9

872 226 40

Terbiasa

Yoona


"Terima kasih. Selamat berbelanja kembali."

Ucapan terima kasih penjaga kasir pun menyadarkan gue yang masih melongo gara-gara ucapan Chanyeol. Customer didepan gue mulai melangkah pergi sambil mendorong troli berisi plastik belanjaannya. Chanyeol maju, mendorong troli dan bersama Seojun mulai mengeluarkan belanjaan ke meja kasir.

Sedari tadi Chanyeol sibuk meladeni Seojun. Satu-satunya interaksi adalah ketika dia menanyakan menu makanan yang gue inginkan lalu meminta gue duduk menunggu di kursi sementara dia dan Seojun memesan. Gue sedikit bersyukur karena cowok itu nggak mengungkit sedikitpun tentang ungkapan blak-blakannya tadi.

Mungkin menghindari suasana awkward karena sejujurnya gue gak tahu harus jawab gimana setelah lontaran pujian itu. Percaya sama gue. Niat gue cuman muji doang. Itu tulus.

Ya. Dan gue harus menelan kembali apapun pujian yang ingin gue katakan ketika ngeliat interaksi Chanyeol dan Seojun. Gimana gue gak memuji cowok itu? Disaat dia keliatan begitu ahli ngehandle anak kecil, dengan sabar menyuwir-nyuwir daging ayam di piring Seojun agar bocah kecil itu bisa mengunyahnya dengan nyaman. Gak berlebihan kan kalau gue bilang beruntung banget pasangannya kelak?

Chanyeol bahkan dengan sigap mengelap goresan noda saus yang menempel di pipi Seojun dengan ibu jari, padahal ada tissue di hadapannya.

"Kok ngeliatin saya terus? Dimakan dong nasinya."

Damn! Chanyeol memergoki gue yang masih khusyuk ngeliatin dia makan bareng Seojun.

Anjir! Gue malu.

Gue akhirnya berdeham kecil, mulai mencubiti daging ayam demi mengalihkan perhatian gue dari wajah Chanyeol.

Baru aja gue hendak menyuapkan makanan itu ke mulut gue, tiba-tiba Chanyeol mengulurkan tangannya. Tangannya menarik sebelah tangan gue yang menganggur di atas meja.

Gue terpaksa mendongak. Menatap Chanyeol dan mempersiapkan diri akan kejutan apa lagi yang akan dilontarkan cowok itu ke gue.

"Yoona, terserah kamu mau anggap saya apa. Tapi kata-kata saya tadi tolong dianggap serius," gue menelan ludah dengan susah payah melihat raut wajah serius cowok itu. Sial! Ini didepan ayam goreng banget nih nembaknya?

"Saya tau kamu belum bisa balas perasaan saya. It's okay. But let me in to your life. Biarkan saya masuk ke kehidupan kamu, dan saya akan tunjukin seberapa banyak kasih sayang yang bisa saya kasih buat kamu."

Chanyeol mengelus permukaan punggung tangan gue dengan ibu jarinya. "Saya gak janji saya bakalan bisa bikin kamu terus bahagia, karena mungkin suatu saat nanti saya bisa aja made you cried and feels suffocated just because i'm holding you too tight. I didn't let go something important to my life easily."

"Tapi saya janji. Selama kamu kenal saya, saya bakalan bikin hidup kamu selalu berwarna."

Perlahan gue balas mengeratkan genggaman cowok itu. Dia udah begitu berani ngajak gue ngedate, memperlakukan gue secara gentle, dan mengungkapkan tujuan serta perasaannya ke gue dengan begitu blak-blakan. Membuat hati gue terketuk dan mungkin... maybe he deserves a chances.

"Saya jujur kalau saya belum bisa bales perasaan kamu sekarang. Tapi saya juga pengen kenal kamu lebih lanjut. Let me try."

Dan cowok itu mengembangkan senyum di wajahnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dan cowok itu mengembangkan senyum di wajahnya. Sebuah senyuman lebar. Yang entah kenapa bikin gue juga jadi ikut tersenyum lebar.

Gue bersyukur karena Chanyeol bereaksi positif dengan jawaban gue. Gue belum berani bilang ya karena gue belum tahu perasaan gue kayak gimana ke dia. Dan gue juga gak berani jawab enggak karena perlahan gue mulai merasakan kenyamanan dengan adanya Chanyeol di deket gue. Entah. Gue masih belum mengerti harus gimana menghadapi hati gue sendiri.

Chanyeol mengeluskan kembali ibu jarinya ke permukaan punggung tangan gue dan tersenyum lebar, "Thank you."

"Please be patient with me."

"Take all your time, Na."

Pengalaman sakit hati yang terdahulu emang salah satu alasan terbesar gue mulai menarik diri dari pergaulan apalagi dari cowok. Gue mulai membatasi interaksi gue dengan cowok, berusaha keras memaksimalkan alasan biar gue gak berurusan dengan mereka. Itu karena gue benci ngerasa tergantung. Toh ketika gue menggantungkan mimpi dan dunia gue ke satu cowok, dia dengan tanpa perasaannya pergi ninggalin gue gitu aja.

Since that horrible day, I hate feeling attached to a person.

" 'm mau es klim."

Seojun menarik-narik ujung kardigan Chanyeol. Memutuskan kontak mata antara gue dengan Chanyeol tanpa sengaja. Chanyeol menoleh ke arah bocah itu.

"Emang udah abis ayamnya?"

Seojun dengan antusias menunjukkan piringnya yang hanya menyisakan sisa-sisa saos dipinggirannya.

"Waaah pinter. Hebat kamu."

"Es klim om."

"Yuk kita pesen es krim. Kamu mau Na?"

Cowok itu menoleh ke arah gue. Dan gue mengangguk perlahan.

"Oke. Abis makan es krim, kita pulang ya. Kasian tante Yoona nya harus balik lagi kerja."

Seojun mengangguk-angguk. Dengan lincah turun dari kursi dan menarik-narik tangan Chanyeol untuk segera pergi ke counter pemesanan.

Alih-alih menghabiskan makanan gue, gue malah kembali memperhatikan Chanyeol yang kali ini menggendong Seojun di tangannya. Seojun dengan antusias menunjuk-nunjuk papan menu, mungkin menunjuk es krim yang diinginkannya. Dan Chanyeol tertawa ketika Seojun membisikkan sesuatu ke telinga cowok itu.

Who would said no to that beautiful and contagious smile?

Gue nggak tahu gimana kedepannya. Tapi gue mau berusaha untuk memberikan cowok itu kesempatan.

Karena sadar atau nggak, gue sedikit banyak udah mulai terbiasa dengan kehadiran Chanyeol dihidup gue.


Chapter ini pendek, tapi semoga kalian suka ya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Chapter ini pendek, tapi semoga kalian suka ya.

Pls wait for more yoonyeol moments to come. Dan kalau kalian suka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Okee?

 Okee?

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Our UniverseWhere stories live. Discover now