Pertama dan Satu-satunya

6.1K 397 27
                                    

🌿

Sebuah senyum terutas di wajah Hasna. Lesung pipit langsung kentara menghiasi wajahnya. Sebuah foto masa lalu yang dikirim Fahri lewat whatsapp malam itu, membuatnya larut dalam memori. Dalam foto itu Hasna dan Fahri berada di puncak Bromo, tertawa lepas dengan latar belakang matahari terbit yang memesona. Foto itu diambil ketika Hasna dan Fahri mengikuti kegiatan tur bersama komunitas pecinta alam yang mereka ikuti saat mahasiswa. Petualangan ke Bromo adalah satu dari banyak memori tak terlupakan bersama sahabatnya itu.
.
[Kau ingat dinginnya Bromo kala itu?] Tulis Fahri dalam pesannya.
.
Masih tersenyum Hasna mengetik balasan,
.
[Haha ya. Kau hampir mati beku karena sok-sokan pinjemin jaket ke aku 🤭]
.
[🤣 Haha iya. Untung dibalikin sebelum aku pingsan kedinginan]
.

Sendirian, Hasna tertawa pelan dalam remangnya kamar tidur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sendirian, Hasna tertawa pelan dalam remangnya kamar tidur. Ilham tak bersamanya malam ini karena beberapa hari ke depan adalah jatah Airin untuk ditemani. Ia baru saja hendak memejamkan mata saat sebuah pesan dari Fahri masuk. Pesan yang membuatnya terjaga dan tertawa mengenang masa lalu.
.
Entah kenapa, Fahri belakangan ini sering mengiriminya pesan penuh memori seperti ini. Awalnya Hasna ragu untuk menimpali, namun gelitik memori membuatnya ikut hanyut dalam obrolan bersama Fahri. Nuraninya mengatakan ini seharusnya tak boleh terjadi, bukankah Ilham menyuruhnya menjauhi Fahri? Namun, sesuatu dalam dirinya membela diri, bahwa ia memang sudah menjauhi Fahri.  Tak pernah lagi mereka bertemu sejak pertemuan di Taman Balai Kota beberapa Minggu yang lalu. Ia tak pernah lagi menemui ataupun menelepon  Fahri.  Hanya saat Ilham pergi, Hasna menimpali chat ringan seperti malam ini sesekali. Pembunuh sepi yang memang menyisakan setangkup gelisah dalam hati. Salahkah yang ia lakukan ini?
.
Hasna kembali mengetik setelah sebelumnya tertawa mengenang kejadian-kejadian lucu saat di Bromo.
.
[Kau ini, Ri. Sempet-sempetnya ngirimin foto-foto jadul kayak gini 😅]
.
Balasan Fahri membuat Hasna terkejut,

[Aku kangen ... ]
.
Hasna tak menyangka Fahri akan mengatakan itu. Sejenak ia hanya tercenung berusaha mengartikan kata 'kangen' yang dilayangkan sahabatnya itu.
.
Tak lama Fahri kembali mengetik,

[Kangen masa-masa itu ... Andai saja bisa terulang ]
.
Di seberang sana, pandangan Fahri menelusuri satu-satu foto kenangan yang berserak di atas ranjangnya. Diambil dan dipandanginya foto Hasna yang paling manis kala bersamanya. Jemari Fahri menyentuh wajah berlesung pipit dalam foto.
.
'Andai saja bisa terulang, saat-saat kau masih dalam jangkauan ...' gumam Fahri.
.
Malam semakin larut. Obrolan mereka pun berakhir. Fahri masih terjaga di antara foto yang berserak dan sebuah cincin dalam kotak beludru.

🌿🌿🌿

"Fahri? Kamu ngapain di sini?" Keesokan harinya, Hasna terkejut dengan kedatangan Fahri di sekolah Adam.
.
Adam yang melihat Fahri, langsung berlari menghampirinya. Sejurus kemudian bocah itu sudah dalam gendongan Fahri.
.
"Aku mau ajak kalian ke taman sebentar. Boleh ya?" pinta Fahri.
.
Hasna ragu. Ia sudah merasa tak enak tempo hari menemui Fahri. Ia sudah bertekad tak akan menemuinya lagi sesuai permintaan Ilham. Tapi, jauh dalam lubuk hati, Hasna harus mengakui, ada sebersit rindu pada sahabatnya itu. Kehadiran Fahri selalu membawa keceriaan dan ketenangan yang membuatnya merasa nyaman, sejak dulu. Menjauhi Fahri, benar-benar bukan sesuatu yang mudah bagi Hasna.
.
"Sori, Fahri. Bukannya aku nggak mau tapi ... aku sudah janji sama Ilham ..."
.
"Please," potong Fahri dengan wajah memelas. Alis tebal dan mata elangnya mendadak sayu. Hasna bimbang namun ia bergeming dengan keputusannya.
.
"Sori ... Ayo Adam kita harus ke tempat terapi," Hasna menolak dengan perasaan segan. Adam, tak disangka, menepis tangan Hasna dan memeluk leher Fahri.
.
Sebuah senyum terutas di bibir Fahri. "Please?" Fahri kembali mengulang permintaannya sambil perlahan membelai rambut Adam.
.
Hasna mengigit bibir dalam bimbang. Ia ingin pergi tapi sesuatu dalam hatinya melarang.
.
"Aku janji nggak akan lama. Sejam aja. Nanti kuantar kalian kembali ke sini," bujuk Fahri.
.
Hasna masih terlihat bimbang. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil memandangi Adam yang masih memeluk Fahri.
.
"Oke, setengah jam deh. Aku janji setelah itu akan mengantar kalian kembali. Ada hal penting yang mau aku bicarakan. Please?"
.
Meski agak ragu, Hasna akhirnya mengiyakan. Ia pun mengekor di belakang Fahri dan Adam. Mereka pun berkendara ke sebuah taman nan rindang tak jauh dari sekolah.
.
Tawa Adam pecah di antara gelembung-gelembung balon yang ditiup Fahri di taman. Ia berlarian menangkap gelembung serupa pelangi yang terbang tertiup angin. Mereka bertiga  menghabiskan waktu bermain bersama.
.

JANGAN DUAKAN AKUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang