada dalam bayangannya, kenapa tidak?
Di satu sisi, Kira juga merasa sedikit tidak enak. Setahu Kira, pria yang hanya dikenalnya melalui cerita, bahkan tanpa ia ketahui namanya itu hanya akan menetap 3 minggu di Jakarta. Pasti memasukkan Kira dalam 3 minggunya di Jakarta sama sekali di luar agendanya. Kira menggelengkan kepalanya pelan. Teman Dovan itu baik sekali, entah apa yang sepupu gilanya itu lakukan sampai permintaannya disetujui.
L.I.N.G.E.R