Superficial Love - Ruth. B. 🎶
***
"Mampir dulu gak?" tawar Ivory yang sangat jelas terlihat hanya sebuah basa-basi belaka.
"Gak usah." tolak Kastara dengan halus.
"Oh." Ivory mengangguk. "Okeyy!"
Ia segera membalikkan badan, berjalan mendekati gerbang hitam nan tinggi yang masih tertutup rapat itu.
Merasakan ada yang janggal. Ivory berbalik lagi, menatap Kastara yang belum pergi dan terlihat menatapnya dibalik helm full wajah berwarna hitam yang tertutup tersebut.
"Gak usah tungguin gue masuk," ujar Ivory mengira jika Kastara akan pergi setelah dirinya memasuki rumah.
"Helm." ujar Kastara membuat Ivory sontak memegang kepalanya yang masih terbungkus helm berwarna putih tersebut.
"Sial!" umpat Ivory pelan. Merasa malu karena ia telah sangat ge'er tadi mengatakan agar Kastara tidak perlu menunggunya masuk.
Berjalan mendekati Kastara dengan langkah lebar seraya membuka helm yang berada di kepalanya. Memberikannya dengan cepat tanpa mau menatap Kastara langsung.
"Nih, ambil cepetan." Buru-buru Ivory menyerahkan. Ingin segera pergi menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
"Aw!" desis Kastara pelan namun masih terdengar dengan jelas di telinga Ivory.
Helm yang diserahkan oleh Ivory tadi tanpa sengaja telah menyenggol lengan Kastara yang tertutupi jaket.
Ivory menatap Kastara lekat. "Lo luka?" tanyanya menyelidik.
"E-enggak," jawab Kastara agak terbata-bata. Seperti maling yang sedang kepergok merampok.
"Buka helmnya," titah Ivory tak menerima bantahan. Helm yang semula disodorkannya kembali ia peluk.
"Helmnya siniin," pinta Kastara tanpa mau menuruti perintah Ivory. "Gue mau balik, ngantuk." Alibinya berusaha menghindari kecurigaan Ivory.
Kedua mata Ivory menyipit tanda tak percaya. Sebenarnya ia tak peduli, tapi mendengar ringisan Kastara tadi membuat Ivory merasakan sakit yang sama.
Ivory itu sangat perasa, melihat dan mendengar orang yang kesakitan saja bisa membuat ia merasakan hal yang sama.
"Lo luka Kas...," lirih Ivory pelan menatap khawatir pada Kastara.
"Gue gak apa-apa," ujar Kastara menenangkan. Tatapan matanya dibalik helm mencoba meyakinkan Ivory padahal Ivory sendiri tak bisa melihatnya secara langsung.
"Anggap aja ini tugas gue sebagai pacar lo."
"Gue kan pacar lo tuh, jadi gue punya hak dong buat urusin lo." imbuh Ivory lagi menambahkan kekuatan untuk alasannya.
"Cuma bohongan," sahut Kastara menggelengkan kepala. Berusaha meraih helm yang berada di genggaman Ivory.
"Aw! Sakit bego," kesal Kastara spontan berucap karena Ivory dengan sengaja memukul tempat yang sama dimana ia merasakan sakit akibat terbentur helm sebelumnya.
"Tuh sakit kan," cibir Ivory. "Makanya nurut kalo dibilangin, turun sini. Biar gue obatin lukanya di dalam."
Kastara menggeleng. "Gue bisa obatin sendiri."
Tak!
Ivory mendorong kaca helm milik Kastara ke atas. Ia membukanya tanpa persetujuan sang pemilik.
Mulut Ivory menganga lebar. "Ih! Itu lo luka Kastara," gemas Ivory melihat banyak luka lebam yang berada di wajah Kastara.
"Kenapa gak langsung obatin dulu tadi?"
"Mau jemput lo dulu."
Ivory berkacak pinggang. "Itu bukan alasan yang cocok, karena biasanya juga gue pulang sendiri."
"Dulu, karena sekarang lo cewek gue, jadi harus ada peraturan baru."
Ivory tersenyum sinis. "Cuma boongan," ujarnya meniru ucapan Kastara yang tadi.
Kastara terdiam menatap Ivory dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.
"Makanya, jangan ngeyel kalo dikasi tau. Tadi gue bilang, diobatin aja dulu. Anggap aja ini tugas gue sebagai pacar lo, tapi lo nya malah nyela bilang 'cuma boongan' sekarang gue balikin kata-kata lo itu. Gimana rasanya?"
Kastara cuma diam tak mengeluarkan apa yang ia rasakan.
"Gitu yang gue rasain, udah berusaha baik malah ditolak pake kata-kata yang gak sopan."
Kastara tampak menarik napas. "Kalo masih mau ngomel, ngomel aja. Gue mau pulang. Balikin helmnya, bukan punya gue soalnya. Males ganti kalo hilang."
"Cih. Gak ada modal banget."
Kastara mengedikkan bahu acuh.
"Turun, gue obatin di dalam." titah Ivory lagi. Ia benar-benar ingin mengobati Kastara, anggap saja sebagai balas budi karena tadi telah mengantarnya pulang.
Kastara masih kukuh pada pendiriannya. Ia menggeleng. "Gak-"
"Gak ada bantahan Kastara sayang!" potong Ivory tanpa mau mendengar penolakan lagi, ia langsung menarik tangan Kastara. Menariknya tanpa mendengar persetujuan sang pemilik tangan.
"Sekarang anggap gue cewek lo beneran, dan tugas gue sebagai pacar adalah obatin luka lo. Kayak tadi, lo anterin gue pulang karena lo anggap gue pacar lo kan. Padahal cuma bohongan." cerocos Ivory tanpa jeda dengan tangan yang menarik Kastara untuk terus berjalan.
***
"Aw! Shh..."
"Tahan, tinggal dikit lagi." kata Ivory sangat telaten mengoleskan sesuatu pada lebam berwarna merah di wajah Kastara.
"Dari tadi lo bilang tinggal dikit lagi, tinggal dikit lagi. Kapan selesainya sih?" tanya Kastara menggeram kesal karena ia seperti diberi harapan palsu.
"Ck. Cerewet!"
Kastara membuka mulutnya kecil, menganga tak percaya dengan keberanian gadis didepannya itu.
"Lo-"
"Syutt!" potong Ivory menghentikan ucapan Kastara dengan menempelkan telunjuk tangannya tepat pada bibir yang terlihat segar milik cowok itu.
"Jangan banyak tanya, diem aja!" tegas Ivory menghentikan kegiatannya sejenak untuk menatap manik mata berwarna hitam pekat dihadapannya sekarang.
"Good boy." puji Ivory lalu kembali pada kegiatannya yang tertunda. Ia merawat pasien yang sangat cerewet, butuh kesabaran ekstra untuk menanganinya.
Kastara mulai menurut, tak banyak tanya lagi seperti sebelumnya. Matanya fokus menatap wajah Ivory yang berada tepat di depan wajahnya, meneliti pahatan wajah yang terlihat sempurna itu. Kastara sempat terlena sejenak hingga ucapan Ivory menyadarkannya kembali.
"Selesai." ujar Ivory menatap puas pada hasil pengobatannya.
Di wajah Kastara telah terpasang plaster berwarna cokelat, titik tempelnya tepat berada di daerah pelipis bagian kanan. Bagian itu memang agak sedikit tergores, entah apa yang telah menggoresnya.
Ivory tersenyum. Merasa senang karena wajah Kastara mulai agak membaik daripada sebelumnya.
Senyuman yang timbul beberapa saat itu, sama sekali tak luput dari pandangan cowok yang sepertinya telah terpesona pada Ivory.
"Buka jaket lo." titah Ivory lagi seperti seorang ibu yang terus memberi perintah pada anaknya.
Mata Kastara seketika mendelik tajam. "Mau ngapain lagi lo?" tanyanya berusaha menjauh dari jangkauan Ivory.
Namun, belum seberapa jauh pergerakan Kastara, Ivory kembali menahannya. Tatapannya menatap tajam seolah mengatakan 'mau kemana lo?'
"Buka!" perintah Ivory mengulangi ucapannya.
"Enggak." Kastara juga masih bersikeras untuk mempertahankan jaketnya yang ingin dibuka paksa oleh gadis bar-bar tersebut.
"Aw!" Ringisan Kastara kembali terdengar karena Ivory dengan sengaja menekan lengan yang diduganya sebagai tempat luka itu berada.
"Buka," titah Ivory seraya berdiri. "Kalo gue balik dan lo belum buka, awas aja." Ancamnya sembari berjalan meninggalkan Kastara yang termangu.
Menghela napas pelan, kemudian membuka jaket yang membungkus tubuhnya itu dengan hati-hati.
"Sshh.., sialan. Baru sekarang sakitnya kerasa." umpat Kastara dengan pelan.
"Astaga!" terkejut Ivory yang tengah berjalan mendekat dengan membawa sebuah baskom berukuran kecil.
Ia langsung duduk di dekat Kastara, matanya menatap fokus pada lengan Kastara yang tampak terluka. Sedangkan tangannya tampak hati-hati meletakkan wadah berwarna biru itu ke atas meja.
Tangan Ivory tanpa basa-basi dan rasa canggung lagi langsung meraih lengan sebelah kiri milik Kastara yang terlihat terluka. "Kenapa bisa gini?"
Kastara tampak syok dengan pergerakan Ivory yang sangat tiba-tiba tersebut.
"Deketan sini," pinta Ivory agar Kastara mendekat sedikit ke arahnya dan memudahkannya untuk mengobati.
Meneguk ludah pelan. Kastara menurut, bergerak sedikit demi sedikit ke arah Ivory.
"Tahan bentar ya," ujar Ivory menatap mata Kastara. Kastara tanpa sadar pun langsung mengangguk.
Dan benar saja, selama Ivory membersihkan dan memberikan obat pada luka yang terbilang cukup dalam ini. Sang pemilik luka sama sekali tak mengaduh kesakitan seperti sebelum-sebelumnya.
Ivory meniup-niup kecil seraya mengoleskan sebuah salep menggunakan jari tangannya sendiri.
"Fyuhh... fyuhhh..."
"Sakit gak?"
Sebenarnya Ivory tak berniat menanyakan itu, tapi dia memang harus menanyakannya untuk mengambil perhatian Kastara dari rasa sakit yang pasti ada.
"Gak sakit."
Ivory seketika mendelik. "Gak sakit, gak sakit." cibirnya.
"Tadi aja pas gue obatin lebam di bagian muka cerewet banget bilang sakit." Lanjutnya mencibir pelan seolah mengejek Kastara.
"Emangnya kalo berantem gitu selalu bawa senjata tajam ya?" tanya Ivory mendongakkan kepala.
"Gak sering."
"Tadi bawa?"
"Bukan gue."
"Lawan lo?"
"Hm." Kastara berdehem mengangguk.
"Udah selesai."
Kastara seketika menunduk melihat lengannya yang sebelumnya terluka kini telah terbalut sebuah perban berwarna putih.
"Lo ada gunanya juga ya." ujar Kastara.
Entah itu adalah sebuah pujian atau hinaan. Tapi yang pasti Ivory merasa senang. "Gue emang berguna." Bangganya membalas.
"Tunggu di sini, gue ambilin minum."
Tanpa mendengar balasan dari Kastara, Ivory langsung saja beranjak meninggalkan ruang tamu dan menuju ke belakang.
Kastara tersenyum tipis menatap punggung Ivory yang mulai menghilang.
"Kenapa gue nyaman?" gumam Kastara sembari menyandarkan punggungnya. Memejamkan mata untuk merasakan sedikit kelegaan, entahlah rasanya ia sangat mengantuk sekarang.
Tak lama waktu berselang, Ivory kembali dari dapur dengan membawa sebuah nampan berisi segelas minuman.
"Lo tidur?" tanya Ivory meletakkan nampannya di atas meja.
Mata Kastara yang semulanya tertutup sontak kembali terbuka. "Cuma merem." elaknya.
Ivory hanya ber-oh ria.
"Nih, minum dulu." Serah Ivory memberikan sebuah gelas berisi minuman buatannya itu.
"Makasih."
Ivory terkekeh. "Gue kira lo gak tau bilang makasih."
Itu sindiran atau hinaan, tapi Kastara tak mengambilnya dengan serius. Karena ia sadar diri bagaimana sifat dan sikapnya jika berada di luar.
Ivory tampak diam mengamati Kastara yang sedang meneguk minumannya. "Kalo diliat gini lo ganteng juga ya."
"Gue tau kok."
"Dih," Ivory tergelak mendengar sahutan Kastara. "Lo lucu juga."
"Jangan muji orang lain kayak gitu."
"Kenapa?" Ivory jadi tertarik. Tubuhnya semakin didekatkan ke arah Kastara karena merasa tertarik dengan kelanjutan pembicaraan itu.
"Nggak papa."
"Ck." Ivory berdecak karena jawaban Kastara tak memuaskannya. Ia ingin mendengar jawaban yang berbeda.
"Maunya lo jawab 'karena cuma gue yang ganteng jadi pujiannya cuma boleh buat gue' harusnya jawabannya gitu tadi."
Kastara tertawa mendengar penuturan Ivory yang sangat diluar dugaan itu.
"Lebih ganteng lagi kalo lo ketawa kayak gini."
"Lo suka sama gue ya?" tuding Kastara seketika.
"Dih, enggak ya. Pede banget!" cibir Ivory tersenyum mengejek seraya memundurkan tubuhnya.
"Kenapa? Lo butuh sesuatu?" tanya Ivory menatap Kastara penuh khawatir.
Saat dia bergerak mundur tadi, Kastara tiba-tiba menahan tangannya. Otomatis ia terpaksa berhenti mundur.
"Kas, lo kenapa?" Ivory jadi panik tapi tak terlalu ditunjukkan. Tangannya berganti memegang Kastara balik.
Tatapan laki-laki dihadapannya sama sekali tak bisa ditebaknya, tatatapannya tampak kosong seolah ia memerlukan kehangatan untuk mengisinya.
"Izinin gue perlakuin lo sebagai cewek gue." pinta Kastara berucap pelan dengan tatapan mata yang tak redup.
Ivory mengerjapkan mata tak paham, tapi ia tetap mengangguk seolah telah terhipnotis dengan tatapan sendu itu.
Tubuh Ivory seketika menegang kaku. Ia sangat terkejut hingga tak bisa mengendalikan degupan jantungnya yang mungkin dapat didengar oleh semua orang.
Meneguk ludah susah payah. "Lo ngapain?"
"Bentar aja, gue mau istirahat sebentar." balas Kastara berbisik pelan di leher Ivory.
Sebelumnya, Kastara secara tiba-tiba saja menarik tubuh Ivory agar semakin mendekat padanya, menahan tangan kiri Ivory menggunakan tangan kanannya.
Kemudian menjatuhkan wajahnya tepat di atas bahu kiri Ivory, menelusupkan wajahnya di ceruk leher gadis itu dan menghirup aroma yang dapat menenangkannya.
Jangan lupakan tangan kirinya yang ikut memeluk tubuh Ivory, meskipun hanya sebelah tangan tapi jangan salah, pelukan Kastara terasa erat dan melingkar penuh pada tubuh kecil itu.
"Kasi gue kehangatan Vo..."
Kesadaran Ivory telah kembali, kedua matanya bergetar tak karuan. Oke, ia sekarang kembali ngeblank.
Mencoba menetralkan degup jantungnya yang kian memompa dengan keras. Tangan kanannya yang bebas coba untuk diangkat dengan ragu-ragu.
Menyentuh bahu bagian belakang yang terasa keras dan lebar milik cowok yang telah lancang memeluknya seperti sekarang.
Tangan Ivory berdiam sebentar, kemudian digerakkan dengan pelan dan lembut, mengusap punggung belakang Kastara dengan penuh kasih.
Entah apa yang telah Kastara lalui hingga ia bisa memberikan tatapan mata yang bisa membuat Ivory menjatuhkan air matanya hanya dalam satu kali kedip.
***