• IGATT - 3 •

Start from the beginning
                                    

Benuabestn: add back
Benuabestn: kaget ya gue tau id line lo?

Reflek, gadis itu menelungkupkan ponselnya ke kasur. Gemas, ingin sekali memakan Benua hidup-hidup.

Benuabestn: gue bener ya?

Lalalalisa: gak.

Benuabestn: lo nyuruh gue buat nemuin lo di ruang musik sepulang sekolah apa maksudnya?

Lalalalisa: liat aja nanti.

Benuabestn: oke bby

Lalalalisa: najis.

Benuabestn: ^.^
Read.

Lalisa mendelik. Apa-apaan?!

Dasar kang kerdus.

Lihat saja, jika ada yang mengganggunya lagi, ia takkan meghiraukannya. Park bo gum sedang berbincang dengan lawan mainnya saat pintu kamar Lalisa diketuk.

Lalisa belum mengubah posisinya saat pintu kamarnya dibuka. "Lalis?"

Lalisa menoleh sambil menoreh senyum palsu. "Iya?"

Ibu Lalisa menggeleng kecil sambil terkikik geli. "Ternyata kamu udah move on juga ya."

Dahi Lalisa berkerut lalu ia terduduk di pinggir kasur. "Maksud mama?"

Ibu Lalisa justru mendekat sambil menjitak pelan kepala Lalisa hingga ia meringis. "Kamu kalo lupa jangan kelewatan, tuh pacar kamu jemput katanya udah janjian."

"Hah?"

Ibunya tersenyum penuh arti padanya. "Iya, pacar kamu. Mama harap yang satu ini gak kayak 'dia' ya, Mama juga seneng kamu udah mau buka hati lagi buat orang lain yang pantas."

Lalisa bangkit berdiri menghadap sang ibu. "Apaansih ma? Lalis gak punya pacar."

Senyum Ibu Lalisa memudar. "Ah, belum kali Lis. Yaudah sana kamu ganti baju, kasian nungguin."

Lalisa menggeleng. "Tapi Lalisa gak punya pacar ma──"

"Cepetan atau uang jajan kamu mama potong?"

Mata Lalisa melotot. Sejak kapan ibunya main ancam begini?

Beberapa menit kemudian, Lalisa sudah siap dengan style khas miliknya yang selalu simple ── nyerempet males.

Langkah Lalisa terhenti di anak tangga terakhir sambil matanya memincing menatap ruang tamu rumahnya. Dari postur tubuh cowok yang duduk di hadapan Ibunya itu, seperti tidak asing dimata Lalisa.

Sampai cowok itu berbalik dan tersenyum sambil melambaikan tangan kearah Lalisa. Cewek itu melotot, tangannya mencengkram pegangan tangga dengan kuat sampai buku-buku jarinya memucat.

"Benua!"

Dari mana ia tahu alamat rumahnya?!

•••

Dan disinilah mereka sekarang, di sebuah restoran milik keluarga Benua saling duduk berhadapan di sebuah meja dekat jendela.

Suasana kota Jakarta di hari minggu yang tak seramai hari biasa menjadi pemandangan yang di pandang oleh Lalisa. sedangkan Benua, memandangi wajah Lalisa dari jarak dekat begini saja sudah ingin sujud syukur ── percaya diri dengan kemenangannya.

Lalisa melirik ke arah Benua. "Ngapain?"

"Hah?" Benua merasa dirinya tak melakukan apa-apa selain memandangi Lalisa.

"Ngajak gue kesini."

Benua berdehem, lalu melipat tangannya di atas meja. "Lo mau pesen sesuatu? Mumpung restorannya punya tante gue."

Lalisa menghembuskan napas pelan. Lelah dengan kekayaan keluarga dan sikap sembrono Benua. "Langsung aja."

"Nggak ada maksud lain si sebenernya, cuma mau jalan."

Idih. "Jalan? Lo siapa?"

Lalisa tak percaya dengan apa yang barusaja ia dengar. Harus berapa kali lagi dia menolak agar cowok itu menjauh?

"Calon masa depan lo," Benua berkata dengan santai sambil melihat-lihat daftar menu tanpa ada niatan untuk memesan sesuatu.

Gadis itu hanya diam sebagai tanggapan. Benua terkekeh pelan, menopang dagunya dengan punggung tangan.

"Tadi setelah dilihat-lihat rumah lo lumayan juga, tapi yang keliatan cuman lo sama Mama lo doang, Papa lo kemana? Lo gak punya kakak atau adek gitu?"

Lalisa mengalihkan pandangannya kembali ke jendela. Ini salah satu alasan mengapa ia tak mau bersikap ramah kepada orang asing, tidak mau mereka masuk ke kehidupannya, lalu mengorek pembahasan yang tak ia sukai seperti ini.

Jika saja Benua tahu kalau Papanya adalah sumber yang menghancurkan keluarganya, ia berharap Benua takkan membahasnya lagi.

Lalisa menghela napas lewat celah kecil bibirnya. "Bukan urusan lo."

Ia menatap Benua dengan tatapan serius. "Gue harap lo jangan deket-deket gue. Gue nggak suka kalau ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupan gue tanpa izin. Gue harap Lo ngerti, Benua. Gue ngerasa nggak nyaman."

Lalisa merapikan tasnya, lalu buru-buru bangkit dari sana, tapi Benua menahan tangannya.

Lalisa menoleh, "Besok tetep temuin gue di ruang musik sepulang sekolah."

Lalisa menyingkirkan tangan Benua dengan perlahan, lalu pergi.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ice Girl And The TroublemakerWhere stories live. Discover now