Dunia mungkin terus berputar. Mungkin saja dewi fortuna sedang tidak berpihak padamu. Tapi percayalah kalau keajaiban entah apapun itu selalu ada. Namun kamu harus tahu penempatan keajaiban itu dalam posisi yang benar. Seperti kata Albert Einstein, hanya ada dua cara dalam menjalani hidup. Yang pertama adalah anggap seolah olah di dunia ini tidak ada keajaiban. Yang kedua adalah anggap seolah olah segala sesuatunya itu adalah keajaiban. Mau bagaimana pun dunia berserta aktivitasnya tetap harus berjalan bagaimanapun kondisinya. Mungkin masalalu bisa menjadi pelajaran berharga untuk masa yang akan datang kelak.
☔☔☔
Hari ini matahari enggan menampakkan wujudnya. Sejak pagi sampai siang ini yang terlihat di langit Yogyakarta hanyalah awan berwarna abu-abu gelap sedang menggelayut menggantung di langit langit. Perlahan namun pasti air mulai menetes. Lalu seketika berubah menjadi hujan deras. Seorang cewek bernama Lian. Gilianca Kalisa Desky. Sedang duduk di depan kelas X MIIA 1 malah uring uringan gak jelas.
"Brengsek!! Sial! Kenapa harus hujan sih!?" gerutu Lian sambil mukanya di tekuk dua belas.
saat uring-uringan dan ngedumel sendiri gak jelas, ternyata ada beberapa pasang mata yang pandangannya tertuju pada Lian. Tatapan mereka mengisyaratkan kurang lebih begini 'ni cewe kenapa sih? Uring-uringan sendiri gak jelas. Kurang waras kali ni orang'.
Lian mah orangnya cuek cuek aja. Saking cueknya dia gak peduli orang mau nyemooh apa. Yang penting hidupnya happy happy aja. Orang yang jalanin juga Lian. Kenapa mereka yang repot? Iya gak? (Di iyain ajaa).
Lian masih stay cool di depan kelas X MIIA 1 sejak sejam yang lalu. Dia terus memandangi hujan yang turun dengan tatapan benci dan males. Tiba-tiba saja di samping Lian telah berdiri seorang cowok dengan perawakan tinggi, kulit sawo matang, dan rambutnya agak cepak ke atas mencoba bertanya dengan muka ramah kepada Lian.
"Permisi nona. Gue boleh duduk sini?" dengan ramahnya cowok itu bertanya.
"Duduk aja" jawab Lian agak ketus
"Kok gak pulang? Udah sore lho?" cowok itu mulai mengajak basa basi Lian.
Lian sontak langsung melirik ke jam tangannya. Jam 17.20 WIB.
"Hujan. Iya gue tau" jawabnya singkat
"Mau bareng gue? Gue bawa payung?" tanya cowok itu menawarkan.
Lian berpikir sejenak. Kemudian memalingkan wajahnya ke arah wajah cowok itu. Lian menatapnya tajam. "Kalo gue nunggu di sini sampai hujannya reda lah keburu lumutan deh gue. Tapi masak gue langsung nerima ajakan ni cowok. Ntar di kira gampangan?. Toh gue juga ga kenal dia siapa." Batin Lian dalam hati.
"Hello? Nona?" kini cowok itu melambai lambaikan tangannya 5 cm di depan mata Lian. Membuat Lian seketika memecahkan gelembung gelembung hitam yang mewarnai pikirannya.
"Hah? Enggak ah. Nanti gue ngerepotin elo" kata Lian sok gengsi
"Santai aja. Lagian kita kan temen?" cowok itu menjawab dengan nada enteng
"Temen? Orang kita belum kenal?" bantah Lian
"Yuk, jadi gak nebeng?" cowok itu tidak menggubris pertanyaan Lian yang barusan.
YOU ARE READING
-AFTER RAIN-
Teen Fiction{(COMPLETED}) Pasti di antara kalian ada yang suka hujan. Yah pasti banyak. Hujan itu indah. Ketika menikmati secangkir teh di depan teras rumah sambil memandangi hujan yang turun ke tanah lalu setelah jatuh entah hilang ke mana. Mendengarkan rinti...
