"Kamu tuh harusnya bersyukur bisa mas bonceng pakek motor kesayangan mas ini. cuma kamu lho cewek yang pernah mas bonceng. Nanti kalau mas udah punya istri mas gak bakal jamin kamu masih bisa mas bonceng kayak gini."

"Ya... semoga aja istrinya mas Azka nanti mau dibonceng pakek motor nakutin kayak ini." kata Ina kesal.

"Eh hati-hati lho. Nanti kalau kamu punya suami yang hobbynya motor sama kayak mas tau rasa kamu."

"Ina bakal cari yang gak punya motor nyusahin ini." Kata Ina masih terus mengomel

"Padahal Raqi juga punya motor kayak gini tapi kok sensinya cuma sama aku sih dek?" tanyaku bingung. Aku dan Raqi memang memiliki jenis motor yang sama, motor Kawasaki ninja 250 dengan warna yang berbeda. Warna putih milikku dan hitam milik Raqi. Ayah memang sengaja membelikan kami berdua motor yang sama saat ulangtahun kami. Ayah sendiri sangat hobby dengan otomotif yang sepertinya memang diturunkan padaku, bahkan bunda sering banget ngomelin aku sama ayah kalau sampai lupa waktu saat ngotak ngatik motor kami. Sedang Raqi, dia memang menyukai otomotif tapi Raqi tak begitu menyukai motor, adik keduaku ini lebih suka memodifikasi mobil yang diberikan Ayah untuk kami bertiga 3 tahun lalu. Dan motornya? Raqi hanya akan menggunakannya pada saat-saat tertentu semisal touring dengan keluarga besar kami yang memang rata-rata penyuka motor gedhe atau karena terburu-buru. Selain itu, dia lebih memilih menggunakan mobil kesayangannya.

Sedang Ina, dia lebih suka memodifikasi masakannya daripada ikut-ikutan aku dan Raqi yang rela mengeluarkan banyak uang untuk memodifikasi barang mati itu. Ina bahkan tak pernah risih menggunakan motor Honda beat yang telah menemaninya dari dia masih SMA dulu. tak ada yang berubah sedikitpun dari motornya. Kalaupun berubah itu karena ulah tangan kreatif aku dan Raqi tentunya. Dan Ina tak pernah mempermasalahkan ataupun mendukungnya, baginya yang terpenting masih bisa digunakan. Persis seperti bunda.

"Udah ah mas mau masuk. Tuh kalau mau marah, orangnya udah dateng." Kataku kembali mengacak-acak hijab Ina saat melihat mobil Raqi memasuki halaman rumah kami. Aku hanya terkekeh pelan lalu beranjak tanpa melihat reaksi kesal Ina.

"Mas Azka! Nyebelin." Kata Ina kesal. Ina menunggu pengemudi Honda jazz yang baru saja memakirkan mobil itu keluar. Kesal Ina bertambah saat yang ditunggu langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikannya. Dengan wajah yang sangat bahagia. Aku yang melihatnya dari dalam hanya bisa tertawa melihat bagaimana kesal Ina yang sepertinya sudah diubun-ubunnya.

"Abang!." Teriak Ina yang tak mendapat sahutan dari sang pemilik nama. Dengan wajah kesal kuadrat Ina masuk kedalam rumah. Langsung masuk kamar.

"Mas sama abang besok pulang gak? Ina kangen bunda sama ayah, pengen pulang." Kata Ina saat kami bertiga sedang berkumpul makan malam.

"Hmm... mas besok ada janji sama anak-anak himpunan buat survey lokasi penyuluhan minggu depan. Soalnya yang tau tempatnya cuma mas. Abang mungkin bisa ngantar kamu pulang." Kata ku sambil melirik Raqi. Yang disindir sama sekali gak menyahut. Melamun. Aneh

"Bang... abang!" teriak ku dan Ina bersama-sama membuat Raqi terkejut.

"Hah? Apaan? Kenapa kalian teriak-teriak sih?"

"Kamu ngelamun bang?" tanya ku bingung. Gak biasa-biasanya Raqi bersikap aneh kayak gini.

"Enggak kok mas." Kata Raqi. Aku merasa ada yang sedang dia sembunyikan.

"Enggak kok diajak ngomong gak nyaut." Kata Ina kesal. Lagi. Aku hanya bisa menggeleng pelan.

"Emang kalian ngomongin apa?" tanya Raqi polos. Tuh kan.

"Tuh kana bang ngelamun. Ngelamunin apa sih bang? pasti cewek ya?" tuduh Ina

"Eng... enggak. abang tuh lagi mikirin proposal abang yang belum di setujui sama dosen pembimbing abang. Emang mas Azka sama adek lagi ngomongin apaan sih?" tanya Raqi yang aku rasa seperti salah tingkah.

"Nah...nah udah pasti nih abang lagi mikirin cewek. Bang!" teriak Ina kesal. Lagi-lagi abangnya melamun. Lagi

"Hah? Apa Syil?" Kata Raqi keceplosan. Syil? Syil siapa yang Raqi maksud? Apa Syila adik tingkatku? Tapi ada apa? Apa mereka saling kenal?

"Syil? Syil siapa? Syila maksud abang?" tanya ku kesal. Eh tunggu kenapa aku kesal gini ya?

"Syil? Syil apaan sih mas? Aku gak ngomong Syil kok? aku tadi ngomong sih bukan Syil mas. Mas Azka salah denger." Elak Raqi.

"Raqi bohong. Pasti ada yang sedang disembunyikan sama Raqi." Batinku. Bagaimanapun kita selalu bersama, bahkan dari dalam Rahim bunda. Dan aku tau kapan saudaraku berkata benar ataupun bohong.

"Yaudah gak perlu dibahas lagi. Abang besok ada acara gak? Adek pengen pulang. Aku gak bisa nganter karena mau survey lokasi. Abang bisa nganterin adek gak?" tanya ku menyudahi sebelum semakin banyak kebohongan yang dibuat oleh adek keduaku.

"Besok ya? Abang terlanjur janji sama temen-temen fotografi buat hunting di bromo. Kalau lusa aja gimana dek? Habis abang pulang dari bromo?" tanya Raqi merasa bersalah.

"Ina pulang sendiri aja deh kalau gitu. Ina bisa naik motor. Nanti kalau abang sama mas Azka mau bisa nyusul minggunya naik mobil. Motor Ina biar Ina tinggal dirumah aja."

"Gak boleh." Kata ku dan Raqi kompak.

"Kompak banget ngelarangnya." Kata Ina jengah. Gak ada yang mau nganter, semuanya sibuk dengan organisasi masing-masing giliran mau mandiri dilarang.

"Kamu gak boleh pulang naik motor, bahaya adek." Kata ku lagi. Ayah bunda pasti juga melarang anak bungsu mereka pulang ke Blitar naik motor sendirian. Bisa ngamuk-ngamuk mereka.

"Kita bisa kena marah ayah nanti kalau sampek mbiarin kamu pulang sendiri naik motor."

"Ya terus gimana? kalian semua sibuk. Ina udah kangen berat ini sama bunda." Kata Ina merajuk.

"Bang gak bisa diundur apa acara huntingmu itu?" tanya Azka pada Raqi.

"Gak bisa mas. Udah booking jeep sama penginapannya mas. Mas aja deh yang ngundur surveynya. Kan masih minggu depan acaranya."

"Gak bisa. Itu bukan wewenang ku lagi."

"Udah-udah... kalau Ina emang gak boleh naik motor, Ina naik kereta aja deh. Ina juga gak mau nyusahin kalian. Ina gak mau ganggu acara kalian. Ina juga udah dewasa."

"Tapi..." kata ku dan Raqi bersamaan.

"Gak ada bantahan. Ina gak mau ngerepotin kalian terus. Lagian kereta sekarang gak kayak dulu mas, bang. ina akan aman. Percaya deh." Kata Ina lagi sambil membereskan meja makan. Aku dan Raqi hanya mengangguk. Kalau Ina sudah begitu, tak ada yang berani membantahnya. Bakal ngamuk si bungsu.

"Ada hubungan apa Raqi dengan Syila? apa dia Syila yang sama dengan Syila si cewek ceroboh itu? Bagaimana bisa mereka kenal? Apa Raqi menyukai Syila seperti cowok-cowok lain yang juga terang-terangan menyukai gadis ceroboh itu? Kenapa aku sekesal ini melihat Raqi tersenyum-senyum seperti itu? Apa dia sedang memikirkan Syilaku? Syilaku? Azka yang benar saja. Siapa kamu? Dia bukan siapa-siapamu. Dia cuma gadis ceroboh yang selalu menghancurkan hari-harimu." Batin ku kesal. Aku melihat Raqi sekilas yang masih melamun sambil senyum-senyum sendiri dan memilih untuk pergi sebelum hatinya semakin panas. ada apa? Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan Raqi dan kata Syil itu? Apa ini semua? Tbc










Ada yang nungguin gak ya?????

The Calyx - Story Of Azka & Arsyila (Telah Terbit)Where stories live. Discover now