BAB 8

1.1K 99 31
                                    

"Little do you know, i'm still haunted by the memories." - Little Do You Know.

👑👑👑

Seorang perempuan menatap sebuah foto yang terbingkai oleh ukiran kayu yang mengelilinginya. Di bagian bawah kayu terlihat sebuah kata yang terukir, sebuah nama yang sangat dirindukannya.

"Chaqira.. " lirihnya,

Perempuan itu mengusap lembut foto yang tertutup oleh kaca bening. Sedari kejadian beberapa hari yang lalu, ia terus mengenang keponakan kesayangannya. Gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai anak itu tak akan pernah dilupakannya.

Dendam yang membara tidak akan pernah padam sampai akhir hayatnya. Di dalam lubuk hatinya ia terus mengecam dan menyumpah mati untuk Denial. Tidak akan pernah ia akui lelaki itu sebagai Raja Lanzwirs. Sampai kapan pun.

"Aku yakin, itu kamu." Gumamnya sembari mengusap air matanya yang tanpa ia sadari sudah luruh sejak ia menatap rindu keponakan kesayangannya itu.

Ia jadi teringat ketika tiba-tiba ada pangeran Clinton yang langsung mencegahnya, dan menggendong gadis itu lalu dengan lekas membawanya keluar. Tapi satu hal yang tidak ia lupa, ia melihat kalung itu.

"Bunda?"

Pintu kamarnya terbuka, menampakkan seorang gadis yang menatap iba ke arahnya.

"Bunda tidak apa-apa," ucapnya menenangkan,

Ia menatap putri bungsunya itu dengan senyuman lalu memanggilnya untuk mendekat ke arahnya. Tidak seharusnya ia terus bersedih. Sebentar lagi ulang tahun Lanzwirs, dan tidak akan ia sia-siakan.

"Masih tentang Chaqira?" Tanya putrinya dengan hati-hati.

Perempuan paruh baya itu mengangguk pelan, "Bunda sangat yakin, sepupumu itu masih hidup." Ucapnya teguh sembari meletakan pelan bingkai foto.

Putri kesayangannya itu mengerutkan keningnya, "Bunda, kita semua menyaksikannya. Meski saat itu aku masih kecil, tapi aku ingat kok, Bun."

Perempuan yang ia panggil bunda tadi menggenggam erat kedua tangannya, "Bunda ketemu Chaqira. Dia masih hidup."

"Bagaimana bisa, Bun?! Aku tau, bunda kangen banget sama Chaqira, tapi gak seharusnya bunda terus-terusan dibayang-bayangi dia. Biarkan dia tenang, bun. Marsha ikut sedih kalau bunda terus mengurung diri begini," ucapnya sedih,

"Enggak, ini bukan suatu halusinasi. Bunda ketemu dia di pesta putra sulung kerajaan Denziar kamis tadi. Dia, benar-benar Chaqira!" Kekeuh Bundanya,

Marsha membulatkan matanya, "Maksud bunda?"

"Dia memang tidak berkata apa-apa, hanya temannya yang bilang kalau dia bukan Chaqira, tapi namanya Charisa, lalu setelahnya dia pingsan dan sesaat setelahnya pangeran Clinton datang membawanya pergi. Dendam bunda bukan hanya pada raja biadab itu. Tetapi juga pada cucunya! Sampai kapan pun, keluarga kita tidak akan pernah memaafkan mereka!"

Marsha mengangguk perlahan, ia tidak mau mendebat bundanya yang selalu berapi-api kalau membicarakan Raja Denial dan Pangeran Clinton. Dendam bundanya sudah mendarah daging, tidak ada satu pun orang yang mampu mengobati dendam teramat bundanya.

Bagaimana mungkin bundanya mampu memaafkan orang yang telah membunuh kakak kandungnya serta keponakannya yang juga sepupunya, tidak cukup membunuh, malam kelam pada saat itu menjadi saksi dibakarnya seluruh keturunan Ratu Niara.

Satu hal yang ia tangkap, nama Charisa yang tadi disebut bundanya.

"Nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin dia sepupuku." ucapnya dalam benak sembari melirik foto sepupunya yang diletakkan bundanya di meja samping kasur.

IRREPLACEABLE (Completed √)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang