Chapter 23

4.8K 196 12
                                    

"Samlekum abang-abang," ucap gue saat nyamperin Bella,Tasya,Sofi, dan Gita.

"Saoloh darimane aja luuu" kata Sofi kemudian

"Tau dah yang sibuk mah Osis" ucap Bella sok merajuk.

"Ett elu kalo mau ikut mah bilang kocagggg" balas gue pada Bella.

Gita pun hanya tersenyum saat gue melemparkan pandangan ke arah-nya, kalau Tasya, hmmm.. "Eh bangke, lu sini dah mending cerita-in ada kejadian apa aja dari kemaren-kemaren pas lo cabut hah?!" Kata-nya seperti orang yang sedang nanyain maling.

"Hmm its a long story, gengs" kata gue kemudian.

"Kaga ada long-long-an dah, buru dah cerita cepet" sekarang Sofi menambahkan.

"Iyadong ceritain apa ajaa" kembali Bella dan Gita menyaut.

Gue pun memulai kisah gue di acara nginep kemaren, ribuan komentar keluar dari mulut mereka yang diakhirin dengan jeritan najis ala-ala cewek seperti, 'aaaa sosweet banget sih Keziaaaaaa' yaa semacam itulah. Inti-nya mereka tuh temen paling rada-rada deh.

"kez nanti kantin yaaaa," ucap Tasya di tengah-tenah pelajaran Biologi. "Iyaaa" jawab gue seadanya.

Tak selang berapa lama bel tanda istirahat pun berbunyi. Lantas kami berlima pun segera berangkat menuju kantin tercinta.

***

"Kez, kez, ada Zevan" ucap Bella dengan lantang dan bodoh-nya saat kami berada di kantin.

"Begooo.." Sontak kami berempat menengok ke arah Gita.

"Gitt.." Ucap gue pelan

"Wooo Daebak!" Sekarang Sofi yang yang berteriak.

"Ups," jawab Gita salah tingkah.

"Gita jahat sama Bella," kata Bella kemudian sok-sok merajuk

"Yaa abis-nya elo suara-nya gede banget, kalo ngomong tuh dijaga" kata-nya memberitahu Bella.

Weh weh Gita baik banget sama gue, jaga rahasia gue aja sampe segitu-nya.

"Tau lo Bel," ucap Sofi sambil melihat-lihat makanan yang tersaji di etalase kantin.

Tapi daritadi gue tak mendengar suara yang terlontar dari mulut Tasy, biasanya dia yang paling bacot.

Hm pantesan aja, orang Tasya-nya lagi asik memandangi anugerah Tuhan yang dikirimkan ke bumi.

"Tas, euyyyyy!" Tak hanya Tasya yang terbangun dari lamunan-nya karna suara kami berempat, tetapi perkumpulan Kak Kelvin yang tentu saja disana ada Bang Vano dan Bang Vino pun menoleh ke arah kami.

Pipi Tasya sukses bersemu merah saat dia kembali menoleh ke arah Kak Kelvin lagi. Oh dengan ganteng-nya Kak Kelvin menatap ke arah kami..? Nggak,nggak, dia ngeliatin Tasya. Loh kenapa ini kenapa?

"Tasya!" Panggil gue saat Tasya menuju pintu keluar kantin

"Itu anak kenapa dah?" Tanya Bella terlambat memahami situasi.

"Eh gue kejar yaa," kata gue kemudian.

"Iyagih sana, gue mah laper" kata Sofi yang diikuti Gita dan Bella.

Kok kayaknya mereka biasa aja yaa ngeliat pemandangan seperti ini, jujur gue kepo banget loh ada apa.

Saat gue mau menyusul Tasya, tiba-tiba saja Bang Vano berteriak "Kezia!"

Gue menoleh dan menjawab tanpa suara, "apaan?" Kata gue bingung. Plis yah, bang Vano manggil di saat yang tidak tepat.

"Siniiiiiiii" ucap-nya menggunakan tangan-nya. Walaupun perkumpulan itu adalah perkumpulan anak kelas XII, tapi gue tidak begitu canggung karna ada kedua abang gue disana.

Bestie BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang