BUKAN YANG DULU

6K 364 9
                                    

🌿

Ilham mengernyitkan dahi. Bola netranya berusaha mengenali sosok berambut panjang dalam sebuah foto usang di tangannya. Meski sudah berjamur dan agak kabur, garis wajah itu sangat dikenalinya. Dengan seragam SMA, gadis di foto itu tersenyum dengan lesung pipit yang tak asing bagi Ilham. Ia adalah penikmat kecantikan gadis itu selama bertahun-tahun. Namun, kali ini bukan desiran asmara yang ia rasa saat melihatnya. Rasa tak percaya justru menguasai hatinya.

Cerita masa lalu Hasna yang dibeberkan Airin malam itu, membuat Ilham terombang-ambing dalam  keraguan. Sungguh logikanya tak mampu menalar, bahwa istrinya yang cantik, lembut nan sholihah dulu adalah seorang yang sangat kejam. Ia sempat berpikir Airin mengada-ada. Namun, bukti foto dan kesaksian Airin yang bersimbah airmata mulai menggoyahkan keyakinannya.

Awalnya ia bingung. Malam itu di A-Maze Airin tiba-tiba meninggalkan mereka dengan wajah sembap. Hasna pun ia temukan menangis di taman. Semenjak itu, Hasna jadi lebih banyak diam. Ia kadang menangis tanpa sebab. Berkali-kali Ilham bertanya apa yang sebenarnya terjadi malam itu, Hasna tetap bertahan dalam kebisuan dan air mata. Malam ini terjawab sudah semua tanda tanya yang menghantui Ilham. Sayang, jawaban dari pertanyaannya justru membawanya ke pusaran gundah yang lebih dalam.

Benarkah Hasna sejahat itu?

Selama ini Hasna tak pernah bercerita tentang masa lalunya. Yang Ilham tahu ia sebatang kara dan diasuh oleh bibinya, Ummi Kulsum. Hasna memang pernah mengisyaratkan bahwa ia telah berhijrah dari sesuatu yang kelam. Namun, demi menjaga perasaan mereka berdua, Ilham tak pernah memaksa Hasna menceritakan detil tentang masa lalunya.
“Jujur. Aku takut, Mas,” desis Airin sembari menyeka air matanya, “Aku takut ia akan melakukan kejahatan yang sama seperti yang ia lakukan di masa lalu.”

Ilham masih terdiam. Pikirannya berkecamuk Airin mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya.

“Ia tak sebaik yang kau kira, Mas.”

***
Jam menunjukkan pukul 20.00. Hasna sedang termangu memandangi Adam yang sedang membariskan mainannya hingga membentuk seperti ular panjang. Puteranya yang belum kunjung bicara itu, sangat senang membariskan segala  sesuatu secara paralel. Suara-suara aneh kadang keluar dari bibir kecilnya saat bermain. Sesekali ia tertawa sendiri. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Suara deru mesin mobil terdengar perlahan memasuki bagian depan rumah. Hasna segera bersiap membukakan pintu dan menyambut kepulangan suaminya. Wajah Iham terlihat lelah. Segera setelah membelai kepala Adam, tanpa banyak bicara, ia segera ke kamar untuk membersihkan diri.

Tak lama Adam terlihat terlelap di karpet tempat ia bermain. Hasna menggendongnya dan merebahkannya di kamar. Bocah itu langsung bergelung dalam selimut setelah sebuah kecupan selamat tidur mendarat di dahinya. Hasna pun bergegas menuju kamar setelah membereskan mainan Adam.

“Hasna, aku sudah tahu tentang masa lalumu dengan Airin.” Ilham tiba-tiba saja memecah keheningan.

Tenggorokan Hasna tercekat. Kantuknya tiba-tiba saja hilang.

“A… apa saja yang Airin ceritakan?” tanya Hasna gugup.

“Semua.”

Hasna menghela napas dan menundukkan kepala. Ia berusaha menyembunyikan rasa malu dan sesal di hadapan Ilham. Tak bisa lagi ia menutupi episode kelam masa mudanya.

“Jadi sekarang Mas tahu semua…,” Dengan gemetar Hasna berusaha mempreteli satu-satu memori masa lalu, “Ya, memang begitulah aku dahulu, Mas. Aku… aku jahat. Aku jahat pada Airin….”

Dua bola mata Hasna mulai berkaca-kaca. Kalimatnya kini terpotong oleh isak tangis. Rahasia yang berusaha ia kubur sekian lama, kini tersibak di hadapan suaminya. Terbongkarnya kejahatan masa lalu telah mengoyak citra diri yang telah lama ia bangun di hadapan suaminya.

“Mas tahu apa yang terjadi padaku setelahnya? Aku kehilangan kedua orangtuaku karena kecelakaan pesawat. Aku pun jatuh miskin. Teman-temanku membenciku. Hidupku hancur, Mas, hingga Ummi bersedia mengurusku,” sambung Hasna sambil mengusap air mata yang tak mau berhenti bercucuran.

“Keterpurukan saat itu sungguh menamparku. Ummi membimbingku untuk bermuhasabah dan mengambil pelajaran dari apa yang menimpaku. Di situ aku sadar bahwa aku telah banyak melakukan keburukan… aku sungguh menyesalinya… sejak itu aku berusaha memperbaiki diri. Meninggalkan keebiasaan lamaku, meminta maaf pada mereka yang pernah kusakiti, dan berusaha mengubah cara pandang dan hidupku agar sesuai dengan yang Allah ridhoi…,” terang Hasna.

Malam makin pekat. Sesekali mulai terdengar suara hujan yang perlahan menampar jendela kamar. Untuk sesaat mereka larut dalam pikirannnya masing-masing. Hanya melodi hujan yang berdenting mengisi keheningan.
“Aku membenci masa laluku, Mas. Aku tak ingin Mas tahu soal masa laluku… karena aku takut… aku takut Mas  juga akan membenciku karenanya…,” sambung Hasna lirih.

Ilham perlahan bangkit dari duduknya. Segera ia meraih Hasna dan merengkuhnya dalam pelukan. Perlahan ia membisikkan sesuatu pada istrinya.

“Setiap orang punya masa lalu. Sekelam apapun itu, kau telah membuktikan kau sanggup mengubah dirimu jadi lebih baik. Aku takkan membencimu karena masa lalu. Kau tahu matahari selalu terbit setelah malam yang paling pekat. Begitu juga potensi keindahan pribadi seseorang, kadang muncul setelah kelamnya masa lalu karena hidayah yang menuntunnya.”

Hasna diselimuti keharuan. Air matanya membanjiri kaus Ilham. Mereka semakin mempererat dekapan. Larut dalam syahdunya penerimaan.

“Terima kasih, Mas… Aku mencintaimu… “

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Terima kasih, Mas… Aku mencintaimu… “

“Aku mencintaimu…”

Untuk beberapa saat Hasna hanyut dalam hangatnya dekapan Ilham. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang masih mengganggu pikirannya.

“Namun, Airin sepertinya tak mau memaafkanku, Mas.”

“Airin butuh waktu. Kuharap kau mau bersabar dan bersikap baik padanya. Insyaallah, Allah bukakan hatinya untuk memaafkanmu. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah, bukan?”

***

(Bersambung)

Terima kasih sudah membaca JDA. Nantikan kisah ini tiap Selasa dan Sabtu ya 😊

Menurut readers gimana nih? Apa Hasna pantas mendapatkan maaf Airin? Akankah Airin terus mendendam atau memaafkan orang yang paling ia benci?

Maaf ya telat update kemaren 🤭

JANGAN DUAKAN AKUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang