7| Upacara

443 153 490
                                    

Seorang lelaki tengah duduk di depan meja makan dengan tubuh yang berbalut seragam sekolah. Suara yang lainnya membuat lamunan dirinya teralihkan.

"Sarapan dulu, sayang." Galen mengangguk seraya mengambil roti yang sudah dibaluti selai nanas, tidak sampai itu ia bersuara dengan suara khasnya yang habis bangun tidur.

"Tapi kalau aku terlambat gimana, Mah?" tanyanya.

"Tak akan!"

Ia mengangguk, setelah menyelesaikan sarapan ia pamit kepada kedua orangtuanya yang mendapatkan senyum indah Salsa sebagai mamanya dan juga papanya, Leo.

Galen ingin melangkah akan tetapi dicegah oleh rengekan seseorang, dirinya menepuk dahi pelan ada yang ia lupakan.

Ia membalikan tubuh lalu mendapati adik mungilnya yang sedang menangis minta digendong. Ini adalah kegiatan pagi-paginya dan rutin!

Galen merentangkan kedua tangannya, lalu tidak lama kemudian sesuatu langsung ambruk di dada bidangnya.

Galen menggendong adiknya yang bernama Maudy lalu mencium wajah anak mungil itu bertubi-tubi membuat sang empu tertawa kegelian.

"Abang Galen jangan lupa beli buku dongeng ya buat, Udy!" seru Maudy menatap sang kakak dengan tatapan meminta.

Galen terkekeh kecil lalu kemudian mengangguk, mengacak rambut Maudy dengan gemas dan menurunkan tubuh mungil dari gendongannya.

Maudy, gadis kecil yang sudah menginjak umur 6 tahun tersenyum menatap punggung kakaknya yang hilang di balik pagar.

*•*

Upacara tengah dimulai dari beberapa menit lalu, Alesha yang baru berdiri sudah berkeringat, memang gadis itu gampang sekali berkeringat apalagi terik matahari semakin memancarkan terik hangatnya.

Alesha bergerak gelisah, ia tidak ingin pingsan, akan tetapi ia percaya bahwa upacara kali ini ia bisa jalankan tanpa hambatan. Dirinya tidak pernah mengikuti upacara karena penyakitnya yang sudah berada di dirinya semenjak ia menginjak bangku SD.

Nilam mendengus kesal melihat Alesha yang gelisah dengan dibanjiri keringat itu.

"Kalau gak kuat jangan dipaksakan," kata Nilam lalu memfokuskan matanya ke depan kembali menatap sang pemimpin dan pembina upacara.

Setelah lama Nilam mendengar kasak-kusuk dari samping barisnya, tanpa pikir panjang ia langsung menatap barisan disampingnya dengan tatapan tajam.

Lalu tatapannya beralih ke belakang barisan, ia terkejut sesaat melihat Galen baru memasuki barisan. Wajah lelaki itu masih datar walaupun dipenuhi keringat.

Ia tersenyum jahil, dan segera berjalan ke belakang barisan dengan beralasan bahwa tali sepatunya lepas padahal tidak lepas sama sekali bahkan rapih.

Setelah sampai di barisan paling belakang, sejajar dengan Galen ia menyenggol bahu pria itu membuat sang empu terkejut, lalu dengan cepat Galen menutupinya.

"Hukuman apa yang pantas untuk orang yang datang telat," kata Nilam memandang Galen dengan tatapan meremehkan.

Galen menoleh, menatap Nilam dengan tatapan lebih tajamnya, bermodal hanya mata birunya ia pasti bisa melumpuhkan tembok Cina yang berada dimata Nilam.

Nilam bergeming di tempat mendapatkan tatapan tajam Galen, pikirannya tiba-tiba blank. Tetapi sepertinya gadis itu cerdas untuk menutupkan segala kecemasannya.

"Membersihkan toilet dalam satu bulan, menyapu seluruh lapangan dalam dua bulan, push up 1000 kali, wah ... mana yang seru ya?" Nilam terus saja berceloteh tanpa menyadari bahwa sedang diperhatikan oleh banyak orang.

Kilter ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang