12. Jawaban.

13.3K 631 20
                                    

Hari ini adalah hari dimana Kanaya harus memberi jawaban soal perjodohan itu. Keluarga dari pihak pria datang ke rumah Kanaya untuk memastikan jawaban dari Kanaya . Mereka tidak mau memaksa Kanaya soal perjodohan.

"Di mana Adnan, kok tidak diajak?" tanya ibu Kanaya.

"Maaf, Adnan tidak bisa ikut karena ia masih ada di pondok. Insyaallah minggu depan baru pulang,"  jawab laki-laki paruh baya itu. Dia adalah ayah dari Adnan, yang bisa dibilang calon mertua Kanaya.

"Oh jadi begitu, baiklah tidak apa-apa," uja ibu Kanaya.

"Lalu, dimana anak-anakmu? Kamu kenapa asendirian," ujar wanita paruh baya yang duduk di sebelah ayah Adnan. Dia adalah ibu Adnan.

"Kanaya sedang ada di dapur, tadi aku  menyuruhnya membuat minuman untuk kalian. Sedangkan Riris pasti sedang membantu Kakaknya itu."

~Beberapa saat kemudian~

"Ini minuman dan makanan ringannya silahkan dimakan," ujar Kanaya sambil menyuguhkan hidangan yang telah ia dan adiknya buat. Sedangkan Riris langsung duduk disebelah ibunya.

"Ya, terimakasih nak! Subhanallah kamu cantik sekali Kanaya. Sungguh beruntung anak tante bisa menikah denganmu," ujar ibu Adnan.

Kanaya yang mendengar pujian itu langsung menundukkan kepala dan tersipu malu. Lihat saja pipi Kanaya sudah merah seperti tomat.

"Begini Kanaya, kedatangan mereka kesini ingin mendengar jawaban dari kamu soal perjodohan yang ayah mu wasiat kan dalam surat itu," Ibu Kanaya menjelaskan kedatangan keluarga Adnan berkunjung ke rumah.

"Lalu, bagaimana jawaban kamu.
Kami menunggu jawaban itu," ujar Ayah Adnan.

"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dengan lapang hati dan dengan pikiran yang jernih. Setelah saya pertimbangkan dengan matang, saya Kanaya insyaallah SETUJU dengan perjodohan ini," jawab Kanaya mantap.

"Alhamdulillah," Seisi ruangan menjawab kompak. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka.

Butuh waktu berminggu-minggu bagi Kanaya memikirkan jawaban perjodohan itu  Ia pertimbangkan dari segala sisi baik dan buruk di dalam agama maupun kehidupan nyata.
Tak hanya sekali Kanaya shalat istikharah untuk memantapkan hati dan perasaannya. Hingga Allah memberi kemudahan dari setiap pengambilan keputusan dari Kanaya. Inilah yang ia dapat. Kanaya menerima perjodohan ini dan setelah pernikahan terjadi , tentu ia harus berhenti sekolah dan mengubur semua mimpi dan angan yang ia miliki. Namun mungkin ini sudah menjadi takdir Allah. Kanaya akan menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Jika Allah berkehendak mengambil keputusan yang lebih baik, maka itu akan terjadi.

Kanaya POV'

Ku lihat ada mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Kemudian beberapa orang keluar dari mobil mewah berwarna silver. Aku belum pernah mengenal mereka, yang aku tahu hanya satu. Mereka adalah satu keluarga yang akan meminta jawaban dari perjodohan itu. Adnan ,itulah nama pria yang akan di jodohkan denganku. Usianya 4 tahun lebih tua dariku. Adnan adalah santri di pondok pesantren terkenal, ponpes Lirboyo yang ada di kediri.

"Itu mereka sudah sudah datang," ujar ibuku.

"Pergilah ke dapur dan buatkan minuman juga beberapa makanan ringan untuk mereka. Setelah itu kamu siap-siap ya, Kanaya!" perintah ibu.

Aku hanya mengangguk dan menuruti perkataan ibu, segera aku berjalan ke arah dapur membuat kopi, teh dan menyiapkan beberapa makanan ringan.

Minuman sudah selesai aku buat. Tinggal meletakkan makanan ringan di toples dan di piring.

"Sini kak aku saja yang meletakkan makanan itu di piring. Kakak siap_siap saja gih, jangan lupa dandan yang cantik," pekik Riris dengan mendorongku menjauhi dapur. Aku tersenyum kemudian menuruti keinginannya.

Di kamar, bersiap-siap ala kadarnya . Sebisa mungkin aku tampil netral dan tidak terlalu mencolok namun tetap terlihat anggun. Kerudung motif bunga rok berwarna peach dan blezer hitam.

 Kerudung motif bunga rok berwarna peach dan blezer hitam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ilustrasi penampilan Kanaya.

Setelah selesai aku segera ke dapur membantu Riris membawa makanan dan minuman. Aku dan Riris segera berjalan ke ruang tamu, kemudian aku menyuguhkan minuman kepada mereka, sedangkan Riris yang menyuguhkan makanan.

"Ini minuman dan makanan ringan nya silahkan di makan," ujarku , sementara Riris tanpa basa-basi langsung duduk di kursi sebelah ibu.

Mereka memuji kecantikanku. Apa ini, kenapa aku sangat malu. Lihatlah pipiku pasti memerah, semoga saja mereka tidak mengetahui ini .
Tunggu dulu, mana yang namanya Adnan. Mereka hanya bertiga. Satu laki-laki paruh baya seusia Almarhum ayah dan yang dua wanita.
Apa mungkin laki - laki itu yang mau dinikahkan denganku. Mimpi apa aku semalam.

"Adnan tidak datang, ia masih ada acara di pondok, mungkin lusa baru pulang. Saya ayahnya," ucap pria paruh baya itu .

"Panggil saya, om Fairus dan ini ibu Adnan yang juga istri om nama nya Fida, dan satu lagi adiknya Adnan namanya Nan ...."

"Aku Nandini adik kesayangan kak Adnan satu-satunya." Gadis cantik itu memperkenalkan diri dengan menyela pembicaraan ayahnya. Namun om Fairus hanya tersenyum melihat anaknya yang sangat antusias itu.

Kenapa Adnan tidak datang. Apakah mungkin ia tidak berniat menerima perjodohan ini. Ah mungkin ini cuman pikiran buruk ku saja. Lagi pula tadi om Fairus bilang kalau dia sedang ada acara di pondok tempat ia belajar dulu.

Pembicaraan di lanjutkan soal perjodohan itu. Om Fairus menceritakan awal mula ayahku dan om memulai perjodohan itu. Mereka sepakat jika anak pertama ayah perempuan, maka mereka akan di jodohkan. Saat itu usia Adnan sudah 3 tahun. Dan ternyata benar, anak ayah itu aku .

Kemudian om Faris bertanya kepadaku tentang keputusanku. Karena meskipun dijodohkan mereka tidak mau terlalu memaksa. Karena mereka paham yang menjalankan pernikahan itu adalah anak mereka.


Hatiku berdebar, jantungku berdetak tak beraturan, tanganku mulai basah karena grogi.

"Bismillaahirrahmaanirrahiim. Dengan lapang hati dan dengan pikiran yang jernih. Setelah saya pertimbangkan dengan matang, saya Kanaya insyaallah SETUJU dengan perjodohan ini."

Itulah yang aku ucapkan. Hati serasa lega setelah mengatakan itu. Ada kebahagiaan yang aku rasakan. Semoga dia benar- benar jodohku. Dan semoga Allah merestui ku dan dia.

Seluruh orang yang ada di ruangan itu mengucap syukur secara bersamaan raut wajah bahagia terpancar jelas di wajah mereka. Nandini dan Riris berpelukan. Mereka berdua sudah akrab meski baru ketemu .

Tak berselang lama kemudian mereka semua pulang.

"Alhamdulillah nak, semoga kamu bahagia. Ayahmu pasti juga bahagia melihatmu sekarang" ujar ibu dengan mata yang berkacaaca karena terharu.

"Iya bu," jawabku seadanya.

Semoga saja apa yang ibuku katakan benar, aku akan bahagia dan semoga suamiku kelak bisa menjadi imam yang baik untukku. Semoga juga ia bisa menyayangiku seperti Ali bin Abi Thalib yang menyayangi Fatimah Azzahra.

Votmennya jangan lupa 😃.

Thank kyu.

Salam manis.
◇◇Karina◇◇

JODOH DI USIA MUDA (Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang