Chapter 7: Kau Begitu Menggemaskan

69 13 3

Selaksa cahaya mentari membungkus kota. Suhu udara sore itu panas menyengat. Riki menggeser pintu pagar rumahnya dengan sedikit letih yang tergurat jelas di wajahnya. Seseorang sedang menantikan kepulangannya di teras rumah. Seorang pemuda yang usianya terpaut tiga setengah tahun lebih tua darinya. Pemuda itu mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek abu-abu, bersantai membaca tabloid otomotif sambil menikmati secangkir kopi hangat.

“Sore Om,” sapa Riki kepada pemuda itu. Mencium tangannya sopan.

“Sore, Rik. Sudah pulang?” balasnya melipat tabloid yang sedang dibacanya. Ia adalah Om Dony, adik bunda yang sedang menikmati liburan kuliahnya.

“Sebenarnya Om lagi baca koran atau jual tampang biar cewek yang lewat  pada naksir sama Om?” Riki duduk di sampingnya melepas sepatu dan kaus kaki yang dipakainya.

Mendengar sindiran keponakannya, Om Dony nyengir sekilas. “Lo tuh ya, tahu aja gelagat gue!” diusapnya wajah Riki cepat. Riki tertawa meledek, “lha Om baca koran aja kebalik. Ketahuan banget ada hal lain yang lagi dikerjain sama Om!”

“Gue emang sengaja nungguin lo dari tadi!” ungkap sang paman jujur. Om Dony terus melirik ke arahnya. “Rik, gue mau nanya sesuatu sama lo!” ucapnya ragu-ragu.

Riki mempersilakannya untuk bertanya.

“Gue ada perlu sama elo, tapi kita ngomongnya di kamar aja ya!” Om Dony memang terbiasa menyebut gue-elo saat berbincang dengan Riki. Keakraban mereka tidak hanya sebatas hubungan antara paman dan keponakannya. Lebih dari itu mereka sudah seperti dua orang sahabat yang sangat dekat. Karena usia keduanya tidak terpaut jauh, banyak orang yang menyangka kalau mereka adalah pasangan kakak-beradik.

Semasa kecilnya Om Dony pernah tinggal menumpang bersama keluarga Riki. Ke mana-mana mereka selalu bersama, tidak dapat dipisahkan. Semua rahasia Riki diketahui Om Dony sepenuhnya. Begitu pula sebaliknya Riki selalu mengetahui semua permasalahan yang dialami omnya. Mulai dari masalah perkuliahan, keluarga, hingga soal hubungan asmaranya. Bagi mereka tidak ada yang perlu ditutup-tutupi di antara mereka berdua. Dan mereka dapat menjaga rahasia-rahasia mereka satu sama lain.

“Rik, elo masih nyimpen batu hijau itu kan?” Om Dony menggeledah kantung celana Riki. Riki mengangkat kedua tangannya membiarkan omnya mencari sesuatu yang diinginkannya. Nihil. Batu hijau itu tidak ada di sana.

“Batu itu emang aneh. Sering menghilang secara tiba-tiba!” cetus Riki merebahkan diri di atas kursi.

Seekor merpati peliharaan Riki terbang merendah masuk ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka. Merpati itu hinggap bertengger di bingkai jendela, melenggak-lenggokkan kepalanya. Perhatian Om Dony tersita olehnya.

“Eh, lihat Rik! Ada apa di kakinya?” Om Dony menangkap burung itu. “Sejak kapan lo ngelatih merpati-merpati peliharaan lo ini buat ngirim surat?”

Riki bergegas bangun. Perasaan janggal meliputi pikirannya. Ia memang belum pernah melatih merpati-merpati peliharaannya untuk berkirim surat. Tapi ini sangat menarik perhatiannya. Siapa yang telah berkirim surat padanya? Apakah surat itu sengaja dikirim dari dunia mimpi? Sungguh aneh!

Dibukanya surat yang tergulung dalam potongan sedotan dan terikat pada kaki burung itu dengan rasa tidak sabar. Hanya secarik kertas kecil bertulisan:

‘Sorry, kalo hari ini gue udah bersikap jutek sama lo!’

Tidak ada nama pengirim yang tertera di sana. Inisial pun sama sekali tidak tercantum. Benar-benar membuatnya penasaran. Mungkinkah kertas itu dikirim oleh Callista? Jika itu benar darinya, mengapa sikap Callista di dunia nyata tidak sama dengan di dunia mimpi? Apakah Callista sedang mempermainkannya? Mungkin saja suasana hati Callista di kehidupan nyata sedang tidak baik. Bisa jadi itu dikarenakan ia terlalu lelah bertarung di dunia mimpi. Riki menduga-duga.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!