27

1.1K 318 115

Gue keinget lagu Nike Ardilla yang judulnya, Panggung Sandiwara, dan ada baitnya 'Dunia ini, panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah'. Dan ini gue alamin sekarang. Gue denger dengan jelas percakapan Willis dengan Zena yang keduanya lagi ada di kamar Willis. Gak sengaja, serius. Tadinya gue mau ke kamar Bang Suhandi, ngasih tau besok gue balik ke Jogja jam berapa. Karena kamar Bang Suhandi sebelahan sama Willis, alhasil pas gue melintas di kamar Willis, gue gak sengaja denger Zena mengeluarkan nada tingginya.

"KAMU GAK BISA KAYAK GINI, WIL! KAMU YANG MAU BERTANGGUNG JAWAB. KAMU GAK BISA BATALIN GITU AJA. APA KATA KELUARGA AKU KALAU KITA GAK JADI NIKAH? WIL, KALAU TAU AKHIRNYA KAYAK GINI, MENDING WAKTU ITU KAMU GAK USAH CEGAH AKU BUAT BUNUH DIRI!"

Walau gimana pun, gue cuma pengen tau masalah ini. Karena pintu gak tertutup rapat, gue coba mengintip dari celah. Zena memegang kerah baju Willis, dan Willis gak sedikit pun memandang Zena. Tatapannya seakan menyiratkan, kalau Willis juga tersiksa.

"Wil, tolong jangan lakuin ini," suara Zena berubah jadi parau. Samar-samar, gue ngeliat air matanya jatuh, walau dia lagi menunduk.

Tanpa memandang Zena sedikit pun, Willis akhirnya bicara, "Aku pernah cerita sebelumnya ke kamu, Zen. Tepat setelah aku cegah aksi bunuh diri kamu. Aku punya pacar. Aku bahkan abaikan dia cuma biar dia gak terlalu sakit, karena aku ambil tanggung jawab nikahin kamu. Dan kamu tau, siapa pacar aku? Dia Anne! Dia Anne! Jadi, kamu bisa bayangin, gimana tersiksanya dia ngeliat kita berdua setiap hari?" Zena keliatan membeku. Tangannya lemas dan melepas kerah Willis.

Willis memegang pundak Zena, "Zen, aku gak bisa lanjutin ini. Aku sama tersiksanya kayak Anne. Aku gak bisa, Zen. Walau aku udah coba berapa kali. Aku merasa jadi cowok paling brengsek. Menyakiti orang yang aku cintai, dan aku berusaha buat cinta sama kamu. Pernikahan kita gak akan berjalan lancar kalau gak ada rasa cinta,"

Gue sontak menutup mulut. Bahkan mata gue berkaca-kaca. Willis membimbing Zena buat duduk di pinggir ranjang, sedangkan Willis berlutut di depan Zena, "Aku akan buat Brian bertanggung jawab atas apa yang udah dia perbuat. Zen, aku sayang kamu. Tapi gak seperti aku sayang ke Anne. Kamu bahkan udah aku anggap adik sendiri. Zen, kamu itu wanita baik. Kamu gak mungkin misahin dua orang yang saling mencintai, kan?"

Zena mengalihkan pandangannya, dan enggan menatap Willis, "Aku.. Punya janji sama Anne. Saat aku lulus nanti, aku mau ngelamar dia."

Tubuh gue merosot begitu aja. Pelan, sangat pelan sampai gak menimbulkan bunyi apa-apa, "Apa yang kamu rasain, ketika ada cowok yang janji ke kamu buat nikahin kamu beberapa tahun lagi, tapi di pertengahan, cowok itu berkhianat?"

Gue menyandarkan punggung gue ke dinding, dan mendengarkan semuanya, "Kamu dan Anne sama-sama wanita. Jadi, kamu pasti tau rasanya di posisi Anne. Aku bertanggung jawab, karena aku mikir, Zen. Aku gak mau anak yang ada di kandungan kamu jadi korban karena keegoisan kamu buat milih bunuh diri. Dia bersih. Dia bukan aib. Dia bukan dosa. Dia anugerah. Allah udah ngasih dia buat kamu. Kenapa mau kamu lenyapin dari dunia? Dia gak salah."

Bang Suhandi keluar dan nemuin gue yang lagi duduk dengan memeluk lutut. Gue bahkan udah nangis. Bang Suhandi berjalan pelan dan berjongkok di hadapan gue. Tangannya terulur menghapus air mata gue.

"AKU GAK MAU, WIL! AKU GAK MAU COWOK BRENGSEK ITU JADI AYAH BUAT ANAK AKU—"

"Apa aku pantas? Apa karena aku baik, aku pantas jadi ayah dari anak kamu? Walau ayah kandungnya brengsek, Brian tetap ayah biologisnya, Zen."

"Tapi, Wil—" suara Zena terdengar melemah.

Bang Suhandi bangkit, dan masuk ke kamar Willis, dimana Zena berada, "Kalau ayah biologisnya gak mau bertanggung jawab, lebih baik kita bawa ke ranah hukum,"

"Bang—"

"Wil, kamu gak perlu ambil tanggung jawab sesuatu yang gak kamu lakuin. Dan kamu Zen, abang punya kenalan pengacara handal. Kalau ayah biologisnya gak mau ambil tanggung jawab, kamu tuntut dia,"

Mereka berbicara dengan suara kecil yang susah buat gue denger. Tapi, gak lama, Willis keluar dari kamar dan nemuin gue dalam keadaan mengenaskan. Mata gue memerah sembab karena nangis.

Willis berjongkok di hadapan gue dan menghapus air mata gue dengan ibu jarinya, "Itu kenyataannya, Ann

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Willis berjongkok di hadapan gue dan menghapus air mata gue dengan ibu jarinya, "Itu kenyataannya, Ann. Aku gak pernah ngomong ke kamu. Aku minta maaf,"

Gue memeluk Willis, "Kenapa kamu sembunyiin dari aku, Wil?"

Willis mengusap punggung gue dengan lembut, "Karena, aku fikir ini cara terbaik buat gak ngomongin soal kandungan Zena yang bukan tanggung jawab aku, Ann. Aku fikir, aku bisa laluin semuanya. Tapi ngeliat kamu sama Bang Suhandi, aku gak bisa, Ann. Aku udah lelah bersandiwara,"

Gue nangis sesegukan di dada Willis, "Maafin aku, Ann. Aku tau, aku gak pantas dapet maaf kamu. Tapi, kamu udah denger semuanya, kan?" gue mengangguk, "Itu kenyataannya,"

Gue melepas pelukan Willis ketika denger suara langkah mendekat. Zena keluar dari kamar Willis, dan menatap penuh kebencian ke arah gue. Dia berlalu meninggalkan gue sama Willis. Bahkan, Willis gak menatap Zena sedikit pun.

Bang Suhadi keluar dari kamar Willis dan ikut berjongkok di antara kita bertiga, "Bang—" Bang Suhandi meletakkan telunjuknya di depan bibir gue.

"Ini hanya masalah waktu, Ann. Kebenaran akan terungkap,"

"Tapi—"

Bang Suhandi tersenyum dan memotong omongan gue, "Kamu inget waktu duel abang sama Willis di kolam renang?" gue mengangguk, "Willis bilang ke abang, jangan pernah deketin Anne. Abang nyuruh Willis buat ngomong kebenarannya ke kamu, walau abang gak di kasih tau tentang kebenaran itu, yang penting kamu tau. Willis tadinya gak mau, tapi abang ajak duel. Sebenarnya ini bukan bagian dari rencana. Willis mau ngomong ke kamu soal ini, setelah urusan dia sama Zena selesai. Tapi, tanpa di duga, kamu malah denger semuanya. Abang yang kebetulan lagi santai di balkon kamar abang, juga dengerin semuanya. Jadi, kita semua udah tau masalahnya, dan nemu titik terangnya,"

"Tapi, Bang—" Bang Suhandi meraih tangan gue. Cincin yang kemarin dia kasih, di usap pelan.

"Abang nemuin cincin ini di tempat sampahnya Willis. Ini punya Willis, Ann. Willis ngomong sendiri ke abang, dan nunjukkin cincin ini. Pertengahan semester—"

"BANG!" Willis menginterupsi dengan suaranya yang meninggi.

Bang Suhandi terkekeh, "Oke, oke. Abang gak kasih tau," dan itu malah buat gue makin penasaran. Kita bertiga berdiri, gue di papah sama Willis, "Kita batalin semuanya ya, Ann. Karena abang gak bisa menang dari Willis,"

"Tapi—"

Bang Suhandi mendekatkan bibirnya ke telinga gue, "Willis nyiapin cincin itu buat ngelamar kamu di pertengahan semester," dan pergi begitu aja dengan tawanya yang merekah.

Willis menatap gue curiga. Ditambah, wajah gue yang panas tiba-tiba, "Bisikin apa tadi?"

Gue menggeleng, "Gak! Gak ada! Dan, Will! Aku masih marah sama kamu! Jangan ajak aku ngomong!" dan gue berjalan cepat ninggalin Willis yang masih berdiam diri.

Gue masuk ke kamar dan mengunci. Gue sembunyiin wajah di bantal. Entah kenapa, perasaan gue berbunga lagi. Tapi buat kali ini. Buat kali ini, gue mau liat perjuangan Willis untuk memulai semua dari awal. Termasuk...

Mendapatkan hati gue kembali.

**
Pendek? Bodo, ah! Cuma ini ide yang terlintas.
Dan... Terima kasih buat yg bertahan sm Willis.
Kalian tipe setia ternyata.
#TeamWillis jjang!!!
(Kecup manja dari author)

something new ✔Where stories live. Discover now