Chapter 1: Dunia Nyata

196 23 15


Sembilan tahun kemudian di kehidupan nyata.

Gedung sekolah itu terlihat sunyi. Para siswa dan siswi berhamburan menuju kelas tepat saat bel masuk berbunyi. Satpam penjaga sekolah telah menutup gerbang dengan rapat. Tak ada celah bagi murid yang datang terlambat untuk masuk. Guru-guru sibuk menyiapkan materi yang akan disampaikan. Seorang anak laki-laki bersama dua orang kawannya belum kunjung masuk ke kelas. Sesuatu telah terjadi.

“Hai ksatria muda, kau dengar suaraku?”

“Siapa itu?” anak lelaki itu mencoba mengamati sekelilingnya.

Tapi tak ada siapa pun di sana selain dia, sahabatnya yang bernama Rhean, dan seorang gadis yang terbaring di atas tempat tidur. Mereka berada dalam sebuah ruang UKS. Bau obat-obatan menguar memenuhi ruangan.

“Aku di sini! Aku datang untuk menjemputmu. Apa kau bisa melihatku?” kembali suara itu mengusik telinganya.

“Siapa kamu?” anak lelaki tadi berputar memanggil dengan suara keras.

“Aku…” suara seorang perempuan terdengar lemah. Tak lama suara itu lalu lenyap.

“Riki, lo kenapa? Lo sakit?” Rhean menyentuh bahunya.

“Akh, enggak!” anak yang bernama Riki itu sedikit terkejut.

“Mimik lo aneh banget. Kaya orang kebingungan. Apa lo juga lagi sakit kaya cewek  yang terkena lemparan bola sama lo tadi?”

Jam pelajaran belum dimulai ketika tadi pagi Riki tiba di sekolah. Sahabat-sahabatnya langsung mengajaknya bermain basket di lapangan. Saat sedang asyik-asyiknya bermain, seorang gadis berlari-lari masuk ke tengah lapangan. Bola yang dioper Riki kepada Rhean tidak sengaja mengenai kepala gadis itu. Gadis itu terjatuh dan hilang kesadaran. Riki dan teman-temannya langsung melarikan gadis itu ke ruang UKS lima menit sebelum bel masuk berbunyi.

“Gue nggak kenapa-napa kok. Kayanya tadi gue ngedenger suara seorang cewek ngomong sama gue. Apa lo juga ngedenger suaranya, Rhean?” Riki mencoba memastikan.

“Suara cewek?” Rhean menautkan kedua alisnya. Dia merasa aneh dengan sikap Riki.  “Maksud lo cewek ini? Dia kan lagi pingsan!” tunjuk Rhean ke tempat tidur.

Riki menyadari di ruangan itu memang tidak ada anak perempuan selain anak yang ditunjuk oleh Rhean. “Tapi ini beneran suara cewek! Katanya dia datang buat ngejemput gue!” mimik Riki begitu serius.

“Ah, lo ini aneh-aneh aja! Di sini nggak ada siapa-siapa selain kita bertiga. Lagian situasi di sekolah kita ini kan aman banget!” Rhean tertawa meledek sambil menggelengkan kepala. “Mungkin itu halusinasi lo aja!” imbuhnya lagi menepuk bahu Riki pelan.

“Halusinasi?” Riki tercenung.

“Atau jangan-jangan itu suara kuntilanak yang mau ngajakin lo balik ke kuburan!” Rhean menakut-nakuti.

“Akh, elo kok percaya sama takhayul?” Riki tidak meyakini perkataan sahabatnya itu. Baginya dunia lain itu mungkin ada. Tetapi setiap makhluk tidak seharusnya saling mengganggu seperti yang dikatakan Rhean. Untuk apa sesosok kuntilanak menculik dirinya? Riki menghela napas perlahan. “Oya, Atlanta sama temen-temen yang lain pada ke mana?” buru-buru ia mengalihkan topik pembicaraan.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!