Pt 31 | Love Story Part 2

719 34 0
                                          

Gara menuju lift yang ada dihotel, namun Saga terlambat karena pintu lift itu sudah tertutup rapat. Ia melihat tombol lift yang menuju ke lantai 7 atas yaitu sebuah rooptof.

Buru buru Saga berlari menggunakan tangga darurat yang ada disampingnya. Dengan nafas yang tersengal sengal ia bisa melihat Gara dengan tatapan kosong yang berdiri dengan menatap kebawahnya.

" Lo jangan pernah mikir elo bakal melompat dari sana " Teriak Saga

" Gue nggak ada alasan untuk tetap hidup Ga " Balas Gara.

Dengan pelan pelan Saga mendekat ke arahnya, ia tidak ingin saudara kembarannya melalukan hal se nekat itu.

Dengan cepat Saga menarik tubuh Gara darisana, tapi Gara menolaknya sampai sampai membuat Gara menonjok Saga.

" Lo enak Ga terlahir dengan IQ tinggi yang membuat lo penuh akan kasih sayang sedangkan gue! Enggak sama sekali " Teriak Gara.

" Gue sayang sama lo Gar, sebagai saudara kembar gue " Lirih Saga

Tinjuan kembali mengenai rahang pipi milik Saga.  Namun Saga hanya diam saja ia akan menjadi tempat untuk Gara untuk mengutarakan semua kesedihannya.

Saat Gara ingin menonjok wajahnya kembali milik Saga. Tangannya hanya menggantung di udara. Karena Rena tiba tiba datang menahannya.

" Saga nggak salah apapun, lepasin dia! " Sentak Rena.

Ia melirik keadaan Saga yang sudut dan pelipisnya berdarah.

" Lo nggak usah ikut campur urusan gue sama Saga! Pergi! " Teriak Gara dengan emosi.

" Lo beruntung banget Ga, gue iri sama lo karena lo punya kasih sayang orang tua dan perempuan yang sama lo sedangkan gue cuma sendirian" Lirih Gara.

Rena  menyentuh bahu milik Gara untuk meredam emosinya.

" Gue bisa menjadi sahabat lo, Gar "

Sentuhan bahu yang dilakukan Rena membuat kemarahannya meningkat. Lalu ia mendorong dengan sangat kuat hingga membuat Rena terjatuh ke bawah dari lantai 7.

Saga menghempaskan cekalan Gara dan berlari dengan maksud untuk mengambil tangannya agar tidak jatuh. Namun tangan Saga tidak sampi membuat Rena terjatuh.

Bruakk!!

Tubuh Rena terjatuh tepat diatas mobil yang berwarna putih. Darah berkeluaran dari seluruh tubuhnya. Penglihatan Rena kabur ia menatap langit dan seseorang diatas yang tidak jelas.


Suara sirine terdengar nyaring di jalan raya,disana Saga sudag menggenggam tangan yang masih bersimbah darah.

Alat bantu pernafasan bertengger dihidungnya, dengan cepat Rena dibawa di UGD agar terselamatkan. Hendra menangis dengan histeris, melihat kondisi putri semata wayangnya.

Saga memandang Rena yang terpejam pulas dibalik kaca operasi. Lalu ia terduduk lemas, kenapa semua ini harus terjadi pada Rena bukan dirinya saja.

Dengan kasar Ryan memukuli Gara dengan tongkat.

" Karena kamu sahabat Papa akan memanjarakan kamu " Sentak Ryan

" Aku tidak peduli padamu tapi bagaimana reputasi keluarga kita kalau kamu adalah seorang pembunuh! "

Gara memegangi kepalanya, ditengah itu dirinya menampar pipinya sendiri.

" Gue bukan pembunuh! Bukan! Bukaaan " Teriak Gara histeris.

Calista yang sedikit tidak terhadap putranya Saga yang belum pulang dari rumah sakit beberapa hari ini. Apalagi kondisi Gara yang selalu berteriak teriak setiap malam membuat Ryan dan Calista harus berbuat apa.

Hancurnya sudah hati Saga mengetahui pernyataan bahwa Rena koma. Hanya 35% kemungkinan Rena akan bertahan.

Hendra membawakan polisi ke rumah Chades. Polisi sudah membawa Gara yang memberontak kasar.

" Aku mohon Hendra, jangan lakukan ini. Dia tetap putraku " Ucap Ryan sambil memohon dikakinya

" Dia sakit mental sekarang, jangan hancurkan masa mudanya " Kini Calista yang berbicara disamping Ryan.

" Lalu bagaimana putri sayang yang sedang bertahan untuk hidup? Apa kalian bisa membuat Rena sadar kembali? " Lirih Hendra dengan penuh penekanan.

" Kamu boleh memenjarakan putraku kalau putrimu tidak selamat Ndra. Aku akan menyerahkan putramu, tapi ada kemungkinan Rena hidup. Ingat Ndra kita adalah sahabat berilah sedikit kebaikan pada kami "

Dengan berat hati, Hendra mengiyakan semua perjanjian Ryan.

Saga menggenggam erat tangan milik Rena yang kini terbaring lemas dikamar VIP. Sudah dua bulan sejak kritisnya Rena tidak pulang ke rumah bahkan sekolah. Membuat Calista cemas dan membawakan pakaian dengan makanan untuknya.

Ia tahu semua apa yang terjadi didalam rumah. Bagaimana kondisi Gara yang kini sedang sakit mentalnya.

Dada Rena semakin sesak, monitor menjelaskan hidupnya dalam bahaya. Saga yang terkejut buru buru keluar untuk mencari dokter.

" Dokter! Dokter! "

Seru Saga membuat dokter yang tadinya berbincang dengan Hendra diluar buru berlari kearahnya. Segala persiapan medis dibawa dan menyuruh Saga dan Hendra keluar dari ruangan.

" Kata dokter, hidup Rena semakin menipis dia tidak akan bertahan lama. Apabila dia masih bisa hidup maka ia akan amnesia karena pengangkatan otak. Dua pilihan itu? Tidak ada cara lain sekarang. Saya tidak mau kehilangan putriku " Lirih Hendra

Tidak! Rena tidak akan meninggalkannya sendirian di dunia ini. Saga mendengar suara lonceng gereja, ia bangkit tanpa mengatakan apapun. Dia tahu ada Gereja didepan rumah sakit. Dengan berjalan gontai tatapan yang kosong menuju penghujung Gereja yang sepi.

Dengan lutut sebagai pedoman duduk, disatukan tangannya dihadapannya.

" Tuhan, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai Rena. Dia adalah segalanya bagiku, tanpanya aku tidak akan pernah bisa hidup. Untuk itu berilah kesempatan kehidupannya sekali dengan itu Aku akan mempertaruhkan cintaku, aku akan menjauh darinya demi kehidupannya. " Ucap Saga dengan tegas dan berlinang air mata.

Suara dering telfon terdengar olehnya buru buru ia mengangkat panggilan dari Hendra.

Saga! Kamu kemana aja? Rena sekarang sadar!

Ucapan Saga lantas membuatnya senang, tapi juga sedih. Ia harus menjauh darinya dalam kehidupannya. Tapi ini lebih baik ia bisa melihatnya bahagia.

Bersambung..

Saga dan Gara ( Komplit )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang