Chapter 4: Negeri Bunga

80 14 4


Suasana begitu gelap. Pendaran cahaya tanduk Zid kembali memancar menerangi sekitar. Sesuatu yang amat panjang telah melilit tubuh Riki. Benda itu menyerupai sulur-sulur tanaman. Bahkan Zid telah terbelit lebih dulu. Kuda sembrani itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari jeratan sulur-sulur mengerikan itu.

“Monster menyebalkan, kuperintahkan kau untuk melepaskan pemuda itu!” mata Callista melotot tajam.

Bunga-bunga venus raksasa sedang berebut mangsa. Jumlah mereka sangat banyak berkisar antara ratusan hingga ribuan. Beberapa di antara mereka yang melilit tubuh Riki menjulurkan lidahnya kepada Callista seakan mengejek bahwa mereka tidak akan mematuhi perintah peri itu.

“Bleb bleb bleb!” ledek mereka serempak.

“Kalian menantangku ya?” beberapa sulur berusaha melilit Callista. Untunglah tubuhnya lincah sehingga berhasil berkelit dari tangkapan para bunga monster itu. “Hey, dia bukan lalat!”

Zid masih meronta-ronta. Tubuhnya nyaris lemas karena mencium aroma tidak sedap yang dikeluarkan oleh bunga-bunga yang memperebutkannya. “Bersabarlah Zid! Aku pasti akan menyelamatkanmu,” Callista terbang ke sana ke mari. Ia bingung mana dahulu yang harus diselamatkan olehnya. Apakah Riki atau kuda kesayangan sang pangeran.

“Bunga-bunga pengkhianat, kalian tidak pantas hidup di dunia mimpi!”

“Riki, sadarlah! Gue mohon lo jangan pingsan!” Callista berusaha menyadarkan Riki yang tampak tidak berdaya.

Mata Riki belum sepenuhnya terpejam. Ia hanya tidak kuat mencium aroma enzim yang dikeluarkan oleh bunga-bunga venus raksasa itu. “Callista,” ucapnya pelan.

“Lo mesti bertahan!” Callista mulai merapalkan mantra. “Aku perintahkan lepaskan pemuda itu, bunga jelek!”

TING!

Seketika Callista berubah menjadi kodok betina yang mungil. Ia melompat-lompat di bawah kaki para bunga monster, sama seperti yang dilakukannya ketika ia mengabulkan permintaan Riki kemarin. Sontak para bunga venus menyambutnya dengan senang hati. Mereka saling memperebutkannya. Kodok kecil jelmaan Callista tampak sedap di mata mereka untuk dijadikan santapan. Sebuah sulur telah mendekat ke arahnya.

TING!

Callista berubah ke wujud asalnya. “Astaga, gue salah baca mantra!” gerutunya kepada dirinya sendiri. “Sekarang keluarlah halilintar!” Callista memejamkan mata seraya merapal mantranya sekali lagi.

Demi mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Callista, bunga-bunga monster itu bergidik ketakutan. Mereka tidak ingin menjadi hangus disambar halilintar yang dikeluarkan oleh Callista. Akar-akarnya yang tertanam di dalam tanah tercerabut berusaha melarikan diri. Callista mengarahkan tangannya membidik sasaran.

DBBUUUUUR!

Bukannya halilintar yang keluar, malah air bah yang didatangkannya. Bunga-bunga itu basah kuyup tersiram air, banjir kiriman yang didatangkan oleh Callista. Hanya dalam sekejap banjir itu akhirnya surut merembes ke dalam tanah diserap oleh akar-akar serdadu bunga monster.

“Xixixi…” Para monster bunga itu tertawa cekikikan mengejek Callista.

“Air yang lo keluarin bikin aroma busuk ini semakin menyengat. Gue nggak kuat lagi, Callista,” suara Riki terdengar sangat lemah. Matanya mulai terpejam. Riki benar-benar pingsan.

“Riki sadarlah! Gue mohon!” Callista menyesali kesalahannya.

“Hohoho… Rupanya aku kedatangan tamu. Lihat! Siapakah gerangan yang datang?” seorang gadis berambut biru sepanjang pinggang berjalan mendekat. Tubuhnya dilapisi jubah anggun berwarna biru dominan. Baju yang dikenakannya terbuat dari besi kokoh biru silver dengan hiasan bintang emas bersudut enam. Rok yang dipakainya berlipat-lipat berwarna biru menutupi hingga lutut. Kakinya memakai sepatu boot lentur dan panjang berwarna putih setinggi paha. Punggungnya tertutup mantel panjang berwarna putih senada dengan bando bersayap yang dipasangnya di kepala.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!