26

951 292 68

Pagi ini, semua anggota keluarga Bramantyo ngumpul buat sarapan bareng. Gue duduk di tengah-tengah antara Mama dan Bang Suhandi. Sedangkan Willis di depan gue sama Zena. Entah lah, kata Bang Suhandi, Zena suka ke rumah pagi-pagi buat dapetin hati Mama. Karena Mama gak begitu suka sama Zena.

Cuma pembicaraan kecil yang menemani sarapan pagi ini, antara Papa, Bang Suhandi sama Willis. Mama banyak ngobrol sama gue.

"Ma, itu loh yang satu lagi di ajak ngobrol," Papa menginterupsi menyuruh Mama buat gak ngacangin Zena.

Mama tersenyum singkat, "Anne? Bisa bantuin Mama bawa piring kotor ke dapur?" gue mengangguk dan beranjak.

"Tante, aku juga—"

"Gak usah, Zena. Kamu lagi hamil. Kamu cukup duduk manis aja,"

Gue mengumpulkan piring kotor dan bantuin Mama buat bawa ke dapur, "Anne bisa masak?"

Gue menggeleng, "Belum, Ma. Lagi proses,"

Mama terkekeh kecil, "Jangan di paksain kalau kamu gak bisa masak. Si abang pinter masak lho. Jadi, kamu bakal aman soal makanan kalau jadi sama abang," gue cuma tersenyum kecil menanggapinya, "Bantuin Mama bilas piring, ya," gue mengangguk.

Gak butuh waktu lama. Karena pekerjaan apapun, kalau di lakukan bersama, pasti cepet selesai. Kayak nyuci piring contohnya. Gak kayak di rumah, Jisoo gak pernah nyuci piring abis kita bereksperimen di dapur.

"Mama sama Papa mau ke Jakarta sebentar. Ada kondangan temen Papa waktu SMA. Mau nikahin anaknya. Jadi, Mama sama Papa tinggalin kalian gakpapa, kan?"

Bang Suhandi, Willis dan Zena menjawab. Gue udah jawab dari pas cuci piring tadi. Mama ngomong duluan ke gue.

Mama sama Papa bergegas ke kamar buat siap-siap. Beberapa menit kemudian, mereka keluar dengan pakaian semi formal.

Mama ngusap pipi gue, "Anne.. Mama tinggal dulu ya. Anggap aja rumah sendiri," gue tersenyum ramah buat formalitas.

Setelah Mama sama Papa pergi, gue duduk di samping Bang Suhandi dan nyeruput teh hijau yang di buat Mama. Gue menatap ke luar pintu kaca yang nampilin langsung ke kolam renang, "Mau berenang?" tanya Bang Suhandi.

Gue menggeleng pelan, "Gak begitu bisa berenang, Bang,"

"Kalau gitu, temenin Abang berenang aja," gue mengangguk patuh, "Abang ganti baju dulu," dan Bang Suhandi beranjak ke kamar ninggalin gue dengan Willis dan Zena.

Gak ada percakapan. Cuma samar-samar gue denger obrolan kecil Zena sama Willis. Gue beranjak keluar melangkahkan kaki ke kolam renang sambil bawa cangkir teh hijau gue.

Gue duduk di tempat yang sama kayak yang semalam gue dudukin. Sekitar 15 menit, Bang Suhandi datang mengacak rambut gue dan langsung nyebur ke kolam renang sebelum dia denger protes dari gue.

Gue ngeliatin Bang Suhandi berenang. Dia gak setengah telanjang, dia masih pakai kaos.

"Anne?" gue menoleh dan nemuin Zena yang berdiri gak jauh dari gue dengan memasang senyumnya. Gue cuma balas senyum singkat, "Gue boleh duduk di samping lo?"

Gue menggeser tubuh gue nyisain tampat yang lumayan regang buat ibu hamil duduk, "Silahkan,"

"Udah kenal Bang Suhandi dari kapan?"

"Dari SMA," jawab gue singkat yang terkesan ogah-ogahan. Gue kesel liat muka lugu dia. Ngingetin gue yang dulu. Apa tampang gue dulu keliatan bego kayak Zena sekarang?

"Wah, udah lama ya.." gue cuma mengangguk, "Maaf ya. Lo harus nunda nikah sama Bang Suhandi, karena nunggu gue sama Willis nikah dulu,"

Jadi, gue rasa si Zena Zena ini gak tau kalau gue bagian dari masa lalunya Willis.

something new ✔Where stories live. Discover now