17

799 267 39

Sekarang gue sedikit lebih deket sama Charles. Ya gimana gak, dia gangguin gue tiap hari. Datengin fakultas gue buat jemput, hubungin gue tanpa pernah absen. Gak kayak 'seseorang' yang sampai sekarang gak tau keberadaannya. Gue juga aktif chat sama bang Suhandi, kakaknya Willis. Tapi bang Suhandi setiap gue tanya Willis, pasti jawabannya sama 'Dia lagi sibuk, Dek. Tapi dia sehat wal'afiat kok.'

Ya udah. Gue sibukin sama kegiatan di kampus gue. Sesekali jalan sama Egi atau Krystal. Kadang, juga makan di luar sama Charles. Jisoo pun sampai kenal sama Charles. Dan Jisoo bilang, 'Gila, kak Charles selain ganteng, dia juga asik!' fikiran Jisoo, gue udah putus sama Willis. Jadi dia bilang, dia restuin gue sama Charles.

Hubungan gue gantung banget. Gue manusia, bukan jemuran, jadi gak perlu di gantung. Gue coba matiin perasaan gue ke Willis. Anggap aja gue lelah. Hampir satu bulan Willis gak ngasih gue kabar. Gue masih positif kok, kalau dia lagi konsen ke penelitiannya. Dia bukan tipikal orang yang mendua. Gue tau, tapi gue masih belum terima. Udah banyak air mata yang gue keluarin, sampai Jisoo juga bingung ngehibur gue kayak gimana.

Sempet, ada fikiran gue mau nyusul Papi ke Kalimantan. Tapi Jisoo ngelarang gue. Dia ngerengek kalau dia gak mau di tinggal sendiri.

Di Kalimantan, mungkin aja gue bisa lupain Willis. Banyak saudara juga disana. Jadi, gue bisa lah nginep-nginep tempat saudara cuma mau buat ngehibur diri. Akhir-akhir ini, Krystal sama Egi juga gak nginep. Mungkin, lagi persiapan nyambut UAS.

"Ann?" gue di sadarin sama tangan Charles yang melambai di depan wajah gue. Baru sadar, kalau gue ngelamun.

Gue beralih natap Charles dengan ngelempar senyuman, "Hm?"

"Kamu bengong? Lagi ada masalah?"

Gue gak pernah bohong sama Charles. Gue bilang, kalau gue udah punya Willis. Dia nawarin diri jadi temen gue, bahkan kalau bisa sahabat gue. Segala masalah gue, dia mau jadi tempat cerita. Jadi sandaran gue.

Gue menggeleng pelan, "Gakpapa."

"Lagi kangen dia?"

Gue terkekeh kecil, "Iya. Biasanya, setiap liburan semester, dia pasti nyusulin gue ke sini. Tapi gak tau liburan kali ini."

"Kalau dia gak nyusulin kamu, kita jalan aja. Dilan 1991 mau keluar loh. Nonton yuk sama aku," ini yang gue suka dari Charles. Dia bisa ganti topik secepat mungkin, biar gue gak larut dalam kesedihan.

"Iya, Dilan 1991 mau keluar. Tapi aku baca novelnya, gak happy ending loh," gue udah semangat lagi bahas Dilan. Ya gimana, gue pecinta Dilan, baik novel sama filmnya.

Charles terkekeh, "Setiap orang gak selalu punya akhir yang bahagia, Ann. Kadang, kita harus siap sama akhir yang gak bahagia. Sama kayak hidup, cobaan itu gak memberikan rasa bahagia buat manusia."

Mata gue memicing natap Charles, "Nyindir aku?"

Charles tersenyum, "Gak. Cuma ngasih tau aja. Kamu jangan terlalu down sama masalah kayak gini. Masih banyak orang di luaran sana yang masalahnya jauh lebih besar dari kamu."

"Contohnya?"

Charles nampak berfikir, "Hm.. Di tagihin rentenir, mungkin? Kamu kira enak, di kejar rentenir? Tiap hari harus mikir kabur kemana, pintu di gedorin terus, rumah di jaga terus seakan si pengutang itu teroris."

"Pengalaman kayaknya,"

Charles ketawa dan ngacak rambut gue, "Bukan!" hati gue dugun-dugun. Ada ALERT WARNING.

"Abisin makannya. Abis ini, ke Hartono Mall, yuk!" ajak Charles. Gue ngerapihin rambut yang tadi di acak Charles sembari mengangguk setuju sama ajakan Charles buat ke Hartono Mall.

something new ✔Where stories live. Discover now