Part 30

7.3K 518 37
                                    

 Cowok itu membuka matanya yang terasa berat. Saat matanya terbuka, yang dilihatnya cuma langit-langit dan dinding rumah sakit yang serba putih. Di samping kanannya ada alat pendeteksi jantung dan di hidungnya terpasang sebuah selang oksigen.

 Ia mencoba untuk menggerakan sebelah tangannya yang diperban. Berfungsi. Artinya ia tidak kehilangan tangannya. Ia lalu beralih ke kakinya, dan semua organ tubuhnya yang lain. Berfungsi. Artinya kejadian itu tidak membuatnya cacat.

 Tak lama, seorang dokter masuk ke dalam ruangan tempatnya dirawat. Dokter itu mengeluarkan steteskop dan menempelkannya di dada cowok itu. Cowok itu meringis karena steteskop yang dingin menyentuh kulitnya yang sedikit memar.

 “Semuanya stabil,” kata si dokter. “Anda sudah tidak sadar selama lebih dari 3 bulan disini. Maaf sebelumnya, tetapi kami tidak tahu nama anda ataupun keluarga anda.”

 Cowok itu mengangkat sebelah alisnya.

 “Siapa nama anda?”

 “Aku.....”

 Kemudian semuanya menjadi gelap lagi.

***

 Zayn mengecek kopernya. Katya sudah memasukkan semua yang dibutuhkannya—sepatu, baju, kaos kaki, semuanya deh. Jadi dia tidak perlu menambahkan apa-apa lagi.

 Sekarang hari senin, dan besok Zayn akan pergi ke Swiss untuk melawan FC Basel di ajang Liga Champions.

 “Sudah semua?”

 Zayn menoleh. “Sudah,” katanya.

 Zayn duduk di atas sofa. Ia menepuk-nepuk pahanya, memberi isyarat kepada Katya untuk duduk di pangkuannya. Katya tersenyum simpul, kemudian berjalan ke arah Zayn dan duduk di pangkuan Zayn.

 “I’m gonna miss you,” kata Zayn.

 Katya tertawa. “Bullshit,” gumamnya. “Kau selalu pergi ke luar kota atau ke luar negri, tetapi tidak kangen padaku.”

 “Kata siapa aku tidak kangen padamu?”

 “Kataku.”

 “Sok tahu.”

 Katya meringis, kemudian cewek itu melingkarkan tangannya di leher Zayn membuat Zayn menyeringai lebar. Zayn memegang pinggang Katya, lalu ia mencium Katya singkat.

 “Katya,” panggil Zayn.

 “Apa?”

 “Aku menyayangimu.”

 Katya tertawa. “Zayn, you really are full of shit.”

***

 Zayn menyeret kopernya.

 Sebenarnya Zayn tidak benar-benar suka dengan perjalanan ke luar negri atau ke luar kota. Ia benci berada di pesawat. Bukannya takut, tapi benci.

 Zayn juga belum benar-benar menemukan teman di Chelsea. Kalau di Everton dulu, semua orang adalah temannya. Tetapi saat ia kembali ke Chelsea dan ditempatkan di tim inti, entahlah. Zayn cuma sedikit susah bergaul.

 Walaupun begitu, bukan berarti kerjasama Zayn dengan timnya di lapangan tidak baik. Bahkan Zayn dan Eden pun kerjasamanya sangat sangat baik walaupun mereka menyukai cewek yang sama.

 Satu-satunya orang yang dekat dengan Zayn di Chelsea adalah Petr Cech, sang kiper. Zayn bisa melihat kalau pria berusia 32 tahun itu memang dekat dengan siapapun. Semoga saja Zayn ditempatkan di sebelah Petr di pesawat nanti.

 “Zayn.”

 Zayn menoleh. Itu Eden.

 “Eh, hey,” Zayn tersenyum simpul. “Ada apa?”

For You, I am.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang