Chapter 43 : Satu Tahun Bersama

70 18 60
                                    

Haloo selamat datang kembali yaa sob-sobku!
Gimana kabar kalian hari ini?
Semoga selalu sehat dan Tuhan selalu menyertaimu.
Oke, langsung baca aja kali ya?
Selamat membaca dan Enjoy!

Satu tahun sudah hubungan Kay dan Rion berjalan. Selama satu tahun itu juga, berbagai macam kejadian terjadi pada hubungan Kay dan Rion. Sama seperti hubungan sepasang kekasih pada umumnya, Kay dan Rion pernah bertengkar, berbeda pendapat, mendapatkan pasang surut hubungan, dan masih banyak lagi.

Namun, salah satu di antara mereka selalu saja ada yang mengalah, membuat masalah yang menimpa hubungn Kay dan Rion tak berkelanjutan lama.

“Gimana? Semua persiapan untuk Nenek udah siap?” tanya Rion melirik Kay yang tengah sibuk melihat-lihat isi kantong yang ia bawa.

“Udah deh kayanya, udah lengkap,” jawab Kay masih dengan tatapan yang fokus pada kantong yang ia bawa.

“Jangan sampai kamu dikejar orang gila lagi, nanti aku harus beliin perlengkapan Nenek lagi. Terus bantuin kamu manjat tembok, juga beliin rok baru, ribet tau!” Rion menoyor kepala Kay pelan membuat Kay mendengus kasar.

“Nah, ‘kan suka mulai. Males ah,” rajuk Kay mengerucutkan bibirnya.

Rion selalu saja mengungkit kejadian yang memalukan. Kay malas jika harus mengingat kejadian memalukan itu, malahan Kay ingin lupa dengan kejadian memalukan di masa lalu.

“Eh, eh, iya sayang. Enggak lagi.” Rion tampak menahan tawanya melihat tingkah Kay.

“Udah ah, yuk berangkat. Cepetan! Enggak pake lama!” perintah Kay sembari mendorong tubuh Rion agar segera masuk ke dalam mobil dan pergi mengunjungi Nenek.

“Iya... Iya... Sabar dong.”

Kay masuk ke dalam mobil dengan raut wajah kesalnya pada Rion. Tapi... Dalam hatinya Kay tak benar-benar kesal pada Rion. Hanya saja, agar Rion tak lagi-lagi mengungkit kejadian yang memalukan. Kay benar-benar ingin lupa kejadian itu semua.

Kedua kalinya, Kay mengajak Rion bertemu Neneknya. Selama satu tahun berpacaran, Kay tak pernah sekali pun mempertemukan Rion dengan Irma. Setiap kali Kay melongok Irma, setiap detiknya Irma tak berhenti bertanya akan di mana pangeran yang akan menikahi Kay. Mungkin sekarang sudah saatnya Kay kembali membawa Rion ke hadapan Irma, agar Rion sendirilah yang menjawab pertanyaan Irma itu.

***

“Kamu ke mana saja? Baru melongok Nenek lagi sekarang. Kapan Pangeran mau menikahi Kalia, cucu nenek.”

Baru saja sampai di kamar Irma, Rion mendapatkan todongan dari Irma, akan pertanyaan kapan menikahi Kay. Sekolahnya saja belum selesai, bagaimana mau menikahi Kay?

Bahkan, Rion saja belum berpenghasilan, bagaimana mau menafkahi Kay dan anaknya nanti? Hah? Kenapa pikiran Rion sejauh itu? Lupakan.

“Nanti. Aku pasti menikahi cucu Nenek, tunggu saja waktunya ya. Sampai aku punya uang banyak.” Walau pertanyaan Irma ngaco, Rion tetap menjawabnya dengan serius.

“Sudahlah, Nek. Jangan terlalu banyak berekspektasi. Nih, aku bawa roti isi selai stroberi favorit Nenek. Aku suapin ya, Nek,” ujar Kay segera mengeluarkan roti favorit Irma.

Padahal ini kali kedua Rion melihat Kay berperilaku seperti ini pada Irma. Tapi, hati Rion tetap terenyuh ketika melihat sikap Kay yang begitu sabar menghadapi Irma yang kadang perkataannya tak jelas.

Melihat rambut panjang yang mengganggu Kay, Rion segera mendekatkan tubuhnya pada Kay. Berniat untuk mengikatkan rambut kekasihnya itu.

“Bentar,” ucap Rion menarik ikat rambut yang berada di pergelangan tangan Kay.

Past Courier (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang