Chapter 25

6.8K 405 4
                                    


"Ahhhhhhh!!!". Aku terpekik kaget.

Karena refleks aku langsung melemparkan buku yang aku genggam ke arah makluk itu, namun sayang buku itu tembus dan tidak melukai makhluk itu sedikit pun.

Aku langsung berlari menuju pintu dan berusaha mendorong meja yang aku gunakkan untuk menahan pintu tersebut.

Kakiku sudah terasa lemas akibat ketakutanku sendiri dan karena panik.

DUGH!

Kakiku tersandung oleh suatu benda dan akhirnya aku terjatuh tepat mengenai ujung meja dan melukai pelipis kananku. Aku melihat darah di tangan yang aku gunakan untuk memegang luka tersebut dan sepertinya pelipisku sobek. Aku akui memang unjung meja itu tajam karena ada besi disetiap sisinya.

Ya Tuhan, aku beruntung karena meja itu hanya melukai pelipisku, kalau meleset sedikit saja mungkin akan menusuk bola mataku dan akhirnya pecah.

Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil mendorong meja itu dengan satu tanganku. Ketika aku membuka pintu aku lebih terkejut lagi. Ada seseorang yang menatapku namun pandangan itu datar. Tapi sepertinya...

"H..he..hey, se..sepertinya aku mengenalmu?". Aku lupa, sungguh lupa. Aku tidak bisa mengingat dengan baik saat  keadaanku yang seperti ini.

"Aku yang menemuimu di dalam kamar mandi". Suaranya bergema dan terdengar parau.

"Be..benar, a..aku ingat. Ka..kau?

ka..kau?

Tunggu?

KAU KAN SUDAH MATI!".

DEG!!

Seketika, jantungku berhenti berdetak karena menelaah ucapanku yang baru saja aku katakan. Mungkin kalian akan tahu rasanya jika kalian pernah melihat hantu secara langsung dan JELAS.

Tanpa pikir panjang, aku langsung pergi meninggalkan hantu anak itu. Aku baru ingat sekarang, anak itu adalah anak yang dibunuh oleh bibi Lamia.

"HEY! I WANT TO TALK WITH YOU!!"

BRAAKKKK

"Ah!"

Seketika tubuhku terlempar keras ke dinding dan anak itu langsung memunculkan wajahnya di depan mukaku.

Aku ingin lari, tapi karena punggungku masih terasa sakit, sepertinya aku tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menutup kedua mataku agar aku bisa bangun dari mimpi buruk ini. Aku yakin ini hanya mimpi seperti malam yang sebelumnya.
Aku yakin!

Eh? Bagian telinga dan pipiku mengapa terasa dingin. Aku coba untuk mengintip sedikit. Ternyata anak itu sedang berusaha mendekatkan bibirnya ke telingaku.

Dan dia membisikan sesuatu ke telingaku...

"HAH? Benarkah?!". Tanyaku. Aku langsung membuka kedua  mataku ketika mendengar ucapannya barusan. Namun, sial  anak itu sudah menghilang terlebih dulu.

Aku tidak mengerti apakah yang dikatakan anak itu benar atau tidak. Mungkin, aku akan cobanya nanti.

Dan sekarang, aku harus ke kamar ayah dan membawanya keluar dari rumah ini. Aku sedikit lega karena kak Dylan tidak ada di rumah ini.

Oh ya, lebih baik aku tidak menggunakan senter ini karena bibi Lamia pasti akan mudah menemuiku melalui cahaya yang aku timbulkan.

Kamar ayah terletak di lantai  bawah, tepatnya disamping kamar bibi Lamia. Aku hanya berdoa semoga aku tidak bertemu dengannya disaat keadaanku yang seperti ini.

Born For This (Now, you know) [Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang