Chapter 2: Negeri Mimpi

98 16 2

Riki terbangun di suatu tempat yang sama sekali tak dikenalinya. Kabut tipis menghalangi pandangan matanya. Perlahan-lahan setelah suara itu menyapanya, kabut itu tersapu angin dan melayang entah ke mana. Seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Samar. Riki memicingkan matanya. Rasa-rasanya ia mengenali gadis itu. Tapi di mana? Otaknya terus berputar mengingat-ingat apakah ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya. Langkah gadis itu semakin dekat dan semakin jelas.

“Lama sekali kamu datang,” tegur gadis itu dingin.

“Elo… Elo anak yang pingsan tadi pagi kan?” ingatan Riki telah kembali dengan sempurna. Meski baru dua kali melihatnya, Riki hafal setiap lekuk wajah gadis itu. Gadis yang menurutnya cantik seperti bidadari.

Tiba-tiba saja ia terpaku setelah melihat gadis itu berdiri persis di hadapannya dan menggenggam kedua tangannya. Oh, perasaan apakah ini? Belum pernah tangannya dipegang selembut ini. Seakan mati rasa, tubuh Riki terasa kaku dan tak mampu bergerak sama sekali. Apakah waktu telah berhenti? Ataukah jantungnya tak berdetak lagi? Bila ya, apakah saat ini ia sudah mati dan berada di surga? Dan bila tidak, perasaan apakah yang sedang dialaminya sekarang ini? Lidah Riki kelu tak mampu menuangkan kata-kata yang ada di benaknya.

Anak perempuan itu kembali bersuara, ”Namaku Callista.”

Sedetik kemudian Riki terkesiap mendengar suara gadis itu. “Elo bisa Bahasa Indonesia?” Riki tercengang. Seingatnya berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Rhean, gadis itu berasal dari Spanyol.

Callista mengangguk, ”Tentu saja aku bisa. Aku paham berbagai bahasa.”

“Kalo gitu ngomongnya gue-elo aja!” ucap Riki sedikit gugup. Sekali lagi gadis itu mengangguk.

“Eh, ini di mana?” Riki mulai menyadari keadaan di sekelilingnya.

Segala yang dilihat di sekelilingnya jauh berbeda dengan keadaan di kehidupan nyata. Langit begitu merah membara dihiasi awan berarak keperakan. Banyak sekali pulau-pulau melayang seperti dalam film-film fantasi yang sering ditontonnya. Pulau-pulau itu seperti pulau mati karena pepohonan yang ada di sana telah membeku menjadi kristal es. Namun anehnya banyak sekali air terjun yang mengalir dari atas sebuah pulau ke pulau lainnya yang mengapung di bawahnya. Air terjun itu beraneka warna seperti pancuran pelangi. Riki sangat takjub memandangnya.

“Lho, pakaian gue kok jadi aneh begini?” Riki terkesima mengamati bayangan dirinya dalam sebatang kristal es yang berdiri tegak di dekatnya.

Tubuh Riki dibalut sebuah jubah hijau dengan berhiaskan bulan sabit dan bintang di depan dadanya. Jubah yang dikenakannya sangat mirip jubah ninja dengan kain panjang di balik punggungnya. Separuh wajahnya tertutup oleh sebuah topeng kaca menyerupai kaca helm tanpa penutup kepala. Sebuah penutup telinga menyerupai headphone dan sebuah antena pada bagian telinga kanan. Kedua tangannya tertutup rapat oleh sarung tangan putih. Ajaib, meski memakai sarung tangan ia tetap dapat merasakan setiap benda yang disentuhnya. Di bagian punggung tangannya terdapat batu kristal hijau emerald. Sebuah arloji melingkari pergelangan tangan kirinya. Arloji yang berbeda dengan arloji yang biasa dipakainya. Dengan penampilan seperti ini Riki terlihat seperti jagoan superhero yang sering dilihatnya di komik-komik dan serial televisi.

Riki tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa sedang menjadi tokoh jagoan dalam sebuah pertunjukan. Apakah ia sedang mengikuti sebuah karnaval? Pikirnya. Tapi kostum itu terlalu bagus untuk sebuah karnaval. Ia mengira pasti dirinya sedang berada dalam sebuah pertunjukan drama di mana dirinya berperan sebagai tokoh utama. Riki melonjak kegirangan. Sudah lama sekali ia menginginkan dapat bermain dalam sebuah pertunjukan drama dan ia menjadi bintangnya. Lantas ia berlari-lari mengitari Callista.

“Sorry, ini jubah superhero ya?” Riki mematut dirinya di depan bongkahan kristal es. Ia berputar-putar mengamati bayangan dirinya di dalam kristal. Betapa gagahnya dirinya dalam balutan jubah seperti itu hingga nyaris tak mengenali dirinya sendiri. “Gue sekarang jadi jagoan super! Hahaha…” Riki bergaya dengan pongahnya.

Ksatria BintangBaca cerita ini secara GRATIS!