[Extra] Tulus - Teman Hidup.

810 100 40
                                    

Setelah kepergian dari almarhum Jiyo Wahyu Utama. Suzy yang biasanya bawel itu menjadi sedikit pendiam. Bahkan, berat badannya sudah turun beberapa kilo.

Padahal Sehun suka Suzy yang berisi. Kekasihnya itu kini terlihat seperti tengkorak berjalan.

Kecelakaan Jiyo waktu itu sungguh tidak di duga. Tabrak lari yang Suzy saksikan di depan mata kepalanya sendiri. Bagaimana adik semata wayangnya itu terpental, dan bagaimana darah segar membasahi aspal.

Sehun paham. Sampai akhirnya ia memilih membuat Suzy merenung sendiri bersama keluarganya.

Semuanya butuh waktu, bahkan waktu untuk merelakan seseorang yang kita sayang pergi selamanya itu tidak semudah mengedipkan mata.

Sampai pada akhirnya Suzy mulai kembali lagi. Meskipun senyumnya tidak secerah dulu, dan Sehun paham dengan itu.

Saat ini, di depan rumah Suzy. Sehun menunggui kekasihnya itu.

"Udah lama?"

Sehun yang menyender di kap mobilnya itu tersenyum menatap sang kekasih. "Baru bentar kok."

Hmmm sebentarnya sekitar 45 menit.

"Kita mau kemana?"

"Kamu mau kemana?"

Suzy cemberut. "Hun jangan mulai nyebelin deh."

Sehun tertawa renyah, lalu mengusak rambut Suzy pelan dan bergerak ke bawah untuk mengelus pipinya.

***

Sehun membawa Suzy ketempat yang begitu ramai. Suzy kira, ia akan di ajak makan malam romantis ala drama korea ataupun nonton film seperti anak muda jaman sekarang.

Suzy menghelan napas ketika dirinya diajak ke mall. Katanya Sehun pengen lihat lihat. Suzy tambah sebel ketika mall hari ini beneran rame, belum lagi setiap ada barang yang pengen selalu di dahului orang lain, atau sizenya tidak ada.

"Kita makan ya?" ucap Sehun.

Kepala Suzy mengangguk. Setidaknya ia bisa mendapatkan makanan di saat moodnya beneran anjlok.

"Aku pengen jco."

"Jangan ah. Rame. Males antri."

Suzy sebel lagi. Padahal tadi sudah biasa.

"Makan dimana?" tanya Sehun.

"Solaria? Eh, tapi aku pengen makan di tong tji."

Kepala Sehun menggeleng lagi. "Nggak nggak. Kita makan di kfc aja."

Suzy sudah sebal. Sebalnya bukan main.

"Makan sendiri sana! Aku pulang aja." ketus Suzy.

Ia berjalan cepat tanpa memperdulikan Sehun yang meneriakan namanya berulang kali.

Ia pikir, dengan ia pergi jalan jalan dengan Sehun sedikit melupakan bagaimana laranya hatinya ketika ditinggalkan oleh Jiyo.

Tapi nyatanya tidak. Sehun masih sama. Masih seperti anak kecil yang menganggap segala hal itu mainan, bahkan hati manusia.

"SUZY!"

Lengan Suzy di cegat oleh Sehun.

"Apa?!"

Saat ini keduanya tenga berada di pelataran depan mall.

Melihat muka Suzy yang super kucel itu, malah membuat Sehun tersenyum.

"Maaf ya sayang?"

"Bodo."

Lalu, Sehun merogoh celana jeans yang ia kenakan. Dan mengeluarkan sebuak kotak beludru berwarna merah terang.

"Liat aku." titah Sehun

Suzy menolehkan kepalanya dan ia kaget bukan main ketika melihat sesuatu yang di pegang oleh Sehun. Sebuah kotak merha yang berisi cincin silver yang begitu cantik.

"Suzy, bulan ada ketika malam, matahari ada ketika siang. Dan aku akan selalu ada buat kamu." Sehun menatap Suzy dengan serius.

Suzy menaikan sebelah alisnya. "Maksudnya?" ia paham, namun ia ingin memancing Sehun kali ini.

"Hmmn, gimana ya ngomongnya?" Sehun meremas dadanya yang sudah berdebar tidak karuan itu.

Suzy sudah memerah. Ia sudah macam tuan krab yang baru saja di goreng.

"Kalau kata tulus, Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku. Berdua kita hadapi dunia Kau milikku, milikmu kita satukan tuju. Bersama arungi derasnya waktu." dengan memberanikan diri, Sehun menatap hazel milik Suzy.

Dengan mengambil napas pelan, ia berkata, "Mau jadi teman hidupku? Teman sampai tua? Sampai punya buyut nanti?" lanjutnya.

Kepala Suzy menunduk, dengan senyum indah yang terpatri di wajahnya.

"Jadi??"

"Aku mau. Tapi ada syaratnya."

Sehun menghela napas. "Apa sayang?"

"Jangan pernah ninggalin aku sendirian. Jangan mencoba jadi bajingan lagi, atau jadi pahlawan kesiangan. Aku gak suka."

Sehun memelum Suzy dengan erat. "Iya sayang. Astaga, nanti kalo aku macem macem, aku pasrah kamu apa-apain deh."
















Dan seorang Sehun, tidak bisa menjaga omongannya itu.

Dan seorang Sehun, tidak bisa menjaga omongannya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tunggu sequelnya ya yeorobun. Di sequel ada kaitannya sama meninggalnya dek jiyo juga ehehehe.

Maafkan aku yang membuat dek jiyo meninggal. Ini demi keberlangsungan sequelnya wkwkwkwk

 Ini demi keberlangsungan sequelnya wkwkwkwk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mampir kuy

Mampir kuy

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 12, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RecallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang