Pt 11 | Demi Kita

857 48 0
                                                  


Aku  seharusnya menulis namamu dipasir karena akan tersapu ombak
Kutulis namamu di lubuk hatiku karna kamu tak tergantikan oleh siapapun

Vania dengan semangat 45 berlatih basket yang dipandu oleh Rena dan dibantu kapten basket putra yaitu Gara. Vania beberapa kali sudah berhasil memasukan bola kedalam ring.

Pertandingan basket antar sekolah akan dimulai 3 hari lagi. Permainan basket putri sudah cukup baik.

" Makasih ya semuanya, aku janji bakal bermain dengan baik " Ucap Vania saat selesai latihan.

" Dalam basket bukan omongan yang dipertaruhkan tapi pembuktian " Saran Rena membuatnya mengerti.

Rena dan Vania bersama menuju parkiran karena harus pulang dan tidak menyia-nyiakan tenaga.

Gara melambaikan tangan membuat wajah Rena menjadi sumringah. Vania hanya tersenyum tipis dan merasa canggung.

Karena untuk pertama kalinya SMA Dharmawangsa menjadi tuan rumah lomba basket putri. Sekolah harus merenovasi dan menghias. Bahkan didepan sekolah salah satu orang yang merenovasi dinding depan sekolah dengan lampu kaca.

Tanpa sengaja dua lampu kaca berukuran besar lepas dari tangannya. Gara yang melihatnya buru buru berlari ke arahnya. Namun mereka berdua kebingungan. Tidak berpikir terlebih dahulu Gara mendorong tubuh Vania hingga mereka jatuh bersamaan.

Tubuh Vania yang terjatuh membuat tubuh Rena tersungkur. Namun hal yang paling buruk adalah lampu kaca yang berukuran besar jatuh tepat mengenai kaki kanannya. Sedangkan satunya yang harusnya mengenai Vania justru jatuh disamping wajah Rena yang refleks wajahnya dihadang oleh kanannya.

" Rena! " Pekik Gara

Gara berlari menuju arahnya yang sudah pingsan. Membuat kaki kanannya berdarah buru buru ia meminjam mobil siswa lain dan dibawa ke rumah sakit.

Gara yang frustasi menjambak rambutnya sendiri. Kenapa ia hanya menolong Vania saja padahak dirinya bisa menolong Rena juga. Bodoh memang dirinya, Vania yang tahu kegelisahanya mencoba menghiburnya dengan memeluk erat dirinya.

Yang dirasakan mereka satu sama lain adalah sebuah kehangatan.

Tiba tiba sebuah pukulan menghantap rahangnya dan membuatnya tersungkur dilantai. Saga sudah tidak bisa menahan amarah lagi walaupun ia harus melukai saudara kembarnya sendiri.

" Kalau mau berantem jangan disini " Ucap datar Gara.

Saga sadar ada Vania yang sedang melihatnya. Lantas ia menarik kerah seragamnya dan menyeret Gara ke luar rumah sakit.

" Jangan ikutin kita " Sentak Saga

Baru kali ini Vania melihat Saga yang sangat marah hari ini. Ia bisa melihat sorot kemarahan yang besar. Apa mungkin Saga marah karena menyukai Rena. Semoga tidak terjadi apa apa dengan mereka.

Saga sudah membuat wajah Gara babak belur penuh lebam.

" Pukul gue lagi! Gue emang bodoh nggak becus jagain Rena! Hukum gue Ga! " Saga menendang perut Gara.

" Kenapa lo selalu bikin hidup Rena menderita! Lo bilang akan jagain Rena sebagai permintaan maaf lo! Tapi sekarang lo malah ngebuat dia jauh menderita " Teriak Saga

" Gue suka sama Vania Ga! Dan gue refleks nggak sadar kalau ada Rena. Karna gue cuma merhatiin Vania " Balas Gara

" Siapapun yang lo suka! Gue sama sekali nggak peduli! Yang terpenting bagi gue lo nepatin janji " Saga kembali menarik kerahnya.

Untung saja dengan cepat Vania berhasil melerai si kembar yang sudah menjadi tontonan banyak orang.

" Minggir! Vania! " Bentak Saga.

" Cukup Saga! Dia kembaran lo " Balas Vania yang menghadangnya.

Saga menghembuskan nafas kasarnya, lalu mengusap wajahnya.

" Gue bisa aja ngelukain lo Van " Ucap Saga dengan penuh penekanan.

Gara mendorong tubuh Vania ke belakang tubuhnya dibalasnya bogeman mentah dipipinya.

" Berani sentuh Vania habis lo sama gue " Peringat Gara.

" Rena udah sadar " Seru Vania

Saga tidak ingin lagi bertengkar dengan kembarannya Gara. Sudah cukup ia memukulnya kali. Lalu ia beranjak pergi keruangan Rena.

Vania membantu Gara berdiri, ia melihat luka diwajanya.

" Gue mau ketemu sama Rena " Ujar Gara namun Vania menahannya.

" Sebelum itu bersihin luka lo dulu nanti bisa infeksi "

Mereka bertiga sudah berada diruangan tempat Rena dirawat. Tatapan sendu Rena yang nanar melihat kakinya diperban.

" Untung saja kalian cepat membawa Rena kemari, kakinya sedikit terluka Rena perlu istirahat total " Jelas Dokter

" Istirahat? Lalu bagaimana dengan pertandingan basket 3 hari lagi Dok, Saya boleh main kan " Sarkas Rena tidak percaya.

" Dengar nak, jika kamu ikut kemungkinan kamu tidak akan bisa berjalan lagi " Sontak membuat yang ada diruangan terkejut.

Gara tahu betul Rena sangat ingin memenangkan pertandingan ini. Tapi karena dirinya tidak bisa ikut bermain. Memang diluar ia bersikap baik baik saja tetapi didalam hancur.

" Saga, biar gue yang nemenin Rena mendingan lo anter Vania pulang " Saga tahu yang dimaksud Gara.

Yang dibutuhkan Rena bukan dirinya melainkan kembarannya Gara. Untuk itu ia mengantarkan pulang Vania dengan mobilnya.

" Maafin gue ya, tadi terlalu kasar " Ucap Saga memecah keheningan didalam mobil.

" Santai aja, gue tahu lo khawatir banget sama Rena kan? Suka ya? " Wajar saja Gara menyukainya Vania yang selalu ceria memang cocok untuknya.

" Kalo lo suka kejar dia, emang gue pernah suka sama lo tapi sekarang gue akan mundur. Gue nggak akan perjuangin orang yang udah suka sama orang lain " Vania menepuk bahu Saga.

" Gue pengen ambil hatinya lagi gue takut kalau nantinya hatinya bukan untuk gue lagi " Vania tersenyum samar.

" Kalo lo takut kayak gini, Cinta lo bakal pergi begitu aja. Untuk itu kejar Rena jangan sampai udah ke tahap cinta mati sama orang itu "

Bersambung..

Saga dan Gara ( Komplit )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang