24

815 272 63

"Anne? Jasmine? Mommy's here, baby.." Jisoo yang lagi gue ajarin, tiba-tiba terkaget-kaget sama kedatangan mami yang menurut gue mendadak. Gak ada ngabarin sama sekali.

Jisoo beranjak dan meluk Mami, "Mamii!!!" gelendotan kayak monyet ke Mami.

Mami ngelus surai cokelatnya Jisoo. Dia udah sering warnain rambut semenjak kuliah. Dari dulu dia mau warnain rambut, tapi terhalang sama sekolah yang ngelarang. Terus dia ngomong, 'Tau gitu dari orok aja gue kuliah'.

Gue nyamperin Mami, gantian meluk Mami abis Jisoo puas. Rasanya di peluk Mami, gue pengen numpahin segalanya. Mami mengusap surai hitam gue, "Kakak gimana? Sehat?" Mami nanya dengan suara lembut. Buat perasaan gue kacau.

"Sehat, Mi. Mami gimana? Papi sama Kak Tata disana gimana?" tanya gue dengan suara parau.

Beralih, Mami nepuk punggung gue buat nenangin. Cara ini ampuh, Mami sering pakai cara ini dari gue kecil, kalau gue nangis, "Papi sama Kak Tata sehat, Ann.."

Gue melepas pelukannya dan ngajak Mami duduk di sofa, "Mami gak bilang mau ke sini. Kenapa tiba-tiba?"

Mami tersenyum dan mengusap kepala Jisoo yang tiduran di pangkuan Mami, "Mau buat kejutan, dong. Makanya Mami gak bilang-bilang,"

"Padahal besok aku mau ke Bandung, Mi. Mami kesini gak ngomong-ngomong. Kalau tau Mami kesini, aku pasti batalin rencana ke Bandung,"

Mami mengerutkan kening, "Kenapa mau ke Bandung? Mau nemuin Willis lagi?"

Gue menggeleng lemah, "Gak, Mi. Bang Suhandi, ngajak aku ketemu ibu bapaknya,"

"Suhandi.. Suhandi.. Mami kayak pernah denger. Tapi lupa—"

"Kakaknya Willis," potong gue dengan cepat.

Mami melebarkan matanya, "Kok bisa? Gak dapet adeknya, jadi sama kakaknya?"

Gue terkekeh geli, "Kalau udah jodoh, mau gimana, Mi?"

"Terus, Mami denger dari Jisoo, kamu deket sama Charles Charles gitu. Yang itu gimana?"

Gue menunduk lesu, "Dia udah nyerah, Mi. Tapi dia tetap mau jadi sahabat Anne,"

Mami mengangguk mengerti, "Kamu udah dewasa. Kamu bisa milih mana yang baik dan buruk. Mami percaya sama kamu. Jalan apapun yang kamu pilih, selama itu benar, Mami dukung. Mami di belakang kamu. So, jangan ngerasa kamu sendirian,"

Gue mengangguk dan meluk Mami. Sekarang Mami lagi di gelendotin dua anak. Jadi, tangan Mami harus terbagi. Satu ngusap kepala Jisoo, dan satu balas pelukan gue sampil nepuk punggung gue pelan, nyalurin kekuatan.

"Ann.. Berhenti minum obat penenang, ya.." gue kaget dan ngelepas pelukan Mami. Kenapa Mami tau, selama ini gue minum obat penenang.

Gue natap Jisoo tajam, sedangkan yang di tatap malah udah molor. Dasar, punya adek kayak admin lambe turah, "Jangan salahin Jasmine. Mami yang nanya ke Jasmine keadaan kamu. Kalau Mami nanyain ke kamu, pasti kamu gak mau cerita,"

Gue menghela nafas pelan dan memaklumi, "Iya, Mi. Anne coba,"

Selama ini, ada rahasia yang emang gue tutupin. Pas gue putus dari Willis, gue sempet jatuh sakit. Dan dokter ngasih resep obat penenang buat gue. Karena kadang gue suka terbangun tengah malam buat nangis doang. Fikiran gue juga sedikit tertekan. Dokter bilang sih, kalau keadaan membaik, gue gak di bolehin minum obat penenang lagi. Tapi, gue masih suka kebangun tengah malam, dan kadang gak bisa tidur sampai subuh.

"Mami mau istirahat?"

Mami menggeleng, "Mami udah istirahat tadi di pesawat. Biar Jasmine tidur dulu,"

something new ✔Where stories live. Discover now