STRUMFREI✓

Stawrbey_ie

2.8M 149K 740

Ternyata memang benar, garis antara cinta dan benci itu nyaris tak ada. Dari yang bukan siapa-siapa bisa menj... Еще

Cerita 1
Cerita 2
Cerita 3
Cerita 4
Cerita 5
Cerita 6
Cerita 7
Cerita 8
Cerita 9
Cerita 10
Cerita 11
Cerita 12
Cerita 13
Cerita 14
Cerita 15
Cerita 16
Cerita 17
Cerita 18
Cerita 19
Cerita 20
Cerita 21
Cerita 22
Cerita 23
Cerita 24
Cerita 25
Cerita 26
Cerita 27
Cerita 28
Cerita 29
Cerita 30
Cerita 31
Cerita 32
Cerita 33
Cerita 34
Cerita 35
Cerita 36
Cerita 37
Cerita 38
Cerita 39
Cerita 40
Cerita 41
Cerita 42
Cerita 43
Cerita 44
Cerita 45
Cerita 47
Cerita 48
Cerita 49
Cerita 50
Cerita 51
Cerita 52
Cerita 53
Cerita 54
Cerita 55
Cerita 56
Cerita 57
Cerita 58
Cerita 59
Cerita 60
Cerita 61
Cerita 62
Cerita 63
Cerita 64
Cerita 65
Cerita 66
Cerita 67
Cerita 68
Cerita 69
Cerita 70
Cerita 71
Cerita 72 (END)
EXTRA PART
EXTRA PART 2

Cerita 46

28.4K 1.6K 3
Stawrbey_ie

Hari mulai sore, dan Andra masih saja berkutat dengan kertas-kertas yang berserakan diatas mejanya. Seharian ini Andra agak merasa sedikit lebih lelah dari biasanya. Namun Andra mencoba berfikir positif, mungkin karna efek belum sarapan dan telat makan seperti kebiasaanya akhir-akhir ini

Andra mengecek ponselnya, pesan yang ia kirim untuk Ara hanya dibalas iya saja. Padahal Andra mengetik cukup panjang mengingatkan gadis itu untuk tidak terlalu banyak begadang karna Andra tau, tugas-tugas ara dan teman-temannya memang sedang banyak-banyaknya.

Andra menasehati Ara habis-habisan sampai lupa menasehati diri sendiri

Ketukan pintu terdengar, tanpa di suruh masuk Naomi sudah muncul disana.

"sore pak Andra" Andra mengangguk,
memaksakan tersenyum

"dari tadi aku gak liat kamu keluar, kamu belum makan kan? Aku bawain kamu ini" Naomi mengangkat kotak ungu di tangannya, entah apa isinya. Andra tidak mau tau dan tidak berniat cari tau.

"makasih Naomi tapi saya mau pulang" Andra akan melanjutkan pekerjaannya ini dirumah. mengoreksi hasil ujian yang kadang-kadang membuat kepalanya pusing

"iya kamu makan dulu lah ndra, nanti kamu sakit skip makan kayak gini" perhatian yang tidak Andra perlukan lagi-lagi terlihat.

Dan Andra sebenarnya risih, pertama kali bertemu dengan Naomi sikap gadis itu biasa saja. Dan Andra tidak tau kenapa sekarang dia jadi lebih perhatian begini.

"gak. Makasih" Naomi meletakkan kotak bekal di meja Andra membuka kotak itu hingga isinya terlihat dan Andra memandangnya penuh tanya

Masih dalam keadaan duduk di kursi kerjanya Andra makin dibuat risih saat dengan lancangnya Naomi menyodorkan satu sendok nasi beserta lauknya pada Andra

"aku suapin aja, sedikit aja yang penting kamu makan" Andra tidak kenal Naomi. hanya bertemu dua kali  atau mungkin tiga, dan kenapa Naomi sok akrab sekali padanya?

"saya gak__

Pintu tiba-tiba terbuka, wajah kaget Ara menyapa Andra dan itu sungguh membuat Andra panik

"maaf, silahkan di lanjut" Ara kembali menutup pintu dengan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Ia memilih pergi dengan berlari.

Ini bukan sinetron, jadi jangan bayangkan Ara lari sambil menangis seperti sedang di selingkuhi.

Tidak juga, Ara lari karna takut pada tatapan Naomi yang menatapnya jengkel akibat ketidak sopanan yang ia lakukan. Langsung masuk tanpa ketuk pintu.

Itu karna Ara kaget, ternyata Andra masih di kampus padahal dari tadi pagi Ara mencari sosoknya tidak ketemu juga

Andra juga, apa-apaan dia suap-suapan sama Naomi!

Walaupun Ara tidak tau sudah cinta Andra atau belum, tetap saja tidak etis bagi Ara kalau Andra malah berduaan dengan orang lain diluar pekerjaan

Lagu boombayah yang menjadi dering ponsel Ara terdengar, Ara menatap sebal layar ponselnya lalu menggeser ikon merah pada layar dan mendial nomer Arka

"lo dimana"!?

Kenapa lu jadi kayak rentenir!

"pokoknya lo dimana"!

Dirumah!

"gue kesana, gak nerima penolakan"

Lalu Ara memutus panggilan sepihak, bodo amat Arka yang mengomel dan dirinya yang akan jadi tamu dadakan

"mau kemana"? Ara refleks berteriak, untungnya kampus sudah sepi

"ngagetin aja sih"!

Kalau tidak ingat sedang di kampus dan Andra adalah dosennya, sudah Ara dorong Andra sampai ia terjungkal

"kamu mau kemana"? Ara terdiam, membiarkan tangan lancang Andra mengusap peluh di keningnya

Sok romantis mentang-mentang abis di romantisin sama Naomi!

"kerumah Arka, bapak udah"?

Mendengar nama Arka tersebut Andra jadi kesal, kedekatan Ara dan Arka lebih dari yang Andra punya. wajar sebenarnya, karna mereka telah lama saling kenal. Tapi wajar pula kan kalau Andra cemburu?

"udah apa"?

"suap-suapan sama Naomi-nya"?

"saya gak lagi suap-suapan, kamu yang langsung kabur jadi gak liat kelanjutannya "

Ara mencebik, lalu memperlihatkan layar ponselnya pada Andra dimana itu turut menunjukkan isi chat Riana yang menyuruh mereka datang ke bandung untuk fitting baju, sekalian Riana ingin berdiskusi pada Ara soal hantaran pernikahan

"bapak bisanya kapan"? Andra terlihat berfikir, kemarin Andra sudah bertanya pada Ara soal hantaran pernikahan dan Ara bilang ia harus bicara dulu pada sang mama-Riana. Andra sebenarnya sangat sibuk akhir-akhir ini, sebelum menikah ia harus selesaikan dulu beberapa pekerjaannya agar ia bisa cuti lebih lama

"kita ngobrol di apartment saya aja, ayo" Ara menahan diri, hari sudah sore dan sebentar lagi matahari sudah mau pamit. Ara merasa itu bukan saat yang tepat untuk berkunjung ke apartemen Andra sekalipun mereka sudah tunangan

"gak bisa, udah sore ini" Andra menaikkan alis menatap Ara terheran

"terus kalo tau udah sore kenapa masih mau kerumah Arka"?

"ya itu beda"

"apa bedanya"? Ara mengernyit, nada bicara Andra mulai tidak santai

"saya gak suka kamu ketemu terlalu sering dengan Arka" lalu Ara melotot mendengarnya, Arka itu kan sahabatnya, kenapa Andra melarang?

"loh, Kenapa? dia sahabat aku. Ngapain kamu larang-larang" protesnya tidak terima, Ara bisa menjauhi semua orang tapi tidak dengan Arka. Arka itu punya cara sendiri membuat Ara rileks walaupun kalau bicara dengan Arka ia perlu tarik urat.

"saya tunangan kamu"

"baru juga tunangan, udah ngelarang aja" Andra tidak suka jawaban itu, terdengar seperti meremehkan posisi Andra.

Andra tidak mau mengekang, tidak mau dianggap posesif atau terlalu mengatur pasangan. Tapi dia juga tidak mau dianggap abai dan cuek. Ara akan jadi istrinya sekaligus tanggung jawabnya. Bukan hal salah bagi Andra jika dia sedikit ingin mengurangi kedekatan Ara dengan pria lain

"kalo gitu kita nikah besok aja, biar saya resmi jadi suami kamu cepat-cepat dan bisa bilang ke kamu kalo wajib bagi istri buat nurut kata suaminya" kalimat yang Andra ucapkan secara serius justru membuat Ara menatapnya horor

"apaan sih"!

Andra menarik tangan Ara untuk mengikutinya sampai ke parkiran dimana mobilnya berada

"kita ke apart, banyak yang perlu dibahas dan lebih penting dari pada Arka"

***

Dua gelas es teh sudah tersaji, jangan pikir Andra yang membuatnya karna itu mustahil. Itu buatan Ara

Andra menyuruh Ara untuk bertindak bebas di apartment nya selama itu masih dalam jalur positif

"kamu gak ada permintaan khusus buat hantaran pernikahan"? Ara menggeleng, tidak ada yang bisa ia contoh karna Ara tidak punya saudara yang telah menikah. Saat dulu Riana menikah yang urus hantaran juga bukan Ara jadi pengetahuan Ara soal itu adalah 0%

"gak ada, gak tau"  jawab Ara pendek, lalu memakan kripik singkong yang ia ambil dari lemari di dapur Andra

"kamu maunya apa"?

"kamu bisanya apa"?

Tidak tau saja Ara, bahwa Andra bahkan bisa membeli rumah mewah tanpa perlu repot pikir harga.

"apa aja, bebas"

"kamu jangan sok kaya gitu bisa gak"? Andra tertawa, baru beberapa bulan rasanya ia mengenal Ara hari-harinya sudah berubah drastis.

Lebih berwarna

"memang saya kaya kok"

"yaudah aku mau mobil, yang bagus yang mahal" kata Ara bercanda lalu kembali makan

"oke"

"minggu kita ke bandung, sekarang kamu masak gih" karna Andra benar-benar lapar sekarang

"Kok nyuruh-nyuruh mulu"!? walau mengomel Ara tetap berjalan kearah dapur. Membuka lemari pendingin Andra dan menemukan banyak sekali bahan makanan

Andra sepertinya sudah berbelanja

"minggu kita ke bandung" Andra duduk di meja dekat dapur, spot yang cocok untuk melihat pemandangan indah berupa Ara yang bolak-balik di dapurnya

"iya"

"sabtu kita kerumah orang tua saya, kamu ketemu sama oma lagi" Ara menoleh cepat, bertemu lagi dengan Mira ara masih belum siap.

"tenang, oma baik kok" Ara kembali membelakangi Andra, fokus memotong brokoli.

"kalau oma juga lebih suka sama Calista gimana"?

Andra maju, berdiri disamping Ara yang seketika berhenti memotong

Menunggu Andra bicara

"terserah, yang penting saya nikahnya tetap mau sama kamu. Tolong kamu jangan pikirin orang-orang, cukup saya aja yang kamu dengarkan. Bisa"?

Ara bagai terhipnotis, ia mengangguk tanpa banyak tanya apalagi protes

"pinter" kata Andra mengusap kepala belakang ara

"kamu gak mau ajak aku beli cincin"?

Andra menggeleng, membuat Ara heran. Masa menikah tidak pakai mas kawin

"cincin urusan saya, saya sudah pesan. Saya yakin kamu suka desainnya"

Oh ok, Ara memang tidak minat beli cincin bersama. Tadi dia cuma tes saja

"waktu aku liat kamu sama Calista keluar dari toko perhiasan itu kamu ngapain"? Ingatan Ara flashback saat ia melihat Andra dan Calista beberapa waktu lalu

"beli kado untuk mamanya Calista"

Wow, sedekat itu mereka meski sudah jadi mantan?

"Gak usah berfikir macam-macam, saya dan Calista sudah selesai dari lama"

Lagi-lagi Andra seakan membaca pikiran Ara

"kamu gak sadar ya? Calista itu masih suka sama kamu"

"sadar, tapi saya gak peduli"

Продолжить чтение

Вам также понравится

762K 47.6K 31
Wattys 2018 - WINNER The Contemporaries "Jika seandainya untuk selamanya kamu tetap tidak bisa memandangku, setidaknya biarkanlah laguku tetap mengal...
215K 17K 41
Приложение Wattpad - разблокируй эксклюзивные возможности