Chapter 13: Istana Kegelapan

66 11 0

Riki segera mengambil alih perhatian agar para ksatria bintang menyadari tugasnya. Semua berbaris merapat. Kain-kain penutup punggung mereka ditarik bersamaan. Dari balik punggung, tiba-tiba saja muncul sepasang sayap putih menyerupai sayap elang yang membawa mereka terbang mengudara. Perjalanan kembali dilanjutkan. Theodore berada di paling depan menunjukkan arah. Badudu dan Putri Gardenia menunggangi Thor dan Zid. Mereka mengikuti di paling belakang seraya mengawasi keadaan.
Sebenarnya Alan sangat ingin memanggil Leonix—singa terbang kesayangannya—agar ia dapat menungganginya dan tidak akan kelelahan. Akan tetapi sembilan tahun tidak berada di dunia mimpi membuatnya ingin melatih otot tubuhnya yang sudah lama tidak terlatih. Bersama Nia, Loyd, dan Viral, mereka berempat terbang berkejar-kejaran di udara. Sayap-sayap mereka mengepak sangat kuat dan indah. Tak hanya sepasang sayap yang membantu mereka terbang. Riki dan Rhean bahkan memamerkan sepatu roket mereka dengan meluncur di udara sambil jungkir balik. Tidak ada ketegangan akan peperangan yang mereka rasakan. Semua tampak ceria dan bahagia. 
Bukit-bukit terjal, lembah-lembah hijau, tangga-tangga kaki langit, ombak laut di bawah pulau-pulau melayang yang menderu kencang dengan air berwarna jingga kemerah-merahan, hujan salju emas dan perak, pelangi bergelombang seperti aurora mewarnai perjalanan mereka sebelum semuanya kembali berubah menjadi gelap seperti perjalanan Riki saat keluar meninggalkan istana. Ia teringat akan pesan ibunya, Ratu Florina, sesaat sebelum keberangkatannya: bila ia melihat terdapat semak kristal, ia dapat kembali ke istana. Persis di penghujung jalan yang sedang mereka lalui sebelum memasuki wilayah yang sangat gelap, terdapat sebuah semak kristal yang menjulang tinggi. Sayap-sayap Riki terhenti dan menurunkan tubuhnya ke tanah. Tatapan Riki terfokus pada semak kristal yang tadi dilihatnya.
Tangan Theodore menghalangi jalannya. “Kau tidak boleh kembali ke istana!” cegahnya.
“Ada apa?” pikir para ksatria bintang lainnya.
“Aku hanya ingin melihat keadaan bunda Ratu!” ucap Riki pelan.
“Tapi jangan lewat semak kristal itu!” Theodore terus menghalanginya.
Riki memberi isyarat padanya bahwa ia hanya ingin memastikan keadaan Ratu Florina baik-baik saja. Tapi Theodore sama sekali tak mengizinkan. Raut wajah Theodore seakan sedang meyakinkannya bahwa sang ratu dalam keadaan baik-baik saja. Kendati demikian, Riki merasa sesuatu tampak seperti sedang disembunyikan darinya. Bagaimana pun Riki tetap menurut. Perjalanan terus berlanjut.
Wilayah yang mereka masuki telah berubah sepenuhnya menjadi gelap. Mereka telah memasuki wilayah kekuasaan Darkus yang sangat terlarang bagi penduduk dunia mimpi. Di sinilah sebenarnya mimpi-mimpi buruk diciptakan.
“Astaga, ini jauh lebih menakutkan daripada kuburan!” desis Loyd pelan.
“Apa kau takut, Loyd?” Viral menggenggam tangannya agar mereka tak tercerai-berai. Gadis yang amat dicintainya itu menggeleng.
Batu-batu pusaka milik para ksatria bintang berpendar memancarkan cahaya menerangi jalan. Zid dan Thor mengeluarkan cahaya melalui tanduk yang mereka miliki. Semak-semak kristal bertebaran, jauh lebih banyak daripada yang pernah Riki lihat sebelumnya. Lingkaran-lingkaran spiral berputar-putar di udara bergelombang memusingkan mata. “Hati-hati! Itulah jurang kematian, jangan sampai mata kalian terfokus melihatnya karena tubuh kalian dapat terseret masuk ke dalamnya!” imbau Theodore tegas.
“Seperti yang pernah kualami dulu!” desis Alan mengenang riwayatnya.
Lorong spiral itu memang hanya terlihat seperti lorong biasa. Namun begitu memasukinya akan sama seperti jatuh ke dalam jurang yang amat curam dan tinggi. Entah bagaimana Darkus menciptakannya sehingga jurang kematian itu bisa menjadi pembatas antara dunia mimpi dengan dunia kegelapan. Padahal dulu dunia kegelapan adalah dunia yang sangat terang dan merupakan bagian dari dunia mimpi di mana terdapat banyak sekali tokoh dongeng di dalamnya. Masih terekam dengan sangat jelas dalam ingatannya, ketika ia kecil sering bermain bersama Riki dan juga teman-teman lainnya mengunjungi para tokoh dongeng kesukaannya. Aargh, kenangan-kenangan tersebut membuatnya semakin marah kepada Darkus.
Suasana angker dan mistis sangat kental terasa. Atmosfer wilayah yang mereka lalui ribuan kali menakutkan dari rasa takut yang pernah mereka alami meskipun di sana sama sekali tidak ada tengkorak, mayat, hantu, iblis, zombi, dan lain sebagainya. Sejak memasuki wilayah itu tubuh Rhean tak henti bergidik. Andai saja batu Safir yang dimilikinya tidak memendarkan cahayanya, boleh jadi ia sudah pingsan saat ini.
Tiba-tiba saja Loyd memekik. “Astaga! Kita harus menyelamatkan Hana!” kepalanya mendadak kesakitan. Viral berusaha menenangkannya.
“Kita harus menolong Hana, Viral! Dia terseret ke dalam jurang kematian!” air mata Loyd menetes. Kenangan terakhirnya berjuang bersama Hana saat penyerangan Darkus sembilan tahun lalu kembali tertayang di kepalanya.
“Tapi di sini ada banyak sekali lorong. Em, maksudku jurang lorong itu! Kita tidak tahu Hana berada di lorong yang mana!” Viral menggenggam tangannya.
Nia, Alan, dan Riki mencoba mencari keberadaan Hana, salah satu teman mereka sesama ksatria bintang, melalui radar yang terdapat pada kaca pelindung mata. Nihil. Tak ada rekaman jejak yang berhasil mereka lacak. Callista meyakinkan apa yang dikhawatirkan oleh Loyd sudah lama sekali terjadi. Besar kemungkinan Hana sudah mati. Mendengar apa yang diutarakan olehnya malah membuat Loyd semakin bersedih. Riki menduga jangan-jangan semak kristal yang tadi sempat ingin dimasukinya merupakan kuburan Hana. Peri sibar-sibar itu sengaja mencegahnya masuk ke dalam sana agar para ksatria bintang tidak terpukul oleh kematian teman mereka.
Uurgh! Riki semakin geram. Tekadnya untuk menghajar Darkus semakin besar.
Perjalanan mereka terhenti. Badai tornado yang maha dahsyat datang menghadang dan bersiap menelan mereka bulat-bulat. Bukan satu atau pun dua jumlahnya. Melainkan tiga. Ya, ada tiga ribu tornado yang bersiap menjemput mereka ke peristirahatan terakhir. Rhean membelalak tak percaya. Tornado-tornado itu terus berputar melewati mereka. Mereka terkepung!
Sebuah batu terbang melayang-layang di atas mereka. Tidak! Kali ini jauh lebih banyak. Ribuan bahkan jutaan. Sementara permukaan tanah di bawah mereka mendadak berubah menjadi lumpur panas bergejolak menenggelamkan semak-semak kristal yang tadi mereka lihat. Dari atas batu yang melayang-layang di angkasa muncul para prajurit kegelapan dengan jubah berbeda dengan yang sebelumnya.
Nia begitu panik. “Bagaimana ini Riki? Bagaimana ini Rhean?” tangannya mencengkeram lengan Riki amat erat. Rhean pun gemetar ketakutan.
Theodore memberikan peringatan agar jangan sampai mencium uap yang menguar dari lumpur di bawah mereka. Uap tersebut dapat mengakibatkan dehidrasi yang sangat akut dan juga halusinasi. Ini bukan hanya ibarat memakan buah si malakama, atau pun keluar dari mulut buaya lalu masuk ke kandang harimau. Ini jauh lebih buruk dari semuanya. Mereka tak bisa berbuat apa-apa.
“Itu bukan lumpur Lapindo, kan?” kerongkongan Viral tercekat.
Callista berteriak lantang. “Darkus! Kuakui kepandaian ilmu sihirmu sangat luar biasa. Keluarlah hadapi kami! Jangan bermain kucing-kucingan seperti ini!”
Tepat setelah Callista menyerukan tantangannya, batu-batu melayang di atas mereka mendadak menyala terang mengeluarkan kobaran api. Para prajurit kegelapan bersalto dan berguling-guling di udara seraya melemparkan senjata mereka. Bukan cakram logam pisau bermata dua beracun seperti sebelumnya. Melainkan debu-debu halus yang dapat mengeluarkan gas beracun bila bereaksi dengan lumpur panas dibawah mereka.
“Hati-hati. Debu-debu yang mereka lempar mengandung gas cloro floro carbon!” Viral berhasil memindai data debu yang dilemparkan para prajurit kegelapan. Gas CFC (Cloro Floro Carbon) memang sangat berbahaya karena dapat menimbulkan hujan asam yang bersifat merusak alam.
Tawa tergelak membahana di angkasa. Semua orang tahu itu adalah suara Darkus. “Bagaimana dunia kegelapan tidak terlalu gelap, bukan? Banyak api di sekeliling kalian!” suara itu kembali terbahak.
Riki menggemertakkan rahangnya. Gigi-giginya bergemeletuk sangat geram. Sudah habis kesabarannya menghadapi sang ksatria kegelapan. Segera ia mengomando teman-temannya untuk kembali membentuk formasi tujuh. Tameng raksasa menaungi para ksatria bintang. Batu-batu pusaka yang mereka miliki tertarik satu sama lain, berpendar menghasilkan cahaya yang sangat menyilaukan.
Serangan bertubi-tubi para prajurit kegelapan kian gencar. Tak hanya debu yang mereka keluarkan, pergelangan tangan mereka telah dipersenjatai laser mematikan bila menghunjam jantung. Tak ayal ketujuh ksatria bintang kelimpungan menghadapi serangan mereka. Andai Putri Garunia saat ini ada bersama mereka, mungkin mereka bisa mengimbangi kekuatan yang dimiliki para prajurit berjubah gelap itu.
Belum sempat memetik senar-senar harpa, sayap Nia tertembak tepat di pangkalnya hingga membuat kedua sayapnya terlepas dari punggungnya. Nia terjatuh berguling-guling. “Aaa… Tidaaak!” teriaknya begitu takut melihat lumpur panas di bawahnya. Tangannya segera membekap hidung dan mulutnya untuk tidak mencium aroma uap yang menguar dari dalam lumpur. Kalau Putri Gardenia tidak segera mengerahkan Zid untuk menolongnya, mungkin Nia sudah hancur menjadi abu. Gadis lugu itu segera duduk dibonceng Putri Gardenia di atas tunggangan Zid. Punggungnya terasa sangat sakit setelah terkena tembakan laser.
“Kurang ajar, kalian semua!” pekiknya kesal kepada para prajurit kegelapan.
Loyd sibuk mengalkulasi kekuatan yang dimiliki prajurit kegelapan, senjata andalan yang dimiliki mereka, kekuatan lumpur di bawah mereka, kecepatan tornado yang mengelilingi mereka, dan panas api dari batu-batu yang melayang di atas mereka. Sementara Viral berusaha membanting setiap batu api ke arah tornado yang bersiap menelan mereka dengan rantai halilintarnya.
Rhean membidikkan panahnya ke berbagai penjuru. Sejumlah prajurit kegelapan yang bersalto di udara terjatuh ke dalam lumpur setelah terkena panah yang dilontarkannya. Benar saja, para prajurit itu langsung berubah menjadi abu sesaat setelah tercebur ke dalam lumpur. Beberapa batu yang terkena panah Rhean pun melebur berkeping-keping terjatuh ke dalam lumpur. Hal serupa terjadi seperti sebelumnya. Nia sangat bersyukur telah diselamatkan oleh Zid dan Putri Gardenia.
“Kau sangat hebat, Rhean!” puji Riki bangga. Sahabatnya itu hanya mengusap hidungnya dengan jempol mendengar pujian dari sang pemimpin.
Gas CFC yang terkandung di dalam debu serangan prajurit kegelapan berhasil dinetralisir oleh Putri Gardenia melalui gembung-gelembung buah miliknya. Alan dan Badudu terus berkelit menghindari tornado yang akan menggulung mereka. Tidak jauh dari posisi mereka berdua, Callista berusaha mengeluarkan berbagai senjata dari dalam kantung ajaibnya. Salah seorang prajurit kegelapan berhasil merampas kantungnya.
“Baiklah, akan kurapalkan mantra penurun hujan!” hidung Callista berjengit.
BLAAR!
Rapalan mantra yang dibaca Callista sama sekali tidak gagal. Hujan turun begitu deras memadamkan semua batu api yang berkobar. Hal ini membuat Alan dan Badudu dapat bergerak lebih leluasa untuk menghunuskan pedang kepada prajurit kegelapan yang mulai kebingungan karena sebagian besar batu sudah melebur di dalam lumpur. Prajurit yang tadi merampas kantung ajaib Callista kepayahan disergap oleh Theodore. Akhirnya kantung itu kembali ke tangan pemiliknya.
Loyd meloncat ke atas tameng raksasa. “Teman-teman, aku sudah menscan semuanya. Sekarang lihatlah!” serunya seraya memutar-mutar tangannya seperti gerakan taichi. Tak lama kedua tangannya mengeluarkan gelombang emas. Dari gelombang itu keluarlah jutaan batu dan debu berhamburan menyerang para prajurit kegelapan yang masih tersisa. Bedebah-bedebah itu pun tak berdaya menahan serangan Loyd.
“Dari tadi kek! Nia kan gak bakal kehilangan sayap kaya gini!” Nia bersungut geram.
Theodore memberi kode. “Ini semua belum berakhir. Tornado-tornado itu semakin merapat kepada kita!” imbaunya mengarahkan perhatian.
Semua mata terbelalak lebar. Suasana semakin mencekam. Mereka tidak dapat meloloskan diri. Hanya pekikan yang dapat mereka keluarkan. “TIDAAAK!”
Semuanya menjadi sangat gelap. Sunyi. Tak ada yang bersuara.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!