Pt 22 | Kehilangan

787 38 0
                                          

Hal yang paling menakutkan adalah sebuah kata kehilangan

_________________________

------------------------

--------

^_^

Byarr!

Suara gelas terjatuh dari tangan milik Vania tatapan yang sekarang kosong,baginya ini adalah sebuah kebohongan. Dila mengelus punggung putrinya yang masih terpaku dengan berita di tv.

Ditemukan siswa SMA Dharmawangsa yang bernama Retta Maharani tewas gantung diri di taman belakang sekolah SMA Dharmawangsa. Kini mayatnya sudah berada dirumah sakit.

Tangisan Vania pecah diseluruh ruangan, Dila hanya bisa memeluk putrinya yang sudah kehilangan sahabatnya. Apa ini yang dimaksud Retta tadi malam bahwa dirinya akan pergi.

Vania dan keluarganya sudah menuju untuk pemakaman Retta. Vania hanya melamun tidak berdaya saat berjalan ditengah patok patok.

Disana sudah ada teman sekelasnya yang sedang berdoa agar Retta bahagia didunianya sekarang. Gara yang melihat Vania sudah datang langsung memeluk erat Vania.

" Lo yang kuat Vania! " Ucap Gara ditengah derasnya hujan.

" Ini nggak mungkin Gara! Orang itu bukan Retta! " Balasnya sambil menjatuhkan payung yang dirinya pakai.

Vania terduduk lemas didepan pemakaman sahabatnya, keluarganya yang sudah datang bahkan menangis terisak isak.

Ia ingat semua kenangan yang ada dalan dirinya saat bersama Retta.

Suasana kelas sedang hening, karena masih berduka. Ditaruhnya bunga Lavender dibangkunya yang merupakan bunga kesukaan Retta.

" Gar, Rena kemana? " Tanya Saga yang terfokus melihat Vania yang hanya diam saja.

" Dia nggak berangkat, katanya nggak enak badan. Bentar ya "

Gara menghampiri Vania yang sedang mencoret coret bukunya. Sambil menahan tangisnya, ia masih tidak percaya.

" Van, kita ke kantin yuk. Kata Tante Dila lo nggak sarapan tadi. " Ajak Gara

" Gue nggak mood makan, lo aja "

"

Dengerin gue Van, kalau Retta liat lo kayak gini apa lo pikir dia bakal bahagia. Dia bisa lihat lo dan berharap lo bisa kayak dulu lagi. Dia akan sedih nantinya jika sahabatnya sakit. " Jelas Gara

Benar juga yang dikatakan Gara, ia mengekor Gara untuk menuju kantin. Langkahnya terhenti saat melihat ibu Retta datang ke sekolah.

" Retta nggak pernah bunuh diri, dia nggak bisa ngelakuin itu " Teriak Ibunya, Mera yang membuat pusat perhatian di SMA Dharmawangsa.

" Dengar Bu, Bukti sudah dimana mana kalau menyatakan anak ibu Retta bunuh diri " Jelas Pak Budi

" Tapi kenapa anak saya bunuh diri tanpa alasan! " Teriak Mera, yang membuat satpam turun untuk mengusirnya.

Dibenak Vania, benar juga yang dikatakan ibunya. Retta bukan anak yang bisa melakukan bunuh diri. Pasti ada sebuah alasan dan itu tidak mungkin.

" Ayo Van " Tarik Gara

Kini Vania menyadari sesuatu, dihempasnya dengan kasar tangan Gara membuat Gara tersentak.

" Sekarang gue tahu kalau kematian Retta berhubungan dengan lo, Gar " Sentak Vania

" Maksud lo apa Van? " Tanya Gara dengan kebingungan.

" Iya, saat gue ketemu Retta di Kafetaria dia nyuruh gue buat jauhin lo. Dengan bodohnya gue nggak perduliin omongannya " Teriak Vania

" Andai aja gu--e " Gara buru buru memeluk erat Vania yang menangis.

Vania dan Gara berada ditempat dimana Retta melakukan aksi bunuh dirinya. Ia mencari bukti untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.

" Disini nggak ada apa apa! Lo tahu tempat biasanya Retta kunjungin "

Vania kembali berpikir, lalu ia teringat sesuatu.

" Lo darimana aja sih? " Tanya Vania cemas

" Hmm, gue dari tempat rahasia " Jawabnya

" Dimana? "

" Jangan bilang siapa siapa ya, ini rahasia kita. Lap kimia yang kosong itu "

Buru buru Gara dan Vania menuju Lab Kimia kosong yang letaknya diujung sekolah.

Saga membawakan bubur ayam dirumah Rena.

" Jadi, sekarang lo tukang bolos? " Kekeh Rena.

" Kan gue belajar dari lo, nih makan gue suapin " Namun Rena mengunci rapat rapat bibirnya. Ia sangat tidak suka bubur karena ya tidak enak.

" Gimana mau cepet sembuh "

"Gue nggak sakit " Ucapan Rena membuat Saga meletakan mangkok buburnya di meja.

" Ada yang ingin gue sampaikan ke lo " Kali ini ia bisa melihat Rena yang mengatakan dengan serius.

Saga menghempaskan cekalan tangan Rena dengan kasar. Matanya kini mulai perih menandakan bulir air mata yang akan terjatuh.

" Ga! Maafin gue! Gue nggak tahu kalau akhirnya akan kayak gini " Lirih Rena

" Sejak kapan sifat buruk lo kayak gini Ren! " Sentak Saga membanting pintu kamar Rena.

Rena bisa melihat kekecewaan dimata Saga. Ia menenggelamkan kepalanya dilipatan lengan tangannya. Semua ini adalah kesalahanya.

Gara dan Vania sibuk mencari bukti atau barang apapun di lab kimia kosong itu. Tanpa sengaja Vania menginjak sebuah flashdisk ia yakin ini adalah peninggalan Retta.

Bersambung..

Saga dan Gara ( Komplit )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang