Pt 4 | Memandang Langit

1.1K 59 0
                                          

Hal yang aku bisa lakukan untukmu adalah menjauh darimu demi kebahagianmu

Mereka sudah siap satu sama lain begitupun Saga yang sudah melepas seragamnya dan nemperlihatkan kaos berwarna merahnya.

Kali ini bola dipegang oleh Rena yang siap akan menembakan bola di ring tetapi tangan kekar Saga sudah menahannya. Rena kembali mengejarnya tetapi kalah cepat yang sudah masuk ke ring. Saga bersorak dan sambil menjulurkan lidahnya membuat Rena.

Kali ini Rena yang berhasil memasukan bolanya ke ring. Mereka bermain disertai bercanda apalagi saat bolanya berada ditangan Saga. Maka ia akan menyembunyikan bolanya kebelakang membuat Rena tidak sengaja memeluk Saga.

Waktu sudah habis dengan hasil 3 VS 2 dimana Saga memenangkan pertandinga one to one.

"  Lo yakin kan nggak Gara? " Tanyanya dengan nafas tersengal sengal.

" Gue Saga, lo nggak liat lesung pipi gue " Balasnya sambil mengedikkan pipinya.

" Nggak kelihatan lah lo aja datar aja, senyum kek " Pinta Rena

Awalnya Saga ragu ragu ia tidak pernah tersenyum bahkan dengan orang tuanya. Apalagi yang notabene nya sahabat kembarannya. Lalu Saga tersenyum sambil memperlihatkan lesung pipinya. Rena sedikit terpesona akan Saga ia menyadari bahwa wajah mereka akan sedikit berbeda saat Saga melihatkan lesung pipinya.

" Yaudah jangan senyum mulu ntar disangka orang gila baru tahu rasa " Setelah mendengar ucapannya wajah Saga kembali datar.

" Karna gue menang lo harus nurutin permintaan gue yaitu lo harus traktir gue makan dari tadi gue nggak makan " Rena melontarkan tatapan aneh.

Hanya itu saja? Biasanya kalau dicerita wattpad akan minta orang yang kalah jadi pembantunya selama satu bulan.

Saga sontak menggandeng tangan yang Rena tidak bergeming. Saga membukakan pintu mobil mewahnya namun Rena hanya diam saja tidak masuk membuat Saga kebingungan.

" Gue nggak bisa naik mobil karna setiap gue naik mobil gue seakan nggak bisa nafas dan gue bakal keringat banyak kayak gue trauma tapi nggak tahu kenapa " Saga baru saja tahu akan keadaan Rena.

Dia orang kaya kenapa tidak pernah naik mobil. Ia selalu melihat Rena yang selalu membonceng Gara yang menaiki motornya atau kalau nggak kedua temannya.

" Lo mau jalan kaki? " Tanya Saga

" Kenapa enggak" Rena berjalan lebih dulu.

Kini mereka sudah sampai tempat yang dikunjungi untuk makan. Yaitu sebuah warung makan dipinggir jalan yang bertuliskan Sate Ayam Mang Ahmad.

Saga sering kesini sendirian saat pulang sekolah. Rena baru pertama kalinya dan mencicipinya satenya yang terasa sangat enak berbeda dengan rasa restoran malah lebih enak di sate pinggir jalan.

" Gue boleh nambah nggak? " Rena sungguh kecanduan sate Mang Ahmad ini.

" Mang! Nambah satu lagi " Mendapat balasan jempol darinya.

" Gue denger dari anak anak lain lo berantem ya sama Vania? " Selanya saat makan.

Rena menghentikan makannya wajahnya yang berseri seri menjadi datar dan dingin.

" Gue nggak mau bahas cewek cabe itu " Ketus Rena

" Bukannya lo yang kayak cabe? Coba lo ngaca dandanan lo udah kayak tante tante apalagi seragam ketat dan anting panjang cuma satu itu udah ngebuktiin lo yang cabe " Ucap Saga datar

Sebuah gebrakan meja membuat semua pembeli terkejut. Rena menatap tajam Saga sorot matanya menunjukan kemarahannya. Lalu pergi begitu saja tidak berguna berantem dengan Saga. Dia kira bisa menjadi teman curhatnya tentang.

" Sekarang gue tahu kenapa lo nggak pernah akur sama Gara  " Rena berjalan ke luar.

Saga sadar sudah menyakiti hatinya lalu mengekorinya ia mencekal tangannya.

" Gue nggak suka sama sikap orang yang ngerendahin perempuan apalagi Vania" Cukup sudah telinga Rena yang panas mendengar nama Vania.

Rena menghempas cekalan tangan dengan kasar.

" Lo bisa pergi sekarang, gue udah telfon Gara buat jemput gue " Sinis Rena

" Gue minta maaf, kalo lo ngerasa tersinggung karena ucapan gue " Saga bodoh memang dirinya asal bicara adalah sifatnya.

" Sambil nunggu Gara coba lo liat langit yang berbintang itu " Rena menatap punggungnya yang semakin menghilang.


Tiada hari indah tanpa dirimu

Rena sebenarnya berbohong akan dijemput Gara. Padahal ia sudah menelfon Gara berkali kali tidak diangkat sama sekali. Dimana Gara sekarang? Ia sedang membutuhkannya.

Gara kini sedang makan malam bersama keluarga Vania awalnya ia menolak tapi orang tua Vania memaksa.

" Nak Gara mau nambah lagi? " Tanya Dila mama Vania dengan lembut.

" Udah, tante " Balasnya dengan senyuman

" Jadi, kalian satu kelas ya " Kini Zelo ayah Vania bersuara.

" Iya " Jawab mereka bersamaan.

Karna sudah malam Gara pamit pulang dengan diantar oleh Vania ke gerbang rumahnya.

" Kapan kapan gue mampir disini ya. Gue nyaman disini ketemu sama camer " Kekeh Gara

" Mimpi lo " Vania menggeplak punggung Gara.

" Lo beruntung banget ya punya keluarga yang harmonis nggak kayak gue " Ucapan Gara membuat Vania membisu.

Vania merasa hatinya tersentuh apalagi saat menatap mata sendunya. Ini pertama kalinya bukan perasaan kasihan tetapi sesuatu yang ingin Vania ikut merasakan beban yang begitu berat yang diangkut oleh Gara.

Apalagi Vania pernah mendengar dari Retta kalau Saga dan Gara tidak pernah akur. Ia sangat penasaran dan bertekad untuk menyatukan saudara.

" Gar, gue tahu lo akan bertahan dengan baik " Vania menyentuh bahunya

Bersambung..

Saga dan Gara ( Komplit )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang