PART 17

207 24 28
                                        

"gue bener-bener ga nyangka si, sama itu adik kelas sumpah" bisik orang tersebut, "gue juga anjir, murah banget jadi cewe" sahut teman yang satunya.

"anaknya udah dapet sekarang giliran bapaknya, emang ayam kampus" sambung yang lainnya.

Pagi ini adalah awal semester yang sangat menegangkan, bagaimana tidak menegangkan selama perjalanan dari parkiran sampai ruang tata usaha semua orang berbondong-bondong bergosip. Pembicaraan mereka sekilas nampak sama, membicarakan perempuan murahan yang tega mengencani ayah dari pacarnya, entah siapa yang mereka bicarakan. Aku tak seperduli itu, aku ditugaskan sebagai penanggung jawab pengganti mata kuliah hari ini untuk mengambil infocus dan absesnsi.

Dari kejauhan aku melihat adit dan bobi sedang asik berbincang. "dit, boleh minta tolong bawain infocus ga ke kelas gue?" tanyaku pada adit, pasalnya aku bener-benar kesusahan. Selain besarnya infocus tangan kiriku pun penuh dengan tugas teman-teman kelas yang di titipkan dosen untuk kuis mata kuliah selanjutnya.

"ehh astaga, lo gapapa? Sini gue bantu" tutur adit yang sepertinya merasa kasihan dengaku, "duh lo kalo ga bisa bawa semuanya minta tolong diva atau tia kek yang sama-sama sekelas" omel bobi, "orang gue minta tolong adit bukan lo" kesalku.

Namun yang namanya bobi, biarpun mengomel tetap saja ia bantu. "gue kasian sama lo dodol" ucapnya sambil menoyor kepalaku yang langsung aku menghindar.

"oiya kalian lagi ngapain di lorong fakultas ini?"

"biasa tuh si bobi ngajakin gosip dulu" jawab adit, "iya gue dari tadi liat orang-orang banyak banget yang gosip sepanjang koridor, emang ada apa si?" tanyaku penasaran

"biasa, mantan bestie lo berulah lagi" celetuk bobi, aku dibuat kebingungan olehnya. Mantan bestie ? siapa?

Adit mengehela nafas, " si sonya katanya jadi selingkuhan om-om" sambungnya.

Aku terkejut mendengernya, "kalian tau dari mana, jangan fitnah" tuduhku

" adik nya yogi koar-koar di akun instagram lambe kampus kita, katanya bokapnya selingkuh sama salah satu mahasiswi di kampus kita" lanjut bobi, "ko bisa si sonya jadi tersangka?"

"dia mergokin bokapnya lagi ngedate dan fotoin sebagai tanda bukti, terus kesebar deh. Anak kampus udah tau busuknya dia"

Otakku memang tak sepintar mereka, "bentar gue ngelag, tadi adiknya siapa?"

"yogi, mantan gebetan lo bill" jawab bobi, benar aku tidak salah dengar. Aku benar-benar syok mendengernya, bagaimana bisa anaknya di jadiin pacar tapi ayahnya di jadiin selingkuhan.

"gue juga sama kagetnya kaya lo bill, itu cewe emang maruk banget. Udah dapetin anaknya minta lebih dengan cara ikut morotin juga bokapnya" ungkap adit,

Sepanjang jalan menuju kelas, aku termenung memikirkan kejadian ini. bobi dan adit masih lanjut bergosip sembari membawa tumpukan tugas dan infocus ku.

__

hari libur yang biasanya ku pakai dengan bermalas-malasan dirumah, kita tidak lagi. Misel dan ka erni jam delapan pagi sudah berada diteras rumahku. Apalagi kalau tidak mengajakku joging pagi di CFD.

"gue cape kak, nunggu disini aja ya. Kalian lanjut aja" ucapku dengan nada ngos-ngosan, padahal aku baru dua putaran. Namun rasanya seperti sepuluh putaran, mungkin efek tak pernah berolahraga ya seperti ini.

aku berjalan menuju taman yang ramai, banyak keluarga ataupun pasangan yang sedang berbincang atau sedang bersantai dengan jajanannya.

Namun fokusku beralih pada sosok pria yang tak asing, dengan sebatang rokok yang dihisapnya dan tatapan kosong. Ka yogi, benar itu ka yogi. Kenapa di seperti sedang banyak masalah, tatapan nya sangat kosong. Jarak ku dengannya sekitar 2 meter, dan sepertinya ia tak menyadari aku berada di radius dekatnya. Syukurlah! Aku bisa leluasa melihat dia walaupun dalam jarak jauh.

Aku jadi teringat obrolan dengan bobi dan adit, apa jangan-jangan itu benar adanya. Karna ga mungkin seorang yogi datang ke tempat keramaian hanya untuk menghabiskan sebatang rokok dengan tatapan tajam bukan, pasti ia sedang memikirkan hilir masalah yang sedang terjadi.

Rasanya aku ingin menghampirinya, namun kembali ku sadar diri. Aku bukan siapa-siapanya, dan aku tak berhak andil ikut campur dengan urusannya.

"dari tadi lo kita cariin, orangnya malah nangkring disini" celetuk ka erni datang bersama misel. "nih cilor pesenan lo bill" kata misel menyodorkan beberapa jajanan padaku.

"eh bukannya itu si yogi ya?" tanya ka erna,

Aku dan misel kembali memfokuskan yang di tanyakan ka erna, "iya kali" jawab ku sekenanya, sebenarnya aku tahu. Namun sengaja berpura-pura tak tahu dan tak peduli.

"iya, dia kayaknya lagi banyak masalah deh" sambung misel,

"lah emang ada tau, lo gatau sel ? bokapnya kan selingkuh sama pacarnya" sahut ka erna, "HAH! SUMPAH LO KAK?" teriak misel yang langsung ku bekap suaranya karna menjadi perhatian orang sekitar, "gue ga budek misel, biasa aja kalo. Orang di kampus kita lagi viral"

"gila si ini kasus ter edan sejagat raya"

"bukan edan lagi sel, gue heran banget sama cewenya sumpah. Yogi kurang apa si sebenernya, dan bokapnya kaya ga ada cewe lain aja"

Tak di kampus tak di luar, masih saja bahasanya tentang masalah ini. aku tak berkomentar banyak, lebih menjadi pendengar saja.

" bentar deh gue mau ke toilet dulu ya" pamitku, sebenarnya bukan ingin ke toilet karna kebelet, tapi karna aku penasaran yogi sudah beranjak dari tempat duduknya, jadi aku mulai mengikutinya.

Ka yogi berhenti disebuah persimpangan jalan sepi, seperti sedang menunggu seseorang.

"lo mau apa lagi? Udah puas buat gue dan keluarga gue hancur?" sarkasnya ada perempuan itu, namun sepertinya aku kenal dengan perempuan itu. Yaps! Itu benar sonya

"sayang kamu itu salah paham, please percaya sama aku" rengek sonya sambil mencoba menggenggam tangan ka yogi, namun itu semua di tepis, "hubungan kita cukup sampai disini aja ya, gue udah muak sama lo" pungkas ka yogi langsung pergi dari hadapan sonya.

Aku langsung kembali bersembunyi dengan berpura-pura membeli jajanan tahu bulat, "neng mau jadi mau beli berapa" suara mamang tahu bulat membuatku kaget, "eh iya lima ribu aja mang"

"gue tau ko dari tadi lo nguping pembicaraan" suara itu tak asing bagiku, "gausa pura-pura gatau deh, puas lo liat gue kaya gini?" sambung nya, orang itu sonya.

"maksudnya?"

"tapi gue cukup puas si, liat lo di ghosting sama gebetan lo. Dan gue juga berhasil nikung lo" ungkapnya dengan nada sinis, "jadi lo sengaja? Emang gue salah apa sama lo nya?"

Sonya terkekeh, "salah lo banyak, salah satunya lo rebut iky dari gue"

"gue ga rebut dia, kita cuman temenan dari dulu"

"pertemanan antara cowo dan cewe itu bullshit!, lo gatau betapa gue tersiksanya pacaran sama dia. Yang tiap detik dan menit selalu ceritain lo di depan gue" ungkapnya, "iky itu sukanya sama lo, bukan sama gue. Dia diem-diem itu merhatiin lo, pacaran sama gue cuman peralihan isue karna dia ga mau dicap suka sama musuhnya sendiri" lanjutnya,

Aku cukup syok dengan pernyataannya, "gue gatau sonya, kalo lo mikir gue rebut iky. Itu ga pernah terjadi, gue temenan sama dia tanpa perasaan. Gue minta maaf dengan kejadian itu bikin lo sakit hati dan berubah jadi pendendam ini" ungkapku,

Aku tak melihat respon maupun mimik muka sonya, aku sudah terlalu muak dengan sikapnya. Yang dengan seenaknya menuduh orang tanpa bukti.  

INSECUREWhere stories live. Discover now