k. tabrakan

519 122 20
                                    

Saat ini Suzy tengah berperang melawan adiknya bermain pes. Cewek itu gila-gila'an. Bahkan mainnyapun ugal-ugalan, dengan tawa yang membeludak layaknya orang gila beneran. Bahkan, Suzy juga melupakan Jeno yang tengah menatap cewek itu dengan penuh rasa bingung.

Setelah mendapatkan tiga pesan dari Dikta, Suzy langsung melempar ponselnya dan berlari menuju ke tempat dimana adiknya berada.

Dengan muka merah, dan mata yang melotot. Suzy langsung merebut stick ps yang di pegang Jeno dan mengambil alih kendali dari stick ps itu.

"MAMPUS LO MAMPUS!!!!!!" teriak Suzy begitu kencang ketika melihat pemain Jiyo ada yang jatuh tersungkur.

"KAKAK KENAPA SIH?!" Jiyo yang sepertinya sudah tidak tahan dengan kelakuan kakaknya akhirnya mulai bersuara dan tentu saja, dia juga langsung mematikan televisi.

"Jiyooooooooooo." dengan tidak jelasnya, Suzy langsung memeluk Jiyo.

Jiyo hanya menghela napas dan juga memutar bola matanya. Ia yakin, kalau kakaknya sedang baper karena cowok. Yakin, Jiyo berani bersumpah.

***

Tidak sengaja, pagi ini Suzy mendengar suara radio yang di putar oleh sang Mama. Dan lagu yang Suzy dengar saat ini adalah Galih dan Ratna.

Gila, pikirnya. Kenapa? Karena ia tidak menyangka kalau ada lagu dengan judul yang seperti itu, maksudnya seperti mendoakan kedua orang bernama Galih dan Ranta itu agar bersatu.

Kepala Suzy menggeleng.

"Kamu kenapa, kak?" tanya Papa Jisung yang asik oles-oles selai kacang untuk Jiyo.

Suzy yang lagi asik dengerin lagu yang berjudul galih dan ratna itu menolehkan kepalanya ketika sang Papa bertanya.

"Gak apa-apa kok, pa."

"Kok, kakak tadi ngangguk-ngangguk? Lagi bicara sama jin ya?" tanya Papa yang langsung menghentikan aksi oles selainya.

Suzy dan Jiyo yang duduk di sebelah kakaknya itu langsung menatap kepada sang Papa. Lalu keduanya saling bertukar pandang. Entah kenapa Papanya selalu seperti itu, suka banget ngomongin apa itu jin, siluman, atau yang sejenisnya.

Dan untungnya Suzy sama Jiyo juga sudah hafal dengan Papanya yang mengaku sebagai penggemar berat dari Ki Prana Lewu.

Mengingat dengan apa yang di sukai Papanya, membuat bulu kuduk kedua bersaudara itu berdiri semua.

"Pa, Jiyo berangkat dulu. Ayo kak!!" Jiyo langsung berdiri dari duduknya.

"Eh, makan dulu sayang." Mama yang sedang berada di dapur berteriak.

Suzy yang sadar dengan maksud dari kode yang di berikan adiknya, langsung saja berdiri dan pamit kepada kedua orang tuanya.

Ketika keluar dari rumah, kedua putra dan putri dari Bapak Jisung itu menghembuskan napas lega. Lega, karena mereka berdua saat ini tidak perlu berbicara banyak tentang dunia mahluk halus. Dimana, kedua orang itu sama takutnya bila mendengar cerita-cerita semacam itu, entah itu saat pagi-pagi, siang hari, ataupun menjelang malam. Rasanya, masih takut.

"Papa kenapa sih?! Hih!!!" ucap Jiyo sembari kakinya berjalan dengan sebal, menuju mobil.

"Pulang-pulang ngomongin jin!" lanjutnya.

"Haduh gak tau. Mumpung masih pagi, mending kita makan nasi kuning di jalan pk bangsa aja. Kakak laper."

"Hhhh." Jiyo mendengus.









***






Jalan sudah mulai meramai dengan berbagai kendaraan yang datang memenuhi, begitu juga dengan teriakan klakson yang bergema begitu merdu ketika berubahnya warna merah ke warna hijau.

Suzy hanya menikmati, ia tidak tergesa. Lagi pula hari ini ia tidak ada kelas. Jadi, terjebak macetpun tidak masalah.

Tiiiinnnnnn

Braaaaakkkkk

Astaga. Suzy kaget bukan main, saat mobil jeep hitam di depannya itu menabrak sesuatu.

Reflek, Suzy langsung meminggirkan mobilnya dan melihat apa yang terjadi di depannya saat ini.

Disebelah sana, terkapar seorang anak dengan seragam pramuka, dan juga sepeda yang sudah terpental tidak cukup jauh. Si penabrak, langsung turun dari mobil dan panik bukan main saat mendapati darah yang menggenang di bagian belakang kepala anak itu.

Suzy berlari, meskipun dirinya juga cukup takut dengan yang namanya darah. Tapi, ia tidak bisa membiarkan ada orang yang membutuhkan di biarkan saja.

Sebenarnya, dalam benak Suzy ada sesuatu yang mengganjal. Kenapa tidak ada orang yang menghentikan mobilnya dan turun membantu? Apakah kesadaran saat ini sudah mulai berkurang?

"Lebih baik kita panggil ambulance!!!" panik Suzy. Ia semakin panik ketika melihat tangan sang penabrak bergetar dengan darah segar yang berbercak di sana.

Si penabrak menolehkan kepalanya dengan pelan, "to-long." ucapnya lirih, suara cowok itupun bergetar.

"DIKTA?!!!" teriak Suzy begitu kencang ketika melihat penuh wajah si penabrak.

Dan asal kalian tahu. Saat ini Dikta menangis dengan tubuh yang bergetar hebat.

Tidak ada senyuman, tidak ada gigi yang menyilaukan. Cowok yang katanya tidak pernah sedih itu, saat ini terlihat sangat ketakutan di depan Suzy.









Kalau aku update semingyu sekali ada yang keberatan gak? Atau dua mingyu gitu? Aku pengen kelarin ff ini soalnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kalau aku update semingyu sekali ada yang keberatan gak? Atau dua mingyu gitu? Aku pengen kelarin ff ini soalnya. Muenmhehehehe

RecallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang