f. keramik

662 135 28
                                    

"Kalian lucu banget sih?! Mama nikahin mau??"

"MAMA APA'AN SIH?! MALU AH SUZY MALU!!!" teriak Suzy sambil berlari menuju Mamanya dan menyuruh Mamanya untuk keluar.

Sedangkan Sehun sediri masih bingung dengan keadaannya, yang tiba tiba pipi dan mukanya rasanya panas sekali. Dengan jantung yang degeun degeun tidak seperti biasanya. Ah~ ini persis saat ia bertemu dengan Raisa,














Dalam mimpi basahnya.


***

Setelah mengantarkan Jiyo sekolah, Suzy tidak langsung pulang. Karena jam delapan nanti dia ada kelas. Dan haram hukumnya kalau bolos.

Ia sudah sering bolos. Bahkan jatah bolosnya sudah ia gunakan semaksimal mungkin.

(jangan di contoh, disini yang begini cukup aku seorang saja wqwqwq)

Suzy melihat jam berkalop coklat di pergelangan tangan kirinya. Ah, masih jam tujuh. Berarti masih sejam lagi. Akhirnya Suzy memutuskan untuk makan bubur ayam di bundaran dekat sekolahannya Jiyo.

Padahal ia tadi sudah sarapan nasi goreng Mama. Tapi, dia masih lapar. Kalau di pikir pikir lagi, ia jadi gampang lapar saat ini. Seperti bulan merah akan segera menyapanya.

"Mas, buburnya satu sama teh angetnya satu ya? Dimakan sini." ucap Suzy ke si penjual yang lagi tabur tabur beberapa toping bubur ayam.

"Suzy!!! Duduk sini!!!"

Suzy rasanya ingin balik kerumah saja saat tahu siapa gerangan yang memanggilnya dan menepuk nepuk kursi kosong di sampingnya. Dia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah manusia bernama Sehun.

Gila. Sehun terlihat begitu tampan dengan beberapa bulir keringat yang ada di pelipis cowok itu. Belum lagi dengan baju yang terlihat lepek, basah akan keringat. Sexy, sungguh. Gak bo.ong.

Pasti bau, mambu. Batin Suzy lalu mengernyit, ketika mengingat bau badannya yang begitu dahsyat setelah berolah raga.

"Bengong aja sih! Sini duduk!" Sehun sekarang malah berdiri dan jalan mendekat kearah Suzy.

"Eh! Eh! Gak usah! Gue duduk disini aja." ucap Suzy yang langsung duduk di kursi yang ada di sebelahnya.

Bukan Sehun orangnya kalau cowok itu nurut dengan omongan Suzy. Jelas, cowok itu meraih lengan Suzy dan mengajak gadis itu untuk duduk di sebelahnya.

Dan yang paling Suzy suka di saat yang seperti ini adalah, tidak ada bau keringat ataupun bau macam kaos kaki yang sebulan tidak tercuci. Sehun malah tercium seperti parfum laundry, ah begitu menyegarkan dan sangat maskulin saat bercampur dengan keringat. Tentu saja membuat Suzy mabuk kepayang dan di buat ketagihan.

(oke, parfum laundry ada yang kek gitu ada juga yang tambah bikin kecut. Muehehehe)

"Udah, disuruh duduk disini aja susah lo."

Suzy hanya bisa nyengir. Dirinya tidak bisa berkata-kata, bung. Rasanya wangi Sehun menyumbat pita suaranya.

"Lo sering makan bubur disini?" tanya Sehun yang saat ini menyruput teh panasnya yang sedikit mengepulkan asap.

Suzy menganggukkan kepalanya. "Sering, sama gio." ceplosnya tanpa.sadar.

Sehun menghela napas. "Sejauh apa hubungan lo sama gio?"

"Rahasia."

"Cerita elah, Zy!"

Suzy menolehkan kepalanya dan mengernyitkan dahi. kenapa Sehun ingin tahu kehidupannya? Ketemu berapa perkara sampai Sehun punya hak?

RecallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang