ini janjiku

30.3K 1.1K 4
                                    

Arin pov

Aku menutup pintu ruang rawat ibu dan berjalan pelan ke sebuah taman yang ada di sekitar rumah sakit . Melihat banyak sekali lalu lalang para pasien juga suster serta dokter membuatku mengingat kembali kelalaianku yang mengakibatkan ibu sampai masuk kerumah sakit .

Kalau saja ibu mau tinggal bersamaku, pasti aku akan lebih bisa merawat ibu dengan baik . Tapi karena sikap keras kepala ibu membuatku tak bisa berbuat apa apa .

Duduk di salah satu bangku taman, aku terus menatap ponselku . Menimang nimang apa aku harus menelpon ali . Ali saja sampai sekarang tak juga mengabariku . Sekedar untuk bertanya soal ibu pun tidak . Bagaimana bisa aku berharap jika ali merindukanku .

Aku menghembuskan nafas kasar dan mengotak atik ponselku mencari kontak ali . Aku harus tetap mengabari ali mengingat ali adalah suamiku .

Saat ingin memencel tombol panggil tiba tiba ada telepon masuk dari ali . Aku terkejut karena tak menyangka ali akan menelponku . Dengan perasaanya gugup aku menjawab telpon ali .

"Hallo"

********************
Ali pov

"Kamu baik baik saja?" Tanyaku membuka obrolan . Jujur aku sangat bingung apa yang harus aku katakan pada arin .

Setelah beberapa menit berfikir, dan karena ocehan magenta yang tak kunjung henti untuk menyuruhku menelpon arin, itu  membuatku akhirnya memberanikan diri menelpon arin, tapi sekarang aku bingung apa yang akan aku bicarakan .

Dalam hati ingin sekali mengucapkan kalau aku merindukannya, tapi aku takut jika nanti arin akan mengejekku .

"Aku baik, kamu bagaimana? Dan kenapa bisa meneleponku, kamu tidak sibuk" ucap arin di seberang sana . Sungguh aku sangat merindukan suara ini .

"Ini masih pagi, dan aku juga belum pergi ke kantor" ucapku padahal aku sama sekali tak bersemangat ke kantor karena hari ini aku menyiapkan pakaian kantor dan apapun yang aku butuhkan untuk ke kantor sendiri .

"Sudah jam setengah delapan, kamu belum pergi ke kantor?? ada apa? Apa ada yang kamu cari tapi kamu tidak menemukannya? Maaf jika aku menaruh barangmu terlalu rapi sampai kamu sulit untuk menemukannya" arin terus mengoceh dan merasa bersalah . Itu membuatku tersenyum kecil .

"Apa yang kamu butuhkan . Katakan padaku aku akan memberitahumu ...."

"Kamu" aku tak terdengar suara arin lagi . Ia terdiam . "Aku butuh kamu" lanjutku lagi .

"Ap..apa maksud kamu ali??" Terdengar ucapan arin yang sepertinya tak mempercayai ucapanku .

"Kapan kamu pulang? Apa ibu sudah lebih baik?" Aku mengalihkan pertanyaan arin . Sepertinya memang dia tak mempercayai ucapanku . Tapi aku mendengar suara arin mendesah kecewa . Apa itu artinya dia berharap .

"Ibu masih lemah ali, aku tidak tau kapan aku pulang, aku tidak tega membiarkan ibu sendirian" ucap arin membuatku terdiam . Sepertinya ini akan sulit .

"Memang ada apa ali?" Tanya arin lagi .

"Aku merindukanmu"

Bisikan pelanku membuat arin terdiam . Aku sudah tak bisa mengikuti egoku . Aku memang merindukannya . Aku ingin bertemu dengannya .

******************
Ali mengemas barang barangnya dan memasukannya kedalam sebuah ransel . Ia memutuskan untuk pergi menemui arin dan menyerahkan semua tugas kantor kepada davan .

Magenta yang baru memasuki kamar ali terkejut melihat ali yang sedang berkemas . Mengganti pakaian kantor yang sudah pakai tadi dengan pakaian casual dan berdiri di depan cermin merapihkan penampilannya .

Arin & AliTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang