21

773 283 45

Dua bulan terlewati semenjak resmi putusnya gue dan Willis. Selama itu juga, gue lebih rajin kontakan sama bang Suhandi. Ditambah, Charles makin gencar deketin gue. Namanya hati, gue belum bisa nerima siapapun lagi. Masih ada Willis. Ibaratkan nama Willis melebur di hati gue, masih sisa 'Will'-nya.

Krystal sama Egi udah gue ceritain tentang Willis. Dan mereka bungkam. Seakan gak mau komentar apapun. Gue pun ngomong kecurigaan gue sama Krystal, dan dia jelasin, dia gak tau apapun tentang Willis. Dia cuma merasa, kalau LDR satu minggu gak ada kabar, aneh banget. Apalagi gak ada kabar satu bulan itu udah kebangetan banget. Makanya, gue di kenalin sama Charles.

Gue ngomong juga sama Jisoo. Dia tersenyum lembut ke gue dan meluk tubuh gue. Cuma buat 3 hari dia baik. Selanjutnya, binal kayak biasanya. Tapi, dia lebih jarang gangguin gue sih. Mungkin tau, gue lagi coba menghibur diri, karena ketika malam datang, gue kembali nangis.

Bang Suhandi juga tiap libur kerja, dia dateng ke Jogja. Kayak kemarin, dia dateng ke Jogja dan minta gue buat nemenin dia ke Gelato. Apa boleh buat. Bang Suhandi ngebet pengen gue satu perusahaan sama dia. Beberapa kali gue di tawarin. Kata bang Suhandi, dengan otak gue ini, perusahaan manapun akan bertekuk lutut di hadapan gue. Berlebihan emang.

Mereka semua sempet kaget, karena ngeliat style gue yang rambut gue potong jadi pendek. Di tambah, gue nambah tindikan di telinga gue.

Gue lebih banyakin aktivitas di kampus. Kadang, gue ikut jadi panitia acara yang di adain kampus. Apapun, yang penting gue bisa hilangin Willis.

Bulan kemarin, gue coba ikut Charles mendaki. Reaksi dia? Luar biasa senengnya. Temen-temen dia juga welcome ke gue, walau gue orang luar dan bukan anggota mapala. Apalagi ketua mapalanya. Beuh, baik banget. Dia perhatian ke setiap anggotanya. Kalau ada yang capeknya, ketuanya nyuruh istirahat. Saling tunggu menunggu, yang penting nyampe puncak.

Pas sampe puncak, gue sedikit sedih. Inget, gini banget cara gue lupain Willis.

Gue akhir-akhir ini jarang minta Krystal sama Egi buat nginep di rumah gue. Jisoo juga lebih banyak nemenin gue di rumah. Entah ngobrol, entah kita eksperimen di dapur buat makanan macem-macem.

"Kak?"

"Hm?"

Jisoo lagi ngiris cabe yang mau di tambahin ke masakan ayam kecap, "Kalau lo suruh milih, lebih milih Bang Suhandi atau Bang Charles?"

"Apaan sih lo, Jis!"

Jisoo terkekeh, "Ya elah, gak usah nangis napa. Gue nanya kayak gitu doang,"

Gue mengusak mata pakai lengan, bukan pakai tangan, "Gue gak nangis, setan! Ini bawangnya perih banget, anjir! Pantes lo milih motong cabe,"

"Kak, gue suka deh Bang Suhandi perhatian ke lo," Jisoo ngomong sesuatu yang bikin gue menoleh ke dia.

"Maksud lo?"

Jisoo tersenyum dan lanjutin motong cabenya, "Gak tau. Gue suka aja Bang Suhandi ngasih perhatian penuh buat lo. Biar di kata adeknya itu brengsek, tapi Bang Suhandi itu beda,"

Jadi, Bang Suhandi bukan cuma hubungin gue. Tapi juga dia berhubungan baik sama Jisoo. Kayak ada udang di balik batu. Bukan suudzon, cuma feeling gue aja.

"Gua mau jadi lesbi, Jis!"

Seketika Jisoo berhentiin acara mengiris cabenya, "Eh, bego! Malaikat itu dimana-mana. Di bahu kanan kiri lo juga ada. Kalau lo ngomong kayak gitu, di aminin sama malaikat gimana?"

Gue terkekeh, "Malaikat tau kalau gue cuma bercanda. Serius banget malaikatnya,"

Jisoo mendengus kesal, "Jalan yuk, Kak!"

something new ✔Where stories live. Discover now