Chapter 20 - Marie's Party [3]

20.4K 1.6K 92
                                    

jangan lupa meninggalkan jejak!

***

Margo mendongak, menatap langit yang tampak indah dengan bintang-bintang yang menghiasi.

Dia sudah berhias, mengandalkan kemampuannya yang lumayan. Dan Margo berhasil merubah dirinya sendiri menjadi Cinderella untuk malam ini. Well, dia jarang menyentuh make-up, hanya sesekali, itu pun tidak berlebihan. Mungkin karena itu dia tampak sangat berbeda malam ini.

Gaun hitam yang tampak elegen, serta tas dan sepatu yang senada membuat dirinya terlihat berkelas. Rambutnya tetap diurai, menutupi bagian belakang punggungnya yang terbuka bebas. Ya, baju ini seksi.

Margo menghentikan aktivitasnya dan beralih ke arah Daniel. Laki-laki itu tampak diam sepanjang perjalanan, seolah ada hal lain yang menganggu pikirannya.

Apa itu soal pekerjaan? Atau hal lain? Margo tak tahu. Tapi setidaknya, dia senang karena malam ini ... untuk pertama kalinya Margo akan berkenalan dengan teman-teman Daniel.

Dia bahagia karena perlahan-lahan Margo benar-benar merasa kalau dirinya adalah bagian dari hidup Daniel. Bukan hanya sekadar kesalahan.

"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Margo membuka pembicaraan. Untung saja Daniel memutuskan tidak menyetir malam ini, kalau sampai laki-laki itu mengemudi, Margo yakin mereka akan menabrak sesuatu. Sungguh, fokus Daniel tidak di sini.

Iris biru itu masih memandang ke depan tanpa berkedip. Kosong. Tak tahu ke mana rohnya sedang terbang, meski badannya masih di sini.

Margo menarik napasnya, merasa diabaikan. Tapi dia memutuskan untuk melupakan rasa kesal itu dan menyentuh tangan Daniel. Ya, dia ingin tahu apa yang sebenarnya menganggu pikiran Daniel sejak tadi? Kenapa ... dia jadi aneh sejak mereka berangkat?

"Hah? Kenapa?" Daniel tersentak ketika jari-jari Margo yang dingin menyentuh tangannya. Sejak tadi, pikirannya tidak berada di sini. Dia sedang berpikir tentang ... bagaimana mungkin nanti dia menghidari Amy? Sebab sejak kemarin, Daniel mengabaikan telepon wanita itu.

Bukan karena hal spesial, bukan pula karena rasa cintanya telah pupus. Tapi, dia sedang berusaha menjaga perasaan Margo. Daniel meminta wanita itu untuk tinggal apapun yang terjadi, oleh karena itu ... tidak mungkin kan dia menyakiti Margo lagi, setelah memintanya untuk tetap tinggal di sisinya?

Ya, Daniel memang bajingan. Dia tidak paham dengan perasaannya sendiri. Terjebak di dalam cinta yang tak terbalas selama 15 tahun sungguh mengubah dirinya menjadi sosok labil. Dia tidak bisa menentukan, wanita mana yang sebenarnya membawa seluruh hatinya?

Apa Daniel mencintai kedua wanita itu?

Jikalau iya, apa rasa cintanya sama?

Sama persis di antara keduanya?

Tidak, Daniel yakin, ada satu wanita ... yang menguasai hatinya lebih banyak, karena tidak mungkin perbandingan cintanya sama.

Tapi masalahnya, Daniel tak tahu ... wanita mana yang benar-benar dia cintai.

Margo?

Amy?

Daniel sungguh tak tahu!

"Hey." Margo menyentuh pipi Daniel dan menatap netranya lekat. "Apa kau tidak enak badan? Jika iya, kenapa kita tidak pulang saja?"

Daniel memandangi wanita di depannya dengan tatapan tak terbaca. Mendengar perkataan Margo yang begitu tulus dan perhatian, Daniel merasa terenyuh. Padahal awalnya, dia tidak mau mengajak Margo ke pesta karena tidak ingin mempertemukan dua wanita penting dalam hidupnya di satu tempat.

Tapi, setelah melihat Margo begitu antusias dengan pesta ini, Daniel mengurungkan niatnya.

Margo melakukan segala yang ia bisa untuk tampil sempurna, agar dia bisa dipandang layak. Ya, Daniel tahu, wanita itu berusaha keras untuk mempercantik dirinya agar dia dianggap sepadan untuk berdiri di sisi Daniel. Padahal tanpa melakukan hal itu, Daniel selalu menganggap Margo cantik. Tidak hanya wajah, tapi juga hati. Dia punya hati yang luar biasa, yang bisa membuat bajingan berengsek seperti Daniel tersentuh.

"Aku tidak apa-apa." Daniel berusaha tersenyum dan menatap baju Margo. "Seharusnya kau memakai yang peach, bajumu ini terlalu terbuka." Daniel baru menyadari kalau Margo memilih pakaian yang seksi. Entah kenapa, dia justru tak senang karena bagian tubuh Margo terekspos.

Well, Daniel yang membelikan baju ini. Dia suka wanita dengan baju seksi, karena itu dia memberikan Margo dua pilihan. Tapi entah kenapa, sekarang justru dia kesal melihat Margo memilih baju ini. Dia tidak suka, apalagi ketika membayangkan berbagai pasang mata memandangi tubuh Margo.

Tidak, Daniel benci ide itu.

"Pakai ini." Daniel melepaskan jas hitam itu dan memasangkannya pada tubuh Margo. "Aku tidak suka kau memakai pakaian ini."

"Eh?" Margo terbengong ketika jas Daniel sudah menutupi bagian bahu dan dadanya yang terbuka. "Tapi kau yang membelikan baju ini?"

"Dan aku menyesal." Daniel menjawab lagi. "Jangan lepaskan jas itu. Aku tidak suka laki-laki lain memandangi tubuhmu. Kau tahu? Semua pria sama saja. Sama-sama bajingan."

"Semua pria? Berarti ... kau juga kan?" Margo terkekeh pelan, menggoda Daniel. Lucu. Daniel belum pernah bertingkah seperti ini sebelumnya. Hati Margo menghangat lagi, dan ... untuk kesekian kalinya dia jatuh cinta pada orang yang sama.

"Aku?" Daniel menyeringai. Seketika, dirinya jadi ingin tertawa. "Ya, aku bajingan. Semua orang tahu hal itu, tapi ...."

Daniel menggantungkan ucapannya di udara, membuat tawa Margo yang awalnya tampak merdu menjadi surut karena bingung. Wanita itu menunggu kelanjutan ucapan Daniel, tapi yang ada laki-laki itu malah maju dan maju, membuat Margo tersudut sampai ia tak bisa bergerak lagi.

"K-kau mau apa? Ada bodyguard di depan." Margo terbata karena gugup. Posisinya dan Daniel begitu dekat, belum lagi di depan mereka ada bodyguard yang malam ini bertugas mengantar kedua pasangan itu ke pesta. Sungguh, Daniel tidak akan melakukan hal gila kan di sini? Kalau iya, bagaimana Margo harus menampakkan diri di depan para pegawai rumahannya besok?

Mau ditaruh di mana mukanya?

Daniel lagi-lagi tertawa, apalagi saat melihat ekspresi wajah Margo. Dia mendekatkan diri pada telinga Margo, lalu berbisik lirih, "Tapi bajingan ini ... berhasil membuatmu jatuh cinta, bukan?"



***

a/n :

Ini pendek, kutahu. Dah pendek lama lagi WKKWKWKWKKW.

tapi jan lupa tinggalkan jejak dan kasih komentar ya, soalnya kalau banyak aku rencananya mau double update *rencananya*.



ah, aku mau nanya dong.

Adakah yang belom baca That Devil is MY CEO tapi dah baca ini?

atau sudah baca semua?

dijawab ya, thanks!



[#W2] The Bastard That I Love (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang