Chapter 10: Munculnya Ksatria Kegelapan

74 11 2

Matahari kembali menyapa hangat alam semesta dan isinya. Hari telah beranjak pagi. Merpati jelmaan Thor mengetuk-ngetuk jendela kamar Riki dengan paruhnya yang kuat. Riki terbangun di tengah meditasi bersama Om Dony. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya setelah melihat sebelah tangan sang paman tidak utuh seperti yang biasa dilihatnya. Tangan itu terputus di pergelangannya, sama dengan tangan si ksatria kegelapan. Om Dony membuka kelopak matanya menatap Riki tajam. Riki terlonjak berdiri. Ia sangat terkejut melihat kelebat dalam bola mata pamannya.

“Se… Sebenarnya siapa elo? Elo bukan Om Dony!” ucap Riki sedikit terbata.

Om Dony bangkit berdiri. “Gue Om elo, Rik!” langkahnya mendekati Riki.

Serta-merta Riki berteriak, “Bukan! Elo bukan Om Dony!”

“Gimana elo bisa tahu kalo gue bukan om elo?” Om Dony berusaha mengambil batu emerald di tangan Riki.

“Ksatria bintang nggak ada yang punya mata berkelebat aneh kaya elo!” ungkap Riki lantang melangkah mundur perlahan.

“Anak manis, serahkan batu hijau itu padaku! Aku janji akan menyerahkan ayahmu padamu setelah kau menyerahkan batu itu padaku. Kamu sangat merindukannya, bukan?” tiba-tiba saja om Dony menunjukkan wujud aslinya. Dia adalah Darkus! Baju zirah hitam membungkus sekujur tubuhnya.

Riki berusaha menjauh darinya. Namun gerakannya lambat. Darkus berhasil menahan pergerakan tangannya yang berusaha menyembunyikan batu pusaka itu darinya. Riki meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Darkus. Akan tetapi tangan Darkus yang buntung begitu kuat memelintir tangan Riki di balik punggungnya.

“Lepaskan!” pintanya setengah membentak.

“Di mana? Di mana batu itu? Bertahun-tahun aku menyamar sebagai Dony agar aku berhasil merebut batu itu darimu. Tetapi setiap kali aku akan berhasil mengambilnya, batu itu selalu menghilang!” tindakan Darkus semakin kasar. Seisi kamar Riki diobrak-abrik hingga menimbulkan kegaduhan.

Pintu kamar mendadak terbuka. Bunda Marina muncul di balik pintu seraya memekik terkejut. “Ada apa ini? Astaga, siapa kau?” sesaat setelah melontarkan pertanyaan-pertanyaannya, Bunda Marina langsung jatuh pingsan karena sangat takut melihat wajah Darkus yang mengerikan.

Darkus menyeringai tajam. “Dia pasti sangat ketakutan, karena aku selalu menghantuinya melalui mimpi-mimpi buruk yang kukirim!” ditariknya rambut Bunda Marina hingga kepala sang bunda terangkat ke atas.

“Jangan kau apa-apakan bundaku!” sentak Riki menerjang tubuh Darkus. Keberanian menyelimuti jiwanya.

“Bukankah kau bilang bundamu yang sebenarnya adalah wanita yang tinggal di rumah seberang?”

“Haruskah ada alasan untuk menolong orang lain? Manusia diciptakan memiliki hati. Dengan hati, manusia bertindak untuk saling menolong dalam berbuat kebaikan!” cetus Riki menonjok wajah si ksatria kegelapan. 

Keduanya berguling-guling di lantai baku hantam. Meski Riki tidak mengenakan jubahnya, Riki berusaha mengeluarkan kekuatan yang dimilikinya. Thor berhasil memecahkan kaca jendela dan terbang masuk ke dalam ruangan. Pada saat itu pula, Theodore muncul di hadapan mereka. “Apakah ini pertempuran akhir? Hey, kau bahkan belum sempat mengajak para ksatria bintang lainnya bertempur!” serunya pada Darkus.

Darkus tak menghiraukan ucapannya. “Mengapa pertarungannya terjadi di sini? Sebaiknya kita kembali ke dunia mimpi!” entah serius entah tidak kata-kata yang terlontar dari mulut peri sibar-sibar itu.

“Sebaiknya kau simpan kata-katamu itu! Tidak bisakah kau membantuku melawannya?” Riki sangat kewalahan menghadapi Darkus hanya dengan tangan kosong.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!