Chapter 5: Menikahlah Denganku!

70 12 7

Pertengkaran dua orang gadis itu belum juga usai. Putri Garunia masih mempertanyakan mengapa dirinya tidak boleh membawa Riki pergi dan menjadikannya suami. Gadis berambut biru itu sudah tidak waras. Ia sudah tidak sabar ingin menikah dengan remaja menawan itu. Bahkan ia tak peduli kalau pun Riki belum cukup umur untuk menikahinya. Kedua gadis itu bersitatap, bersitegang memperebutkan Riki.

“Katakan padaku, Callista! Mengapa aku tidak boleh menjadikan pemuda ini suamiku? Ayo jawab! Kau menyukainya kan?” Putri Garunia menghardik keras. Sebentar ia tertawa entah untuk apa.

“Itu tidak penting untuk kujawab. Sebaiknya kau serahkan dia padaku, atau aku akan menghabisi seluruh tanaman tak berguna ini?” Callista berancang-ancang merapalkan mantranya lagi.

“Peri bodoh, kau selalu gagal merapal mantra bukan? Apa perlu kuajari merapal mantra yang benar? Katakan, kau ingin aku mengajarimu mantra apa?” ejek Putri Garunia congkak melipat kedua tangannya depan dada. Di atas salah satu sulur ia berdiri. Lalu melompat dan melompat dari satu sulur ke sulur yang lain.

Callista menimbang-nimbang sejenak, “Mm, bagaimana kalau mantra memangkas tanaman?”

“Hmm, itu sih mudah. Kau sebut saja CURACAO!” Putri Garunia menjentikkan jarinya.

Para monster tanaman venus bergidik ketakutan. Betapa Putri Garunia telah lengah mengajari mantra kepada Callista. Tidak seharusnya Putri Garunia mudah dijebak oleh peri cantik itu. Dan sekarang saatnya bagi Callista untuk tertawa, “Terima kasih telah mengajariku mantra itu. Bersiaplah monster-monster jelek!”

“CURACAO! CURACAO! CURACAO!” Callista menjentikkan jarinya mengikuti petunjuk Putri Garunia.

Para monster tanaman venus raksasa sekonyong-konyongnya berlari mencabuti akar mereka dari dalam tanah. Mereka takut terpangkas karena mantra yang dibacakan oleh Callista. Sebagian dari mereka tak dapat melarikan diri lagi karena sudah terpangkas lebih dulu oleh ajian mantra yang dibacakan peri cantik itu. Pada akhirnya tanaman-tanaman monster yang terpangkas itu mati begitu saja.

“Kurang ajar, apa yang kau lakukan terhadap tanamanku? Kau tahu, mereka adalah prajuritku yang setia!” gerutu Putri Garunia sangat kesal.

Callista pura-pura tidak mendengar. Baginya negeri bunga akan semakin hancur bila Putri Garunia yang memimpin. Tapi itu bukan pula berarti kalau ia adalah pendukung Putri Gardenia. Kedua putri negeri bunga itu sama-sama membawa kehancuran bagi masa depan negeri bunga yang dulu terkenal indah di seluruh dunia mimpi.

“Hey, peri yang lupa daratan. Kau lupa ya, kalau kau terlahir di negeri ini? Jadi, kau adalah pengkhianat sejati negeri ini!” Putri Garunia mengayunkan tangannya. Pancaran cahaya berwarna-warni menggulung kepalan tangannya. “Sekarang kau rasakan racun mematikan dari ratusan bunga berbahaya yang kutanam di sini!”

“HEEYYAAAH!” Putri Garunia mulai melakukan serangannya.

Callista berusaha menghindari serangan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh Putri Garunia. Apa yang dikatakan Putri Garunia baginya itu salah. Ia tidak pernah lupa kalau dirinya dilahirkan di negeri ini. Ia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Maka dari itu ia memutuskan untuk menjadi pengikut setia kakak tertua sang putri.

“Terimalah seranganku! HEEYYAAAH!” Putri Garunia benar-benar marah.

BLAAR! BLAAR! BLAAR!

Percikan api menyambar di langit. Untunglah Callista selalu berhasil menghindarinya. Dengan kedua sayapnya yang lincah, Callista menari-nari di angkasa seakan mengejek sang putri yang sedang mengamuk.

TING!

BYUUUUR!

Callista sempurna mendatangkan banjir bandang sekali lagi dan memadamkan api seketika. Bahkan Putri Garunia menjadi basah kuyup karenanya. “Ups, Tuan Putri belum mandi kan? Nikmatilah air bah yang sengaja kudatangkan khusus dari dunia nyata! Tapi maaf kalau seumpama air itu telah tercampur dengan air jamban.” Callista tergelitik membuat Putri Garunia semakin murka. “Maaf, aku hanya bercanda!” desis Callista.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!