chapter 20

57.9K 2K 70
                                    

Nalani melamun. Ia menulis apa yang gurunya tuliskan di papan tulis lalu menghela napas. Radina benar-benar marah kali ini bahkan ketika Nalani mencium tangannya sebelum turun dari mobil, Radina tidak mengucapkan satu patah kata pun malah membiarkan Nalani turun begitu saja.

“Lan, Lani,” panggil Maya.

“Iya, May,” sahut Nalani.

“Ngelamun aja. Udah istirahat nih,” kata Maya.

Nalani baru sadar kalau gurunya sudah meninggalkan kelas.

“Udah, jangan galau mikirin UAS. Makan yuk,” ajak Maya.

Nalani mengangguk dan mengikuti Maya menuju ke kantin. Ia menatap ponselnya dengan bingung, Radina tidak mengabsennya kali ini. Selagi Nalani serius menatap ponselnya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang sampai ponselnya terjatuh.

“Maaf!” refleks Nalani meminta maaf.

“Nggak apa-apa. Nih hp lo,” kata cowok yang ditabrak Nalani  sambil memberikan ponsel Nalani yang terjatuh.

“Makasih,” kata Nalani lalu mengambil ponselnya dan kembali berjalan.

“Dia sengaja ngehalangin jalan kamu supaya kamu nubruk dia,” kata Maya begitu mereka duduk di salah satu meja kantin.

“Maksud kamu?” tanya Nalani.

“Cowok tadi, sengaja berdiri di depan kamu supaya kamu nabrak dia,” jawab Maya.

Nalani tidak terlalu memedulikannya toh karena Nalani sendiri sudah kenal secara tidak langsung dengan cowok itu. Cowok itu jadi teman makan malamnya saat LDKS dulu. Semacam acara romantis-romantisan tapi menjijikan juga karena para siswi masuk duluan ke aula tempat makan lalu ke luar dan para siswa masuk untuk duduk di meja yang sudah disiapkan. Para siswi kembali menempati kursi yang sudah didudukinya dan duduk berhadapan dengan para siswa. Begitu makan malam dimulai, maka musik romantis pun diputar. Nalani sendiri hanya makan tanpa berbincang sama sekali dengan cowok yang duduk di hadapannya.

“Kamu galau kenapa sih?” tanya Maya yang melihat Nalani mengaduk-aduk nasi yang ada di piringnya.

Nalani menggeleng.

“Kamu berantem sama pacar?” tanya Maya.

Nalani mengangguk lemas.

“Tanya dong kenapa, peluk, cium, minta maaf...” kata Maya.

Nalani tersenyum lalu menyuap makanannya dengan malas.

“Lan, inget kan habis ini kita ulangan matematika?” tanya Maya.

Nalani langsung menghembuskan napas frustasi.

***

“Mas,” panggil Nalani.

Radina tidak menyahut, ia konsentrasi menyetir.

“Maaaaas,” panggil Nalani lagi.

Radina masih tidak menyahut.

“Tadi aku ulangan matematika, yang aku bisa cuma soal yang mas ajarin,” kata Nalani.

Radina tidak tertarik untuk membalas perkataan Nalani.

“Tau gitu aku belajar sama Mas aja. Aku kira Mas gak bisa sih, jadi aku tanya sama Rio di sekolah tapi lebih ngerti kalo Mas yang jelasin,” kata Nalani.

“NANYA SAMA SIAPA?!” Radina langsung sewot dan mengerem mobilnya.

“Rio...” Nalani menjawab dengan takut-takut.

faster than a weddingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang