Prolog

86 5 0
                                        

"Biruuuu..... " ujar seorang perempuan yang berlari ke arah laki-laki yang namanya disebut.

"Langit, lu ngagetin gue aja tau nggak sih," ketus Biru kepada perempuan tersebut yang bernama Langit.

"Ya ampun bi, gue perasaan ngagetinnya biasa aja deh. Lu aja tuh yang lebay," protes Langit.

"Berisik lu," gerutu Biru.

"Dih, lu kenapa sih bi? Sewot banget dari tadi." Lagi-lagi Langit memprotes atas sikap Biru yang tidak biasanya.

Biasanya Biru selalu bersikap lembut, tidak mudah tersinggung, tidak suka marah-marah dan bahkan tidak pernah berbicara keras seperti halnya yang barusan dilakukan kepada Langit. Lalu ada apakah dengan Biru?

"Bi, jawab dong jangan diem aja," desak Langit sekali lagi.

"Bawel banget sih lu jadi orang. Gue lagi pusing nih. Ngertiin dikit kek," ucapan Biru kali ini benar-benar semakin meninggi. Ia seperti bukan Biru yang Langit kenal. Intonasinya yang keras menjadikan Langit payah seketika dihadapannya. Biru berubah. Biru tidak lagi sama. Dimana Birunya Langit? Langit rindu Biru yang dulu. Langit rindu Biru yang selalu menjaga baik-baik Langitnya. Bukan Biru yang seketika merusakan keceriaan Langit.

"Gue nggak bermaksud bikin lu tambah pusing kok, bi. Apalagi sampe nggak bisa ngertiin keadaan lu. Tapi kalo lu yang gue tanya kenapa nggak jawab apa-apa, bagaimana gue bisa tau keadaan lu. Bagaimana juga gue bisa ngertiin kondisi lu saat ini," ucapan Langit terdengar lirih. Intonasi tinggi yang beberapa menit lalu dilontarkan oleh Biru, benar-benar membuat hati Langit goyah. Kini mata Langit pun mulai terlihat berkaca-kaca.

"Gue minta maaf, kalo ternyata gue malah jadi nyusahin lu. Maaf kalo gue terlalu bawel. Dan maaf, kalo ternyata gue bukan sahabat yang bener-bener bisa ngertiin keadaan lu." Langit kembali mengucapkan dengan lirih. Hingga kemudian airmatanya jatuh membasahi pipi.

Usai perdebataan kecil antara Langit dan Biru. Langit pun bergegas pergi meninggalkan Biru yang sejak tadi tidak mau diganggu. Dengan sisa-sisa rasa sakit yang menyeruak masuk dalam hati, serta derasnya airmata yang semakin membanjiri pipi, Langit berlari menuju ke rumahnya. Sementara itu, di tempat Biru berdiri. Biru masih terdiam mengingat-ingat apa yang barusan terjadi. Biru menyadari, bahwa dirinya telah keliru.

"Gue udah keterlaluan sama Langit. Padahal Langit nggak salah apa-apa, dan bahkan dia nggak tau apa-apa. Langit, maafin gue," ucap Biru dalam hatinya.

*****

Setibanya di rumah, Langit langsung menguncikan dirinya dalam kamar. Ibu Langit yang melihat sikap Langit yang tidak seperti biasanya, merasa keheranan. Apa yang terjadi dengan putrinya? Mengapa ia berlari lantas mengunci dirinya dalam kamar? Langit kamu kenapa?

Beberapa menit Ibu terdiam. Menerka-nerka apa yang terjadi pada putri satu-satunya. Tak lama kemudian, datang putra pertamanya yang bernama Awan.

"Mas, kamu cek adikmu deh," ujar Ibu pada Awan.

"Kenapa harus di cek?" tanya Awan dengan penuh heran.

"Adikmu tadi abis dari luar. Terus pulang-pulang malah lari-lari, terus masuk kamar. Dikunci juga pintu kamarnya." Ibu menjelaskan perlahan kepada Awan.

"Halah bu. Nggak apa-apa itu mah. Nggak perlu di cek. Paling lagi berantem lagi Sama Biru," ucap Awan dengan semaunya.

"Huss, kamu ini. Ibu itu tau betul. Kalo adikmu lagi berantem sama Biru, nggak sampe kayak gini, sampe ngunci pintu kamar. Itu adikmu sepertinya nangis." Lagi-lagi Ibu memberikan penjelasan kepada Awan.

"Serius bu? Langit nangis?" Tegas Awan kepada Ibunya.

"Iya mas. Tadi Ibu liat sendiri adikmu sesegukan. Pas Ibu mau samperin, adikmu udah masuk kamar, terus kunci pintu," ujar Ibu.

"Duh, gawat nih bu," ujar Awan seakan panik.

"Gawat kenapa mas? Adikmu nggak kenapa-napa kan?" Cemas Ibu setelah mendengar perkataan Awan.

" LGawat bu, kalo Langit sampe nangis terus nggak berhenti-henti. Rumah kita bisa kebanjiran. Haha," canda Awan.

"Heee, kamu ini mas. Ibu lagi serius, kamu malah bercanda. Kasian adikmu itu loh."

"Jangan serius-serius ah bu, nggak baik buat pikiran. Nanti gampang stres." Lagi-lagi Awan melempar lelucon.

"Huuu.. Iya gampang stres. Gampang stres Ibu punya anak macem kamu, " canda Ibu kemudian.

"Tapi sayaanggg kaannn..." ledek Awan.

"Halah. Terserah kamu deh mas." Ibu akhirnya menyerah dengan candaan Awan.

"Itu adikmu jadinya gimana mas?" tanya Ibu untuk memastikan kepada Awan.

"Iya iya Ibuku sayang. Nanti Awan coba cek yak."

"Hhmm.. Ya udah Ibu mau lanjut masak dulu. Nanti Ayahmu pulang belum mateng lagi masakannya," ucap Ibu sembari kemudian berjalan menuju dapur.

"Siipp. Masak yang enak ya bu. Yang buuuaaanyaaakkk," ujar Awan agak sedikit kencang agar terdengar oleh Ibu.

Setelah mendengar penjelasan dari Ibu. Awan pun bergegas menuju kamar Langit untuk mengecek keadaan adik perempuan satu-satunya.


Tolong di VOTE dan KOMEN yaa para pembaca ku 🤍 Selamat membaca dan selamat menikmati tulisanku untuk para pembaca ku 🤍 FOLLOW WP ku untuk tahu kelanjutan dari cerita ku ya...

Biru dan LangitPovești de care să fii obsedat. Descoperă acum